Hal yang Terlupakan dalam MengASIhi

Ma​sih inget banget beberapa waktu lalu saat Anjani vaksin DPT 2, BB Anjani turun. Masih di hijau sih, hanya saja turun. Awalnya saya biasa saja, karena beberapa bulan BB Anjani memang naiknya irit. 

Grafik KMS Anjani

Tapi tiba tiba si bidan bilang, makan yang banyak Bu, Asinya nggak bergizi. Allahu Akbar, rasa hati terpothel pothel. Perasaan makan sudah banyak, nggak milih makanan. Jadi kemarin2 makanku nggak bergizi?? Seketika merutuki yang bilang gitu, heee emangnya aku terlihat seperti yang nggak bisa beli makan bergizi sekedar tempe aja?? Cerita ke teman yang kuliah di pergizian, jawabnya pun sama. Dia bilang kalo konsul ke dokter pun pasti yang diinterogasi tuh ibunya. Aku cerita makan apa aja, eeh malah dibilang menuku menu diet. Padahal nggak ada cita-cita diet sama sekali. Lha wong perut sudah njendil ke mana-mana.

Aku sudah jaga asupan makan. Baca di berbagai artikel, banyakin sayur, apalagi sayur yang pahit dan menu sehat lainnya. Aku menghargai temanku yang memberi saran untuk makan makanan kalori tinggi, seperti ayam, ikan bakar, roti dll . Tapi tetep aku kepikiran, emang bisa ya Asi nggak bergizi? Dan aku menemukan sebuah artikel di instagram.

(Daaaaan gara-gara aku share artikel ini, aku dibilang baper dan nelen mentah2 informasi ? padahal aku sendiri juga lagi nyari info banyak ?)

Oke, langsung doooong malamnya aku konsul ke dokter anak untuk check up BB Anjani sekalian nanya. Alhamdulillah dokter nggak interogasiin macam-macam yang kayak temenku bilang. Dan beliau bilang, nggak ada yang namanya asi nggak bergizi. Itu sudah otomatis dari badan ibu. Luar biasa sekali karunia Tuhan ya, Bu.  BB anak nggak naik pun banyak faktor lain selain Asi. Ternyata anakku ada tongue tie sedikit di tengah-tengah. Nggak panjang, tapi ada dan harus frenotomy. (Next aku bakal cerita tentang frenotomy Anjani di judul lain).

Yang mau saya tuliskan di sini adalah ada hal yang penting yang menurut saya patut digarisbawahi yaitu Asi itu rezeki dari Yang Maha Kuasa melalui malaikat Mikail. Sebanyak apa asupan makanan yang ibu telan, kalo dapatnya segitu ya segitu aja. Mengenai kualitas Asi, toh sudah banyak artikel, penelitian, kalo Asi itu tetap bergizi sekalipun makanan ibu dikit atau banyak bahkan dianggap nggak bergizi sekalipun, karena apa, asi itu buatan Allah, sedangkan susu formula buatan manusia. Siapa yang meragukan kuasa Sang Pencipta???

Aku tidak meragukan kualitas Asi, juga tidak fanatik dengan Asi. Aku bukan pendukung sepenuhnya sufor, tapi kalo butuh banget kenapa enggak? Memang, slogan dan propaganda Asi sudah dimana-mana, Asi adalah terbaik bagi bayi. Tapi nggak seharusnya juga ngejudge yang nggak bisa ngasih asi penuh ke anaknya dengan pandangan sinis, apalagi sampe bilang bayi sufor itu nggak cerdas. Padahal cerdas atau tidak bukan hanya dari asupan Asi saja, tapi dari habit nya, atau faktor lain. 

Aku pernah jadi salah satu ‘korban’ propaganda asi. Saat aku baru melahirkan, asiku memang susah keluar ternyata di putingku ada sumbatan (baca di sini). Aku kekeuh dengan idealismeku untuk lulus Asi 100% dan merasa berdosa ngasih sufor meskipun hanya beberapa CC, padahal anakku dehidrasi saat itu. Hingga sedikit bersitegang dengan orangtua. Dehidrasi anakku tertolong selain dari sufor juga donor asi. Dan tentang asi bergizi atau tidak, Wakil Ketua AIMI mengatakan, 

bagaimanapun Air Susu Ibu (ASI) adalah asupan paling bergizi bagi anak. “Dalam modul pelatihan konselor menyusui 40 jam WHO/UNICEF, juga dijelaskan bahwa ibu yang kurang gizi sekalipun ASInya tetap baik untuk anaknya,”

Aku mengikuti beberapa milis atau akun yang pro Asi banget, dan alhamdulillah lumayan terbantu dengan itu. Mulai dari proses supply and demand, Pijat payudara, pijat oksitosin hingga mengkonsumsi teh pelancar asi. 

Yang ingin aku tuliskan poinnya di sini adalah :

1. Jangan pernah merasa berdosa memberi anak sufor di awal kehidupannya, dalam kondisi tertentu si ibu belum mampu memberi Asinya. Toh sufor sudah banyak melewati penelitian ilmiah, bahkan bertahun-tahun sudah menolong banyak bayi (termasuk bayiku). Mana yang lebih penting : anak sehat atau naikin gengsi hanya ingin memberi Asi eksklusif sampe rela bayi dehidrasi? Kalo bayi sampe meninggal hanya karena ibu naikin gengsinya gimana?

2. Beberapa ibu berlomba memberikan Asix dan melabeli dengan lulus S1, S2 atau S3 hingga membuat yang tak lulus sarjana Asix jadi minder. Asix ini untuk siapa? Kebanggaan ibu atau memang untuk bayi?

3. Banyak ibu berlomba untuk pumping stok Asip, rela beli pumping mahal. Pumping mahal atau murah, hasil Asi ya segitu aja tetep sama. Ini pengalamanku sendiri. Padahal seperti yang aku bilang diatas, sekeras apapun usaha ibu, kalo malaikat Mikail ngasihnya segitu ya sudah. Yang penting ibu happy makan makanan sehat. Ibu happy, bayi happy. 

4. Jangan ngejudge para ibu yang tidak bisa memberi Asix, dan serta merta ngomong Asinya tidak bergizi, endesbre. Lihatlah kondisi psikis ibu. Ibu itu sudah cukup lelah dengan banyaknya kerjaan rumah tangga. PR seorang ibu itu buuaanyaaak. Jangan menambah dengan berbagai kalimat yang bikin mental ibu down. Atau belajarlah jadi ibu dulu.

5. Jangan mentang-mentang sudah sarjana ahli kesehatan/bidan/ahli gizi lalu dengan nada menghina yang konsultasi “Sesembak/seseibu baperan”, ittaqillah.. Hati-hati dengan kata-kata. Nggak semua ibu di dunia ini sempurna. Ada banyak hal yang kadang bisa bikin drop ibu. Karena ibu hanyalah ibu, yang menginginkan terbaik untuk anaknya. Apalagi kalo ada yang konsultasi, memberi saran lalu memaksa saran itu digunakan. Plis, orang konsultasi hanya mencari info, kemudian menimang, lalu memutuskan. Kalo kecewa karena sarannya nggak dipake berarti dirinya nggak ikhlas. Pamrih, mungkin butuh bayaran! ? Belajar koreksi diri sisss.

6. Jangan karena berbeda ibu Asix Vs ibu sufor rasanya seperti ngajak perang dunia 3, dimusuhi, dianggap nista, menganggap anak Asix lebih hebat dan lebih cerdas. Terus yang punya bayi sufor merasa bersalah, berdosa, nggak berguna jadi ibu. Yes, itu realita ibu ibu jaman sekarang.

7. Poin penting di sini adalah, yang dibutuhkan seorang ibu hanyalah kekuatan mental. Ibu hanya butuh kata, Semangat. Rasa semangat dalam mengasuh bayi dan anak-anak. Punya anak itu harusnya bahagia, bukan jadi kayak beban mental karena satu omongan menyakitkan. 

Semangat! Yang penting ibu happy ngebesarin anak. Anak itu anugerah dari Allah. Masak dikasih anugerah terus jadi beban hidup?? Banyak loooh yang masih berusaha ingin punya anak diluar sana. Kalo kata Bensu di instagram nya : Jalani, Nikmati dan Syukuri!

Btw ini nulis setengah curhat ya. Iya soalnya ini realita jaman sekarang. Para ibu seperti terpecah dua kubu, putus silaturahmi hanya karena satu omongan, ujungnya nyinyir ke sana kemari. ??

Be Wise. Belajar dan terus belajar. Jangan lupa libatkan Allah dalam aktivitas kita. Mintalah pertolongan Nya.

Anggi,

Seorang ibu.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.