Balada Salah Jurusan, Menyesal atau Bersyukur?

Mungkin saya termasuk dalam 87% mahasiswa Indonesia yang merasa salah jurusan, seperti pernah tersesat ke hati mantan *eeeeeh. Tapi se-salah-salahnya saya ngambil jurusan, saya pernah mencicipi hasil kerja keras saya sendiri. Semoga cerita saya ini dapat diambil hikmahnya untuk adek-adek atau calon mahasiswa di luar sana agar memantapkan hati untuk memilih jurusan kuliah dan tidak ada penyesalan di belakang.

Saya lahir dan besar di Kota Bontang, Kalimantan Timur, dan mengenyam pendidikan di salah satu sekolah swasta binaan salah satu perusahaan terbesar di Bontang, mulai dari Playgroup, TK sampai SMA. Di SMA saya masuk di jurusan IPS, karena memang saya tidak punya bakat menghitung. Sebelum penjurusan pun diadakan tes bakat dan minat dan memang hasilnya saya cocok di jurusan IPS.

Setelah lulus SMA, babak baru dimulai. Saya mulai bingung mau ambil jurusan apa. Saya memilih jurusan pendidikan bahasa Inggris untuk pilihan pertama dan jurusan pendidikan sejarah di pilihan kedua di Universitas Jember. Kenapa pendidikan? Karena disuruh ortu ! Duh kalau inget pun bikin sesak dada haha. Ortu pingin sekali anaknya bisa ngajar karena keluarga besar ortu kebanyakan bekerja menjadi guru dan dosen, termasuk almarhumah  nenek saya. “Jadi Guru itu ijazahnya enggak bakalan nganggur”, begitu selalu wejangan dari ortu. Dan kenapa di Jember, karena kota itu adalah kota kelahiran kedua orangtua saya. Biar saya tidak ngekos dan bisa tinggal dengan nenek saya (ibu dari bapak saya).

Ujian nasional SNMPTN UNEJ tahun 2009 saya gugur. Saya juga sempat ikut ujian di UM Malang ambil jurusan bimbingan konseling tapi gugur juga. Lalu saya lanjutkan untuk mengambil ujian lokal kalau tidak salah ingat UM Lokal Unej. UM Lokal ini diadakan dua kali setelah ujian nasional saat itu. Saya tetep dong ambil dua jurusan bahasa inggris dan sejarah. Dan ternyata diterima di jurusan pendidikan sejarah! Diyeeeeng! Saya tidak tau harus senang atau sedih saat itu. Lha, milih sendiri kok galau sendiri. Karena saya tidak mau di jurusan pendidikan sejarah, akhirnya saya ikut ujian lokal UM lagi yang kedua, ambil Sastra Indonesia, karena dari jaman SMA saya suka sastra dan baru kepikiran ambil sastra dan sedihnya tidak diterima 🙁

Jadi apa yang saya lakukan? Ya sudah, dengan segala kepasrahan dan keteguhan hati (eaaa….) saya teruskan saja apa yang sudah menjadi suratan takdir saya (ecciciciyee), sudah terlanjur nyebur ya biar basah sekalian. Niat saya hanya mau bikin orangtua saya senang saya bisa kuliah. Kemudian saya disibukkan dengan kegiatan daftar ulang, bayar spp, dan sebagainya.

Apakah selesai sampai situ saja? Oh tentu tidak Rosalinda ! Lanjut masuk kuliah saya masih merasa asing dengan teman-teman saya. Saya masih dalam proses adaptasi dan prosesnya cukup panjang. Saya pernah hampir terikut arus buruk dari lingkungan saya. Bukan, bukan yang kelayapan malam terus nenggak minuman keras. Saya dekat dengan seorang teman perempuan (sebenernya saya tidak mau ingat lagi sih), yang membuat orang beranggapan negatif pada saya, karena saya selalu dianggap sama dengan dia. Teman perempuan saya ini kerap doyan ganti-ganti lanangan. Saya pernah membantunya untuk sementara ngekos di rumah nenek saya, tapi ujungnya ditinggal pacaran dan nggak pulang-pulang! Sebulan ngekos di rumah saya pun tidak ada ucapan terimakasih dengan saya dan nenek saya. Oke, saya putuskan untuk Bhay saja dari dia (sampai sekarang). 

Cukup sampai situ? Belum. Saya terus berganti-ganti konflik dalam circle pertemanan di kampus. Entah kakak tingkat yang sama sekali nggak kayak di FTV, lalu ada seseorang yang sudah saya anggap sahabat malah mencampakkan saya, pokoknya banyak. Saya merasa tidak ada yang menarik dari jurusan saya ini. Apa ya, cowok cakep enggak ada, kakak tingkat kece enggak ada, jurusannya saja sudah pasti banyak orang diluar sana tidak suka, sejarah, apa itu sejarah? Isinya batu bebatuan doang. Itu yang saya rasakan. 

Hari demi hari saya lalui di perkuliahan, ditambah dengan dosen saya yang idealis, ada yang menganggap remeh pada mahasiswa. Nilai IPK pun saya capai dengan ngos-ngosan meskipun hasilnya mentok. Praktek mengajar pun sebenarnya menurut saya, saya ini tidak pernah maksimal dalam mengajar. Saya merasa tidak memiliki bakat dalam berbicara di depan panggung. Menurut saya loh. Saya pernah mengulang di praktek micro teaching, karena hari itu bersamaan dengan jadwal seharusnya menjemput orangtua saya yang datang ke Jember, saya jadi baper terus nangis diam-diam hahaha. Jadwal micro teaching selalu berubah sesuai kehendak dosen, akhirnya saya ngajar sambil mingsek-mingsek. 

Akhirnya sampai lah saya di tingkat akhir, momok bagi mahasiswa, skripsi. Saya mengambil lokasi penelitian di kota Bondowoso, meneliti tentang perkembangan tape. Saya pun harus bolak-balik Jember-Bondowoso untuk mengambil data dan wawancara sumber di sana. Itupun masih drama gaesss. Dosen yang membimbing saya adalah salah satu dosen yang tidak saya mau. Kelar sidang, saat bendel skripsi saya sudah ACC semua siap diedarkan, dosen pembimbing saya yang satu itu awalnya tidak mau tanda tangan karena bagi dia skripsi saya masih kurang baik. Hiks, tidak sadar air mata saya meleleh saat itu wakakak malu kalau diingat.  Namun akhirnya dosen saya menandatangani bendel skripsi saya. Kalau kata teman saya, itu karena air mata buaya saya wakakak. 

Lulus

akhirnya lulus juga

Alhamdulillah saya wisuda dengan gelar S,pd (Sarjana Penuh Derita wakakaka) dan selanjutnya saya tidak tau mau ngapain. Saya sempat menjadi reseller kosmetik di kampus, lumayan untuk nambah uang jajan karena kelar kuliah kelar juga uang jajan dari ortu haha. Saya juga ikut bursa kerja di Jember saat itu sempat ikut tes di bank namun gagal. Ya sudah akhirnya saya putuskan untuk pulang saja ke Bontang, dalam pikiran saya, saya mau nikah aja lah hahaha, padahal waktu itu saya tidak tau akan menikah atau tidak. 

Kembali ke Bontang saya mencoba untuk menjadi pengajar di salah satu bimbel di Bontang, berangkat pagi, siang atau malam saya tekuni. Saya merasa sedikit bahagia bertemu dengan murid-murid saya yang baru, apalagi anak SMA lucu-lucu kalau diajak curhat, baper, dll, “terus nggak belajar bu?” wakakak.

Tak disangka tak dinyana setelah lulus saya bertemu jodoh (bukan dari kalangan pendidik) dan saya menikah setelah beberapa bulan mengajar di bimbel.

Terimakasih GO

Setelah menikah saya masih diberi kesempatan dua bulan mengajar sebagai guru pengganti di salah satu SMP almamater saya menggantikan guru yang naik haji. Meskipun menurut saya masih tidak maksimal, ujungnya saya agak trauma, karena mungkin saya tidak tahan mental berhadapan dengan murid-murid yang menurut saya bandel, bikin saya pusing hahaha, apalagi pernah kecolongan ada murid tengkar di kelas, ceritanya bisa di lihat di : Bully, Nasi Kebully. Mungkin saya tidak siap mengajar karena saya mengajar tidak dengan panduan RPP dan hanya mengandalkan materi langsung dari buku pelajaran. 

Menyesal atau Bersyukur ?

Pilihan ini sangat sulit untuk dipilih. Kalau dibilang menyesal pun tanpa sadar saya akhirnya bisa jalan sampai sejauh ini meskipun banjir air mata dan saya harus tertatih berjalan. Bila berandai-andai sih, andaiiii saya dulu tau dengan passion saya apa, andaiiii dulu informasi tentang perkuliahan sekencang sekarang, mungkin saya bisa maksimal dan senang hati ngejalanin kuliah, dan enggak buang-buang dana orangtua haha.

Tapi yang pasti ada hikmah di balik kisah perkuliahan saya dan itu menjadi pelajaran hidup bagi saya. Mulai dari cerita pertemanan yang buruk, akhirnya saya menemukan teman-teman yang tulus dengan saya, yang mau menerima segala kekurangan saya, saya yang suka baper, kadang-kadang suka ngambek haha. Alhamdulillah saya bertemu mereka di semester akhir saat KK-PPL (praktek ngajar di sekolah). Dan alhamdulillah masih saling kontak sampai sekarang. Ada juga beberapa teman-teman lain yang baik-baik saja sampai sekarang.

kenangan KK PPL 2012

Biarpun saya merasa salah jurusan, tapi 4,5 tahun itu waktu yang berharga untuk saya. Di saat jauh dari orangtua, mental benar-benar ditempa, menurut saya tidak ada hal yang sia-sia. Saya juga tidak pernah menganggap ijazah saya ‘nganggur’ meski tidak lagi bekerja dan berakhir menjadi ibu rumah tangga. Tak ada ilmu yang sia-sia.

Setelah lulus, saya tidak melanjutkan profesi. Beberapa teman melanjutkan profesi dengan mengikuti program SM3T tapi saya tidak karena memang saya tidak tertarik. Sampai saat ini saya masih terus mencari apa passion saya meskipun saya sudah menikah. Banyak impian dan cita-cita yang ingin saya capai bersama suami saya, salah satunya membuka usaha untuk membuka lapangan kerja. Saya juga mencoba peruntungan dengan mengikuti tes CPNS 2018 kemarin meskipun tidak lolos menuju SKB, nilai saya hanya lolos di kumulatif kode P2. Tapi alhamdulillah bukti kalau saya masih mampu. Saya juga bersyukur memiliki partner hidup yang selalu mendukung saya, bahkan mendorong saya untuk selalu berkarya.

Pesan

Pesan saya untuk kalian yang akan atau bahkan yang merasa tersesat seperti saya dan tak tau arah jalan pulang bagai butiran debu. 

Bila sudah terlanjur tersesat…

Buat yang sudah terlanjur tersesat, kemungkinan ada dua pilihan yang harus kamu pilih, mundur untuk kuliah di tempat atau jurusan lain atau maju terus kayak saya 😀 Tapi kalau memang mau pindah harus dipikirkan segala resikonya, faktor biaya dan usia serta kamu harus menyiapkan mental lagi untuk belajar ujian masuk perguruan tinggi. Kamu juga harus berkomitmen pada diri sendiri untuk lulus cepat sesuai umur yang dibutuhkan di lapangan pekerjaan . Biasanya kalau S1 maksimal 23-27 tahun. Ada beberapa teman kuliah saya berhenti di semester awal, langsung banting stir jurusan, alhamdulillah bisa lulus cepat juga. 

Bagi yang ingin maju terus meskipun ‘tersesat’, kamu harus bisa mengembangkan soft skill, atau kemampuan lain agar setelah lulus tidak bingung mau ke mana dan mau apa. Misal kamu punya kemampuan MC, atau punya kemampuan fotografi, atau hal apa aja yang kamu senangi, kamu bisa membuka jasa foto lepas lumayan untuk nambah biaya ngekos, setelah lulus kamu bisa kembangkan sebagai bisnis kamu.

Buat yang akan masuk ke perguruan tinggi

  • Cari informasi sebanyak-banyaknya tentang perkuliahan. Bagaimana outputnya nanti, akan bekerja di bidang apa. Pertimbangkanlah masak-masak itu semua. Informasi zaman sekarang saya kira sudah cepat dan lengkap tidak seperti era saya dulu
  • Memilih jurusan jangan karena disuruh orangtua atau ikut-ikutan teman. Kamu harus sesuaikan dengan minat dan bakat kamu. 
  • Kamu bisa ikut tes minat dan bakat yang sudah banyak diselenggarakan oleh para pakar psikolog, seperti tes Stifin untuk mengetahui di mana jurusan dan pekerjaan yang cocok untuk kamu
  • Kamu juga harus menemukan dan mengembangkan soft skill kamu misal menjahit, make up, berdagang, fotografi, videografi atau apapun yang bisa menjadi nilai plus untuk kamu di samping itu kamu bisa membuka usaha sendiri selepas kuliah. 
  •  Apapun itu yang penting kamu tidak lalai dan lupa untuk terus maju dan kuliah selesai, apalagi kalau bisa bermanfaat untuk orang banyak

Terkadang kisah yang kita lalui memang tak seindah yang kita harapkan, barangkali itu memang takdir terbaik dariNya. Haruskah kita terkungkung dalam kubangan penyesalan terus menerus? Bahkan Allah pun berfirman : 
“Bisa jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan bisa jadi kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu. Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.”(QS. Al Baqarah: 216)

Akan selalu ada hikmah di setiap perjalanan kita. Dan ingatlah apapun yang telah membuatmu kuat hingga saat ini, bukanlah kekuatanmu semata, melainkan perpanjangan doa-doa orangtuamu yang selalu mendoakan dan meminta untuk kebaikan dan keberkahan hidupmu.

Daun yang jatuh tak pernah membenci angin, dia membiarkan dirinya jatuh begitu saja. Tak melawan, mengikhlaskan semuanya. Bahwa hidup harus menerima, penerimaan yang indah. Bahwa hidup harus mengerti, pengertian yang benar. Bahwa hidup harus memahami, pemahaman yang tulus. Tak peduli lewat apa penerimaan, pengertian, pemahaman itu datang. Tak masalah meski lewat kejadian yang sedih dan menyakitkan. Biarkan dia jatuh sebagaimana mestinya. Biarkan angin merengkuhnya, membawa pergi entah kemana.” 
― Tere Liye, Daun Yang Jatuh Tak Pernah Membenci Angin

Anggi,

Bontang, Desember 2018

3 Replies to “Balada Salah Jurusan, Menyesal atau Bersyukur?”

  1. Halo mbak,
    Ceritanya seru mba. Aku anak IPS, kuliah di sastra inggris. Sekarang mah lupa kuliah dulu belajar apa, wakaka.. Pertimbangan ambil jurusan ini karena tidak sanggup menghadapi matematika. Alhamdulillah, keinginan itu terkabul. Ada temanku yang hanya kuliah satu semester karena merasa terpaksa. Dia kuliah karena keinginan ortu. Sayang sih, gak sesuai dengan passion trus anaknya ngambek dan nggak ngapa-ngapain di rumah. Sampai beberapa tahun dia menganggur sebagai bentuk protes kepada ortu.

    1. Wah tosss dulu anak IPS hihii ? walah, gak apa-apa sih kalo masih semester awal trus bisa pindah jurusan. Tapi sayang kalo ngambek sampe nganggur lama gitu. Kalau kebanyakan teman saya putus di tengah jalan memilih nikah dan nggak lanjut.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.