Nikah tapi Nggak Mau Punya Anak

Sadar atau tidak sadar kita tumbuh dalam masyarakat dikotomi. Definisi/arti kata ‘dikotomi’ di Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) adalah pembagian atas dua kelompok yang saling bertentangan. Sejak saya berada dalam fase dewasa dan mengarungi biduk rumah tangga, pertentangan di antara dua kubu terlihat semakin nyata. Mulai dari masalah asi vs sufor, ibu bekerja vs tidak bekerja, vaksin vs non vaksin, dan yang terbaru childhave vs childfree. Dalam tulisan ini saya tidak akan mengunggulkan salah satu kubu atau mengajak perdebatan. Saya hanya akan memberi informasi bahwa ada lho komunitas berpikiran “unik” ini di sekitar kita.

Apa sih Childfree itu?

Childfree adalah sebuah keputusan atau pilihan hidup seseorang atau pasangan untuk tidak memiliki anak, baik itu anak kandung, anak tiri, ataupun anak angkat. Hal itu disebabkan oleh beberapa alasan seperti bumi sudah overpopulasi, ada masalah kesehatan, tidak mau egois menelantarkan anak, takut tidak bisa bertanggungjawab kepada anak, ingin berkarier dulu, dll.

Pertama kali saya mendengar tentang childfree ini dari pemikiran salah satu teman baik saya yang memutuskan untuk tidak memiliki anak telebih dulu setelah menikah. Meskipun dia masih berada di tengah-tengah, nggak anti anak banget tapi juga nggak pro banget. Pemikiran yang unik menurut saya karena di saat orang lain bahkan saya, menikah pingin cepet punya anak, sedangkan dia tidak dengan berbagai pertimbangan.

Kemudian suatu hari saya ‘nyasar’ di postingan instagram salah satu founder Kelascinta.com, Keisavourie, yang memilih untuk childfree bahkan untuk selamanya. Wow takjub dong saya. Koh Kei juga pernah membahas tentang childfree ini di instagramnya dan membahas segala realitanya kalau punya anak. Dan ternyata para penganut childfree ini juga ada komunitasnya. Selain membahas tentang childfree, koh Kei juga sering membahas tentang konflik orang tua dan anak di grup kelas cintanya. Dan isinya beneran nampar banget, jadi refleksi diri buat saya.

Saya mendapati satu artikel di Orami.id, bahwa generasi milenial saat ini mulai berpikir untuk tidak memiliki anak. Mengutip dari orami.id : Menurut data dari Urban Institute, tingkat kelahiran di kalangan perempuan berusia 20-an telah menurun 15 persen antara tahun 2007 dan 2012. Demikian pula penelitian dari Pew yang menemukan jumlah pasangan tanpa anak telah meningkat dua kali lipat sejak 1970, dengan hanya sekitar setengah dari wanita berusia 15-44 di antaranya.

Dalam artikel Tirto.id juga menyebutkan bahwa Tomas Frejka, seorang peneliti dalam risetnya yang berjudul “Childlessness in the United States” menyatakan bahwa dibanding dekade 1970-an, pilihan untuk tidak mempunyai anak meningkat dari 10 persen menjadi 20 persen di tahun 2000-an. Alasannya beragam, mulai dari latar belakang permasalahan keluarga sampai dengan pertimbangan pengasuhan anak di masa depan.   

Keputusan Berani

Memutuskan untuk tidak punya anak adalah keputusan yang sangat berani menurut saya. Gimana enggak? Pasti mereka pasangan childfree ini banyak menghadapi stigma dari orang sekitar bahkan bisa jadi ditentang oleh keluarga. Apalagi habbit rata-rata masyarakat kita ini masih suka kepo sama hidup orang dan hobi ngomentarin hidup orang. Lha gimana ya, baru nikah dua minggu udah ditanya “udah isi?”, Baru juga dua minggu oyy. Belum lagi kalau ada pasangan yang menikah lama dan belum diberi keturunan, langsung dibilang “kasiaaan” seolah keadaan tidak memiliki anak itu adalah hal yang menyedihkan dan memprihatinkan, padahal yang dicap kasihan itu hidupnya baik-baik aja.

sumber Tirto.id

Opini Saya

Saya pribadi menghargai keputusan mereka yang memilih untuk childfree. Lha hargai saja wong mereka nggak minta pakan ke saya ya nggak? Malah kalau bisa sih pemikiran ini ditularkan biar enggak ada lagi kasus orangtua membuang anaknya atau berita anak mengalami kekerasan dari orangtua karena orangtuanya stress sama hidupnya sendiri. Egois mana? Childfree atau udah mbrojol tapi anakmu mbok ‘aniaya’ karena ketidakwarasanmu? Hayoo..

Jadi kamu nyesel punya anak?

Saya tidak pernah menyesali apa yang sudah Tuhan anugerahkan pada saya. Menikah kemudian punya anak. Barangkali itu memang bagian dari doa orangtua saya. Tapi kalau ada yang nyuruh nambah lagi, jawaban saya adalah tidak dulu hehe. Saya ingat betul kata-kata kawan saya yang lebih dulu menikah, wis toh beb ojo kesusu punya anak amanahnya berat. Anak dia udah SD sekarang dan belum berencana nambah anak lagi. Ternyata emang bener, setelah ngerasain mbrojol, punya anak itu amanah dan tanggungjawabnya berat. Bayangin nih anak titipan Allah lho mau kamu jadiin apa anak ini? Njewer kuping sendiri.

Sebagai penutup, dalam hidup kita memang dihadapkan dengan berbagai pilihan dan tak lepas dari pro dan kontra. Terpenting adalah keyakinan kuatmu dan keteguhan hatimu selama hal itu bisa kamu pertanggungjawabkan. Selamanya memang kita tak bisa memuaskan omongan dan pendapat orang lain. Lebih penting lagi adalah kita belajar untuk saling menghargai orang lain dengan keputusan mereka dan tidak serta merta menjadi pembully atau bahkan merasa “eksklusif” di antara yang lain. Segala pilihan yang ada dalam individu tidaklah untuk diperdebatkan. Toh diri kita sendiri nggak mau kan diatur orang?

Anggi,

Ibu anak satu

2 Replies to “Nikah tapi Nggak Mau Punya Anak”

  1. Suatu keputusan yang besar ya untuk menyatakan tidak ingin punya anak buat selamanya, kecuali dia perempuan memang tidak dianugerahi untuk memiliki anak lain cerita, kalau di kalangan keluarga saya yg notabene orang biasa hal ini bikin perdebatan yg sangaaaat panjang

    1. hehe bener mbakkk…. debat panjang, belum lagi nambah doa-doa yang buruk…. “nanti kalau diijabah beneran gak punya anak gimana?” kwkw 😀 itulah saya merasa takjub dengan mental pejuang childfree ini

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.