NHW #1 – Adab Menuntut Ilmu

Segala yang terjadi dalam hidupku ini, adalah sebuah misteri Illahi, perihnya cobaan hanya ujian kehidupan

(Ari Lasso – Misteri Illahi)

Benar memang bahwa dunia ini adalah universitas kehidupan, manusia adalah mahasiswanya, Al-Quran adalah pegangannya dan Allah Swt adalah dosen pengujinya, ujian dan cobaannya adalah mata kuliahnya, sepanjang hayat kita nanti, sampai akhir kita menutup mata nanti.

Allah menciptakan dunia dan segala isinya di universitas kehidupan ini termasuk manusia tidaklah dengan sia-sia (QS. As Shad:27). Manusia sebagai makhluk paling mulia tentunya memiliki tugas dan amanah langsung dari Allah yaitu sebagai hamba yang beriman hanya kepada Allah dan sebagai khilafah di muka bumi ini serta berdakwah menyampaikan kebenaran dan kebaikan. Tentunya untuk menjadi hamba beriman dan khalifah tangguh, manusia membutuhkan ilmu.

Saya dan Universitas Kehidupan

Dalam diri manusia terdapat fitrah. Fitrah adalah faktor kemampuan dasar perkembangan manusia yang dibawa sejak lahir dan berpusat pada “potensi dasar” untuk berkembang. Fitrah bersifat dinamis sehingga butuh upaya dalam rangka mengaktualisasikan dan memberdayakan fitrah dan potensi manusia yaitu dengan melalui pendidikan dan pengajaran.

Saya terlahir sebagai manusia barangkali adalah wujud dari perpanjangan doa-doa kedua orangtua saya. Ketika saya mulai dewasa kemudian melahirkan seorang anak yang juga terlahir sesuai fitrahnya, di situlah saya mulai mengenal bahkan ingin lebih mencari tentang apa arti hidup ini. Keajaiban Allah sangat terasa saat saya mulai mengandung kemudian melahirkan. Bahkan saya turut berpikir, bagaimana bisa setetes mani menjadi segumpal darah, lalu daging. Sungguh semua itu adalah Kuasa Allah yang tidak terbantahkan.

Dunia adalah universitas kehidupan, menjadi pribadi penuh syukur adalah jurusan yang saya pilih. Alhamdulillah, hingga detik ini saya diberi hidup, bila dirunut cerita jungkir balik dunia saya untuk menggapai cinta-Nya, kadang jalan lurus di atas rel kadang banyak keluar jalur rel, Allah masih menyayangi saya hamba yang lemah iman ini.

Alasan ingin menjadi pribadi penuh syukur

Diberi amanah seorang anak saja sudah sangat bahagia rasanya, bila melihat ada bahkan banyak calon ibu yang menanti buah hati. Bersyukur membuat diri lebih bahagia menjalani hidup. Seperti kata meme yang banyak viral di dunia maya: bahagia itu sederhana, bersyukur saja. Bersyukur menjadi “alarm” hiruk pikuk dunia yang sangat fana ini.

Strategi mencapai ilmu syukur

  • Pantang mengeluh

Mengeluh tanda lemah iman. Sebagai seorang ibu, tentunya jenuh dengan rutinitas sehari-hari dari bangun tidur hingga mau tidur, ditambah dengan keaktifan anak yang Masya Allah luar biasa. Terkadang terbesit rasa lelah bahkan menghidangkan “nasi basi” atau keluhan terutama mengeluh kepada suami. Nah untuk mengurangi hidangan “nasi basi”, saya sekarang lebih memilih untuk memberi opsi pada suami saya, contoh, “Pah, aku belum masak, capek, beli nasi aja yah”, atau “Pah, aku belum nyuci nggak sempet, bawa laundry aja yah”. Lebih enak didengar toh daripada marah-marah nggak jelas 😄

  • Memalingkan keluhan ke tempat lain

Menurut ilmu psikologi, wanita mengeluarkan 20.000 kata per hari dibandingkan lelaki hanya 7.000 kata per hari. Qadarullah saya juga mencintai dunia tulis menulis sejak remaja hingga akhirnya ada blog ini yang saya bangun sejak 2012. Jadi saya “muntahkan” semua keluh kesah saya dalam bentuk tulisan. Apa saja yang terlintas di kepala, yang penting saya sudah menyalurkan 20.000 kata menjadi hal positif 😄

  • Banyak melihat ke bawah untuk urusan duniawi

Selalu bersyukur dengan melihat orang di sekitar yang masih kesusahan. Tapi tak iri melihat mereka yang berada di puncak.

  • Menanamkan prinsip “sawang sinawang”

Sawang sinawang ini merupakan pepatah Jawa artinya saling memandang kehidupan orang, kira-kira begini maknanya, kita melihat orang lain enak padahal yang merasakan juga belum tentu enak. Ibarat melihat rumput tetangga lebih hijau, padahal hijaunya tidak seperti yang kita bayangkan. Contoh teman masuk PNS, itu sudah rezekinya. Bhaaiqque.

  • Tidak membandingkan keadaan diri dengan orang lain

Baiknya tidak membandingkan diri dengan orang lain. Bandingkan diri dengan diri yang kemarin. Termasuk tidak membandingkan anak sendiri dengan anak orang lain. Menumbuhkan kesadaran dalam diri bahwa anak juga terlahir dengan fitrah dan kemampuannya yang unik.

  • Banyak mengingat nikmat Allah dengan mengucapkan alhamdulillah dan terimakasih

Belajar mengucap syukur, alhamdulillah dan juga mengajarkan terimakasih kepada anak dan dengan kata positif lain. Misal, “terimakasih adek udah sayang sama mama”, “terimakasih adek udah nemenin mama”, “mama sayang adek”, dll.

Allah SWT berfirman:

“Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih.” (QS. Ibrahim [14]: 7)

Sesuatu

My Self Improvement

Self improvement saya untuk mencapai “ilmu syukur” :

  • Belajar ilmu ikhlas.

Konon, ikhlas adalah ilmu tertinggi dalam kehidupan ini. Ikhlas yakni berserah, membersihkan diri dari hal buruk. Ikhlas dalam jalan yang telah ditakdirkan Allah kepada saya.

  • Berusaha memaksa diri untuk berkumpul dalam satu kajian

Setidaknya ikut menghadiri satu kajian atau suatu majlis ilmu, ikut “membersihkan” telinga dan mulut saya yang sering mendengar dan mengucap hal yang mudharat sehingga mengikis kembali rasa syukur yang telah dipupuk.

  • Berprinsip “kosongkan gelas”

Duduk dalam majlis ilmu atau dalam grup online, berusaha untuk tidak sok tahu dan paling benar, apalagi menjadi kerdil. Bersyukur dikelilingi oleh teman baik yang tidak toxic yang meracuni pikiran diri sendiri.

Sumber bacaan :

Internet :

http://palembang.tribunnews.com/2018/05/26/tugas-manusia-sebagai-khalifah-di-bumi
https://artikula.id/dhany/hakekat-manusia-dan-fitrahnya-dalam-perspektif-pendidikan-islam/
https://www.google.com/amp/s/m.liputan6.com/amp/517933/wanita-bicara-20-ribu-kata-per-hari-pria-hanya-7000-kata
https://properti.kompas.com/read/2009/04/16/12302734/the.science.and.miracle.of.zona.ikhlas

Pdf :

Materi “Adab Menuntut Ilmu” Ibu Profesional

Kita harus menemukan waktu untuk berhenti dan berterima kasih kepada orang-orang yang telah membuat perbedaan dalam hidup kita.”

John F. Kennedy

*Tulisan ini dibuat dalam rangka memenuhi tugas Nice Homework Komunitas Ibu Profesional*

Anggi,

Yang belajar bersyukur

6 Replies to “NHW #1 – Adab Menuntut Ilmu”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.