Oops! It appears that you have disabled your Javascript. In order for you to see this page as it is meant to appear, we ask that you please re-enable your Javascript!
Histori

Toleransi : Warisan Nenek Moyang Nusantara

Intoleransi masihkah menjadi isu besar di negeri ini? Mengingat sejauh pengamatan dari sumber dan bukti sejarah, bahwa nenek moyang Indonesia menjunjung tinggi nilai toleransi.

Arti Toleransi

Kata toleransi sendiri berasal dari bahasa latin “tolerantia” yang berarti kelonggaran, kelembutan hati, keringanan dan kesabaran. Sedangkan dalam bahasa inggris “tolerance” berarti membiarkan, mengakui dan menghormati keyakinan orang lain tanpa persetujuan. Dan dalam bahasa arab istilah toleransi merujuk pada kata “tasamuh” yaitu saling mengizinkan atau saling memudahkan.

Menurut bahasa, arti toleransi adalah menahan diri, bersikap sabar, membiarkan orang berpendapat berbeda dan berhati lapang terhadap orang-orang yang memiliki pendapat berbeda.

Toleransi di Indonesia

sumber : pariwisata.id

Toleransi di Indonesia sebenarnya telah ada dan berkembang sejak jaman Kerajaan Hindu-Budha. Bentuk toleransi yang dapat kita rasakan hingga saat ini adalah berdirinya Candi Prambanan (Hindu) dan Candi Borobudur (Buddha) merupakan salah satu bukti bahwa umat Hindu dan Buddha di Kerajaan Mataram Kuno di Jawa Tengah sudah hidup rukun berdampingan. Kerajaan Mataram Kuno mengalami puncak kejayaannya ketika dipimpin oleh Maharaja Rakai Pikatan dari Dinasti Sanjaya (Hindu) yang menikah dengan Dyah Ayu Pramodhawardhani dari Dinasti Syailendra (Buddha).

Kedatangan Islam pun dilatarbelakangi oleh aspek ekonomi, politik dan sosial budaya. Persamaan agama tidak menjamin bahwa permusuhan tidak terjadi, seperti Pajang terhadap Demak, Aceh terhadap Aru, Banten terhadap Palembang. Ternate terhadap Tidore dan Gowa terhadap Bone. Bukti toleransi ada pada kebijakan Raja-raja Gowa dalam memberi keleluasaan bagi orang Portugis untuk menganut agama Katolik di pusat kerajaannya.

Cerita Brawijaya V yang ingin memeluk agama Islam asal menikahi Putri Campa, namun Syekh Maulana Malik Ibrahim ketika itu langsung menasihati Raja Majapahit tersebut agar mengurungkan niatnya menjadi pemeluk Islam.

“Tuan Prabu Brawijaya, dalam agama Islam terdapat suatu ajaran dilarang mencampuradukkan antara yang haq (benar) dan yang bathil (salah). Kami justru merasa kasihan dengan prabu jika dalam memeluk Islam merasa terpaksa lantaran berkeinginan dapat mengawini Dewi Sari, ” kata Syekh Maulana Malik Ibrahim seperti dikutip dalam buku Buku Brawijaya Moksa, karya Wawan Susetya.

“Biarlah kami berdakwah kepada siapa saja yang mau menerima agama Islam dengan tulus dan ikhlas, ” jelas Syekh Maulana Malik Ibrahim.

Pun dalam proses perumusan dasar negara Indonesia dalam rapat Badan Penyelidik Usaha-usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI) mengalami proses dan perdebatan panjang. Hingga akhirnya diputuskan Sila pertama dalam rumusan Piagam Jakarta yang berbunyi “Ketuhanan dengan kewajiban menjalankan syari’at Islam bagi para pemeluk-pemeluknya” diubah menjadi “Ketuhanan Yang Maha Esa”.

Semangat Toleransi Saat Ini

Kenyataan bahwa toleransi pada masyarakat Indonesia kini mulai terkikis. Rentetan demi rentetan peristiwa dan konflik yang terjadi di negeri ini semakin menonjolkan bahwa toleransi telah luntur. Faktor yang menyebabkan intoleransi pada negeri ini adalah kurangnya menghayati dan kurangnya mempelajari sejarah perjalanan bangsa sendiri. Di samping itu sifat egois dari individu yang tidak berlandaskan pada Pancasila sehingga berbuat semau-maunya dalam menentukan aturan.

Maka mari menjadi individu yang sadar akan harmonisasi toleransi. Budayakan literasi, junjung tinggi intelektual. Kelak dapat mewujudkan bangsa bermartabat. Semoga bisa mengambil hikmah dari setiap kejadian. Wallahu A’lam bishawab.


Anggi-

-Yang belajar Sejarah-

Sumber bacaan :

Buku :

Buku Sejarah Nasional III

Artikel Internet :

http://www.soloensis.com/13/04/2016/belajar-toleransi-agama-dari-rakyat-mataram-kuno-1421.html

https://nasional.kompas.com/read/2016/06/20/07003701/yang.diwariskan.tokoh-tokoh.bangsa.adalah.toleransi.bukan.intoleransi.

https://www.inovasee.com/toleransi-indonesia-jaman-dahulu-19752/

https://daerah.sindonews.com/read/996522/29/kisah-raja-brawijaya-v-menjadi-mualaf-1430578763

https://www.zonareferensi.com/pengertian-toleransi/

Stay at Home Mom, Love Poem Email : anggioctvn@gmail.com

2 Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Lewat ke baris perkakas