Catcalling yang Meresahkan

Assalamualaikum cantik”, “hai cewek manis banget”

Acapkali kita jumpai suitan di atas dari mulut lelaki usil yang mencoba menggoda wanita di jalan. Tindakan tersebut dikenal dengan “cat calling”. Ditambah kadang bahkan sering disertai dengan ucapan mengandung konotasi seks kepada wanita tersebut, bahkan berujung pada kontak fisik seperti mencolek tubuh wanita, menggesek (maaf) kelamin kepada wanita. Mengapa kasus catcalling ini terus menerus terjadi? Mengapa kasus ini selalu dianggap wajar terjadi?

Beberapa waktu lalu saya mengikuti salah satu akun instagram yang membagi tentang isu mengenai catcalling dan tindakan pelecehan seksual lain. Ternyata, baru saya sadari bahwa saya pun pernah menjadi korban pelecehan seksual ketika jaman kuliah dulu saat saya sedang naik motor di jam yang tidak terlampau malam, jam 8. Tiba-tiba ada yang mencolek paha saya dari arah samping, pelakunya lelaki dan sendirian, kemudian pelaku lari ngebut, tinggal saya yang gemetaran. Padahal jalanan masih ramai dan posisi saya berada mendekati lampu merah yang notabene banyak kendaraan berjajar. Cerita lain saat saya sedang berboncengan dengan seorang teman, tiba-tiba ada motor nyerempet ke motor kami dan menyapa kami. Bodohnya, teman saya malah ‘menginterogasi’ pelaku, ‘Kamu siapa?’. Duh! Saya langsung berbisik ke teman saya, ngebut pliss, jangan dikritisi! Halamak, akhirnya kami berhasil ngebut. Kejadian-kejadian tersebut saya alami di tahun 2014. Ternyata dari tahun ke tahun rasanya pelaku catcalling ini tidaklah berkurang, justru daftar korban dari catcalling malah semakin bertambah. Bisa dilihat di salah satu akun yang membahas catcalling, pelecehan seksual masih terjadi di mana-mana, entah di jalan, kendaraan umum, gang sempit apalagi, entah kondisi ramai atau sepi, tidak ada bedanya.

Sebelum menulis artikel ini, saya juga melakukan wawancara kecil terhadap teman-teman dekat saya, sekitar 4 orang. Dua orang berada di kota besar di Jember, satu orang di kota Tanjung dan satu orang lagi di kota Bontang. Ternyata mereka semua pernah menjadi salah satu korban pelecehan seksual termasuk catcalling. Ada yang dicolek, disorakin ‘pssst’, disiulin, bahkan ada yang seperti ‘ditelanjangi’, dilihatin dari atas sampai bawah dengan tatapan seperti lelaki jelalatan. Padahal saya tau persis sahabat saya itu berhijab lebar, tidak hobi dandan sama sekali. Respon mereka pun sama halnya dengan saya saat tiba-tiba ada yang mencolek, diem, gemeteran, dan memilih untuk ngegas aja cepat-cepat menghindar. Bahkan bila ada satu pelaku yang masih bocah, dianggap ‘wajar’ karena masih ingusan. Lain cerita salah satu teman saya yang sedang berbelanja di pasar dengan ibunya. Ibunya menggertak pelaku catcalling dan seketika pelaku langsung kincep.

Catcalling tidak hanya menimpa perempuan biasa, sekelas Kevin Liliana,
Puteri Indonesia Lingkungan yang menjadi juara Miss International 2017 ini baru saja menjadi korban catcalling akhir Januari 2019 kemarin. Dia menceritakan kejadian yang menimpanya melalui instastory instagram.

“Ketika lagi jalan, ada mobil CRV ABU yang tiba tiba kasih klakson kecil (reflek nengok karena ngerasa ga ngalangin jalan) ketika aku nengok yang nyetir itu bapak-bapak botak pakai kacamata terus dia pasang muka CIUM CIUM SAMBIl MEREM! Sumpah jijik banget aku digituin!!!” lanjut Kevin.

See? Catcalling bisa menimpa perempuan manapun, tak peduli status dia apa. Kami, perempuan sungguh merasa tidak nyaman di negara sendiri bahkan untuk jalan sendirian. Sebenarnya apa sih catcalling itu? Apa alasan orang melakukan tindakan tersebut? Ada payung hukumnya nggak sih?

Apa itu Catcalling

Catcalling termasuk dalam kategori pelecehan seksual di ruang publik (street harassment) dengan tujuan membuat yang dilecehkan merasa terganggu, terhina, marah dan takut. Bentuk-bentuk pelecehan di ruang publik atau jalanan ini cukup sering djumpai dalam kehidupan sehari-hari, sebagai contoh adalah catcalling, siulan, diklakson, suara kecupan/ciuman, suara “ssst”, main mata, tindakan vulgar, komentar seksis, rasis, komentar seksual, komentar atas tubuh, komentar atas disabilitas, diikuti/dikuntit, dihadang, dipegang/disentuh, atau pertanyaan/ajakan agresif. Oxford Dictionary mendefinisikan catcalling sebagai siulan, panggilan, dan komentar yang bersifat seksual dan/atau tidak diinginkan oleh pria terhadap wanita yang lewat.

Menimpa Perempuan Manapun

Catcalling ini bisa menimpa perempuan atau wanita manapun, tak peduli pakaian apa yang ia kenakan. Entah celana pendek, baju pendek, berjilbab besar, bahkan bercadar. Bila menelusuri akun instagram yang khusus membahas cat call dan pelecehan seksual lainnya, kita dapat melihat seberapa detail korban menjelaskan pakaian apa yang dikenakannya. Bahkan tak jarang orang (netizen) malah menyudutkan korban dengan menyalahkan pakaian yang korban kenakan. “Makanya mbak, pakai jilbab”, “Makanya mbak, bajunya syari”. Miris dan menyedihkan. Padahal kasus seperti ini nggak memandang dari pakaian. Kalau memang pelaku sudah punya otak mesum dan cabul ya cabul aja nggak akan memilah dan memilih mana yang dijadikan korban.

Alasan Orang Melakukan Catcalling

(1) Iseng. Dari beberapa sumber yang saya baca, bahwa alasan pelaku melakukan catcalling hanya sekedar iseng. Kebanyakan para pelaku bertindak secara bergerombol dan tidak berani menyerang secara individu. Meskipun ada individu secara terang-terangan menggoda / melakukan pelecehan sendirian.

(2) Perempuan dipandang sebagai objek. Alasan lain bahwa perempuan masih dipandang sebagai objek seksual. Media massa seperti iklan menggiring opini melalui penyebaran standar-standar perempuan bertubuh sempurna, misalnya perempuan yang sempurna adalah yang muda, ramping, dan berkulit putih dikelilingi oleh para lelaki dan mampu menggaet perhatian lelaki.

(3) Perempuan dianggap lemah. Alasan lain bahwa perempuan masih dianggap kaum lemah. Terbukti dari beberapa korban yang dilecehkan tidak bertindak apa-apa, karena takut akan berlanjut pada kejadian yang tidak diinginkan.

(4) Fenomena yang dianggap biasa. Sayangnya, catcalling ini masih dipandang biasa di mata masyarakat. Bahkan, dalam kasus Kevin Liliana, seorang satpam di lokasi kejadian pun tidak bisa berbuat apa-apa, hanya datang berlari kecil dan tidak melakukan tindakan apapun untuk pelaku.

(5) Hukum yang masih lemah

Belgia jadi negara pertama yang membuat undang-undang bahwa catcalling adalah aksi ilegal, menyusul Prancis akhir tahun 2017, yang mulai membahas aturan catcalling. Di Perancis, catcalling sudah dikategorikan sebagai aksi ilegal. Pemerintah Prancis telah membuat undang-undang untuk mengatur larangan catcalling di jalanan. Menteri Muda Prancis untuk Kesetaraan Gender, Marlène Schiappa, menegaskan hukum ini berlaku bagi siapapun yang melakukan aksi asusila di jalan atau tempat umum. Hukuman berupa denda hingga €750.

Sebelumnya di Indonesia, memang belum ada hukum yang mengatur khusus tentang pelecehan seksual ini. Namun awal 2019 ini, angin segar bagi para perempuan di Indonesia, bahwa telah ada Rancangan Undang-Undang Penghapusan Kekerasan Seksual (RUU PKS). Salah satu bab dalam RUU PKS ini adalah membahas tentang pelecehan seksual baik secara fisik maupun non fisik.

Semoga kengerian ini akan segera berakhir dan jalan atau kendaraan umum ‘lebih ramah’ pada perempuan.

Sumber bacaan :

www.validnews.id/MENGEJAR-KETEGASAN-TINDAK-HUKUM-CATCALLING–Vjc ,

https://geotimes.co.id/kolom/perempuan-harus-bersatu-merealisasikan-ruu-pks/,

https://www.fimela.com/lifestyle-relationship/read/3613556/prancis-tetapkan-tindakan-hukum-untuk-catcalling,

https://www.suara.com/health/2019/01/15/202731/masih-dianggap-rancu-kpppa-ruu-pks-serius-untuk-lindungi-perempuan

Instagram :

@dearcatcallers.id

Anggi

One Reply to “Catcalling yang Meresahkan”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.