Oops! It appears that you have disabled your Javascript. In order for you to see this page as it is meant to appear, we ask that you please re-enable your Javascript!
Kelas Ibu Profesional

NHW#3 – Ibu, Pemahat Peradaban

Ibu, tak perlu kau jauh-jauh ingin membangun istana megah bak istana Alhambra yang tersohor. Tak perlu kau memahat dengan payah seindah bangunan di Spanyol, atau candi satu malam bak Candi Prambanan. Istana megahmu ada dalam rumahmu sendiri, peradabanmu yang sesungguhnya.

“Rumah adalah taman dan gerbang yang menghantarkan anggota keluarga menuju peran peradabannya”

Institut Ibu Profesional batch 7

Proses Penciptaan Manusia

Peradaban manusia dimulai dari proses penciptaan manusia yang berasal dari tanah. Sungguh banyak tanda kebesaran Allah di dunia ini yang dirasakan oleh seluruh makhluk hidup termasuk manusia, dari yang tampak hingga tak tampak. Datangnya hujan, badai, gunung meletus, ombak bergulung, juga merupakan tanda kekuasaan Allah. Tanda kekuasaan Allah secara nyata juga saya rasakan saat menjadi seorang ibu. Tentang setetes nuthfah (air mani) bertemu dengan ovum (sel telur) lalu berkembang menjadi segumpal darah, kemudian daging. Masya Allah. Sungguh merinding saya dengan keajaiban yang diberi Allah pada tubuh saya termasuk yang dirasakan hampir seluruh wanita, yang benar-benar tak dapat ditembus oleh akal manusia seperti yang telah tertuang pada ayat suci Al Quran :

Hai manusia, jika kamu dalam keraguan tentang kebangkitan (dari kubur), maka (ketahuilah) sesungguhnya Kami telah menjadikan kamu dari tanah, kemudian dari setetes mani, kemudian dari segumpal darah, kemudian dari segumpal daging yang sempurna kejadiannya dan yang tidak sempurna, agar Kami jelaskan kepada kamu dan Kami tetapkan dalam rahim, apa yang Kami kehendaki sampai waktu yang sudah ditentukan, kemudian Kami keluarkan kamu sebagai bayi, kemudian (dengan berangsur-angsur) kamu sampailah kepada kedewasaan, dan di antara kamu ada yang diwafatkan dan (adapula) di antara kamu yang dipanjangkan umurnya sampai pikun, supaya dia tidak mengetahui lagi sesuatupun yang dahulunya telah diketahuinya. Dan kamu lihat bumi ini kering, kemudian apabila telah Kami turunkan air di atasnya, hiduplah bumi itu dan suburlah dan menumbuhkan berbagai macam tumbuh-tumbuhan yang indah.

QS Al Hajj ayat 5

Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari suatu sari pati (berasal) dari tanah.Kemudian Kami jadikan saripati itu air mani (yang disimpan) dalam tempat yang kukuh(rahim). Kemudian air mani itu Kami jadikan segumpal darah, lalu segumpal darah itu Kami jadikan segumpal daging, dan segumpal daging itu Kami jadikan tulang belulang, lalu tulangbelulang itu Kami bungkus dengan daging. Kemudian kami jadikan ia makhluk yang (berbentuk) lain. Maka mahasuci Allah Pencipta Yang Paling Baik. Kemudian sesudah itu,sesungguhnya kamu sekalian benar-benar akan mati. Kemudian, sesungguhnya kamu sekalianakan dibangkitkan (dari kuburmu) di hari kiamat.

(QS Al- Mu‟minun: 12-16)

Dialah yang menciptakan kamu dari tanah dan kemudian dari setetes air mani, sesudah itudari segumpal darah, kemudian dilahirkannya kamu sebagai anak, kemudian (kamu dibiarkanhidup) supaya kamu sampai kepada masa (dewasa), kemudian (dibiarkan kamu hidup lagi)sampai tua, di antara kamu yang diwafatkan sebelum itu. (Kami perbuat demikian) supayakamu sampai kepada ajal yang ditentukan dan supaya kamu memahami(nya). Dialah yangmenghidupkan dan mematikan, maka apabila Dia menetapkan sesuatu urusan, Dia hanya berkata kepadanya, “Jadilah.”Maka jadilah ia.

(QS Al Mu‟minun: 67-68)

Dari ketiga ayat di atas, Allah menjelaskan tentang proses kejadian manusia di dalam rahim ibunya dan kehidupan manusia setelah ia lahir sampai mati sebagai berikut :

  1. Manusia berasal dari tanah. Allah telah menciptakan manusia, asal penciptaan manusia pertama dan asal manusia secara langsung setelah Adam yang keduanya berasal dari tanah. Allah telah menciptakan manusia pertama, yaitu Adam a.s, adalah dari tanah. Kemudian dari Adam diciptakan istrinya Hawa, dari kedua jenis ini berkembang biak manusia dalam proses yang banyak. Dan dapat pula berarti bahwa manusia diciptakan Allah berasal dari sel mani, yaitu perkawinan sperma laki-laki dengan ovum di dalam rahim wanita. Kedua sel itu berasal dari darah, darah berasal dari makanan yang dimakan manusia. Makanan manusia ada yang berasal dari tumbuh-tumbuhan dan ada yang berasal dari binatang ternak atau hewan-hewan yang lain. Semuanya itu berasal dari tanah sekalipun telah melalui beberapa proses. Karena itu tidaklah salah jika dikatakan bahwa manusia itu berasal dari tanah.
  2. Fase Nuthfah. Bahwa manusia berasal dari “nuthfah”. Yang dimaksud dengan “nuthfah” ialah setetes mani. Setetes mani laki-laki itu mengandung beribu-ribu sperma yang tidak dapat dilihat dengan mata, tanpa menggunakan alat pembesar. Salah satu dari sperma ini bertemu dengan ovum dalam rahim wanita dengan perantaraan persetubuhan yang dilakukan oleh kedua jenis manusia itu. Pertemuan sperma dan ovum ini merupakan perkawinan yang sebenarnya, dan pada waktu itulah terjadi proses pertama dari kejadian manusia.
  3. Fase ‘Alaqah. Sperma dan ovum yang telah menjadi satu itu bergantung pada dinding rahim si ibu dan setelah beberapa lama berubah menjadi segumpal darah.
  4. Fase Mudhgah. Mudhgah adalah sepotong daging tempat pembentukkan janin. Fase ini dimulai kira-kira pada minggu keempat. Setelah kapsul janin (embrio) terbentuk menjadi tiga tingkatanpada minggu ketiga, mulai terlihat ciri-ciri pertama susunan saraf dan aliran darah. Proses kejadian “nuthfah” menjadi “’alaqah” adalah empat puluh hari, dari “’alaqah” menjadi “mudghah” (segumpal daging) juga empat puluh hari. Kemudian setelah lewat empat puluh hari sesudah ini, Allah s.w.t meniupkan ruh, menetapkan rezeki, amal, bahagia dan sengsara, menetapkan ajal dan sebagainya, sebagaimana tersebut dalam hadits: “Sesungguhnya awal kejadian seseorang kamu (yaitu sperma dan ovum) berkumpul dalam perut ibunya selama 40 malam, kemudian menjadi segumpal darah selama itu (pula) lalu menjadi segumpal daging selama itu (pula) kemudian Allah mengutus malaikat, setelah Allah meniupkan ruh ke dalamnya. maka malaikat itu diperintahkan-Nya menulis empat kalimat, lalu malaikat itu menuliskan rezekinya, ajalnya. amalnya, bahagia atau sengsara. (H.R. Bukhari dan Muslim).
  5. Fase tulang dan daging. Al-Qur’an telah menamakan tiap-tiap fase sesuai dengan kejadian terpenting yangterdapat pada tiap fase. Pada fase ini-secara umum-merupakan permuulaan pembentukkantulang dan perbedaannya dengan mudhgah, sebagaimana fase sebelumnya yang secarakeseluruhan adalah munculnya gumpalan daging kecil. Pada fase selanjutnya, tulang tersebut dengan otot-otot.
  6. Fase kanak-kanak hingga dewasa. Kemudian jika telah sampai waktunya, maka lahirlah bayi yang masih kecil itu dari dalam rahim ibunya. Masa kandungan yang sempurna ialah sembilan bulan, tetapi jika Allah menghendaki masa kandungan itu dapat berkurang menjadi enam bulan atau lebih dan ada pula yang lebih dari sembilan bulan. Pada permulaan masa lahir itu manusia dalam keadaan lemah, baik jasmani maupun rohaninya, lalu Allah menganugerahkan kekuatan kepadanya sedikit demi sedikit, bertambah lama bertambah besar, hingga sampai masa kanak-kanak, kemudian sampai masa dewasa. Pada masa manusia sempurna jasmani dan rohaninya, badannya sedang kuat, pikirannya sedang berkembang, kemampuannya untuk mencapai sesuatu yang diingininya sedang ada pula. Kemudian manusia menjadi tua, bertambah lama bertambah lemah, seakan-akan kembali lagi kepada masa kanak-kanak dan menjadi pikun, akhirnya iapun meninggalkan dunia yang fana ini; ada di antara manusia yang meninggal sebelum mencapai umur dewasa, ada pula yang meninggal di waktu dewasa dan ada yang diberi Allah umur yang lanjut, sampai tua.

Fase Janin dalam Rahim

Dia menciptakan kamu dari seorang diri kemudian Dia jadikan daripadanya isterinya dan Dia menurunkan untuk kamu delapan ekor yang berpasangan dari binatang ternak. Dia menjadikan kamu dalam perut ibumu kejadian demi kejadian dalam tiga kegelapan. Yang (berbuat) demikian itu adalah Allah, Tuhan kamu, Tuhan Yang mempunyai kerajaan. Tidak ada Tuhan selain Dia; maka bagaimana kamu dapat dipalingkan?

QS Az Zumar ayat 6

Menyadur dari buku berjudul Basic Human Embryologya karya Williams P, diketahui bahwa manusia hidup di dalam rahim sambil melalui tiga tahapan yang cukup panjang, yaitu 9 bulan. Ini sesuai dengan apa yang dituliskan pada surat az-Zumar ayat 6 bahwa kita hidup saat menjadi bayi selama tiga fase utama, yaitu fase pre-embrionik lalu fase embrionik sebelum akhirnya mencapai tahapan sebagai fetus hingga waktu kita dilahirkan secara sempurna sebagai manusia sepenuhnya, merengek dan menangis saat pertama terkena angin dari dunia.

  1. Tahapan pre-Embrionik. Tahapan pre-embrionik terjadi hingga sekitar 2 setengah minggu sejak awal pertama seseorang dinyatakan hamil. Pada titik ini, diketahui zigot yang membentuk kita nanti sudah mulai membesar karena terjadi pembelahan sel. Sel-sel itu kemudian membentuk gumpalan baru yang menggantung di dinding rahim seorang ibu. Nah, ketika zigot semakin besar, sel-sel yang menyusun dirinya sendiri juga secara mandiri mengatur diri.
  2. Tahapan Embrionik. Tahapan ini berlangsung dari setelah pre-Embrionik berakhir hingga di akhir minggu ke-8, dan menjadi bukti betapa ajaibnya rahim seorang ibu. Pada titik ini, bayi sudah bisa disebut sebagai embrio, dimana organ dalam serta sistem-sistem pada tubuh seorang bayi sudah mulai terbentuk dari lapisan sel yang menggumpal tadi. Embrio akan terus membesar hingga mereka menjadi fetus di akhir minggu ke-8.
  3. Tahapan Fetus atau Bayi.Mulai titik ini, bayi lebih dikenal sebagai fetus. Di minggu ke-13 hingga minggu ke-16, bayi mulai membentuk tubuhnya yang kecil. Demi mengakomodir tubuh bayi yang sudah semakin besar, bagian organ dalam milik seorang ibu juga terpaksa ditekan oleh rahim yang secara otomatis ikut membesar. Masuk ke minggu ke-25 hingga minggu ke-28, organ-organ yang ada dalam tubuh seorang ibu akan semakin tertekan karena ukuran bayi menjadi jauh lebih besar. Dipercaya pada titik ini bayi bergerak selama paling tidak 30 kali per jam. Setelah berhasil melalui ini, bayi kemudian akan lahir tanpa mengetahui atau mengingat kejadian selama ia berada di dalam rahim ibunya.

Peradaban dimulai dari Rahim Ibu

Ketika Allah pertemukan sel telur dengan ovum seorang wanita lalu berkembang menjadi segumpal darah, dari situlah peradaban manusia di mulai. Di mana sang ibu menjaganya sekuat tenaga agar tidak mengalami kejadian yang tidak diharapkan seperti keguguran. Dari segumpal darah berbentuk menjadi janin. Saat proses kehamilan tersebut peran ibu sangat besar dalam menjaga asupan gizi agar janin senantiasa sehat, tidak mengalami kekerdilan fisik saat lahir dan otak yang cerdas. Darah Ibu mengalir dalam pembuluh darah anak kemudian seakan ia berkata “Apa pun yang engkau makan, pikirkan, rasakan, dan segala yang masuk dalam aliran darahmu, aku selalu menerimanya, Ibu.” Seorang bayi kelak adalah merupakan pancaran dari perilaku ibu.

Rahim dan masa kehamilan merupakan fase penting dan sangat krusial untuk melahirkan manusia yang berkualitas. Maka perhatian wanita pada dirinya sebagai bentuk rasa syukur menjadi modal peradaban. Menjaga kebersihan, kesehatan, pola makan, manajemen waktu yang baik, memperluas ilmu pengetahuan, pola pikir, kecerdasan manajemen emosi hingga meningkatkan kapasitas diri melalui berbagai pelatihan. Jika semua dapat dilaksanakan dengan baik, kualitas jasmani maupun rohani wanita berkualitas, maka generasi yang dilahirkan akan ikut berkualitas. Seperti kata seorang artis tersohor Dian Sastrowardoyo :

Entah akan berkarir atau menjadi ibu rumah tangga, seorang wanita wajib berpendidikan tinggi karena ia akan menjadi ibu. Ibu-ibu yang cerdas akan melahirkan anak-anak yang juga cerdas.

Dian Sastrowardoyo

“Berpendidikan tinggi” menurut hemat saya adalah seorang ibu yang berkemauan untuk terus menimba ilmu, entah itu ilmu agama, ilmu keluarga, ilmu parenting, dan ilmu lain yang menjadi bekal seorang ibu dalam mendidik anak-anaknya kelak karena ibu adalah madrasah bagi anak-anaknya. Ibu adalah jendela pertama anaknya untuk melihat dunia. Ibu juga merupakan ‘tempat pulang’ anak-anaknya. Demikian juga pada doanya dan restunya. Tidak ada ibu alay yang mewariskan kesuksesan kepada anak-anaknya, karena anak akan meneladani ibunya, maka ibu alay hampir pasti membentuk jiwa anak yang labil, yang rapuh karena ketidakpastian hidup, dan tidak ada kemandirian.

Seorang ibu, menjaga dan mendidik anak berarti telah ikut menjaga dan menyelamatkan masa depan anak. Seorang ibu turut mengajarkan dan mendidik seorang anak dengan menanamkan nilai-nilai dasar dalam kehidupan, mulai dari nilai rasa kasih dan cinta, menghormati, empati, kejujuran serta kesungguhan merupakan tugas sepanjang sejarah seorang  ibu. Teringat ketika Allah mulai memberiku tiket H dan memberi janin di dalam rahimku. Seketika itu pula aku selalu merasa khawatir akan gizinya, cukup makan atau tidak, asupan makanan yang masuk sehat atau tidak. Aku juga merasakan mood swing teramat sangat, sedikit-sedikit baper, cepet mewek dan gampang lelah. Dari situlah aku belajar untuk mengendalikan emosi agar tetap stabil dan bayi di dalam rahimku tidak terpapar emosiku yang labil.

Ibu Tiang Peradaban

Perempuan memiliki tugas istimewa di muka bumi ini yaitu pembentuk peradaban. Dalam pepatah mengatakan, “Perempuan adalah tiang peradaban”. Hal ini dikarenakan dedikasi tinggi seorang perempuan dalam mendidik anak-anaknya. Mendidik anak berarti menyiapkan generasi, dan membentuk generasi berarti membangun peradaban. Semua itu dimulai dari langkah seorang ibu.

Ibarat tiang dalam sebuah bangunan, bahwa ibu menjadi ‘tiang’ yang merupakan pondasi dalam peradaban haruslah memiliki hati kuat dan tidak mudah rapuh walaupun pada akhirnya ‘pilar’ tersebut seperti tak tampak terlihat nyata dari luar. Ibu yang kuat lebih senang anaknya bermanfaat bagi orang banyak ketimbang untuk dirinya sendiri. Ibu yang kuat mampu membentuk kepribadian yang kuat pula bagi anak-anaknya. Anak-anak yang kuat dan mampu dalam menghadapi permasalahan sekecil apapun dan anak-anak yang tidak mudah mengeluh dalam situasi apapun.

Namun sesungguhnya dalam langkah membentuk peradaban tidak cukup sampai dalam rumah saja, tapi harus mampu keluar dari ranah tersebut yaitu dalam lingkungan sosial. Ibu harus mampu mendidik anaknya dan sejatinya anak-anak di sekelilingnya. Ia harus mampu menjadi ibu, tidak hanya bagi anak yang keluar dari rahimnya, namun juga ibu bagi lingkungannya hingga kelak menjadi ibu peradaban. Dan dalam membentuk sebuah peradaban kecil, maka ibarat panglima tempur, seorang ksatria membutuhkan sebaris pasukan. Ksatria haruslah mengenal lebih dalam sifat, tabiat serta kemampuan pasukannya terlebih dahulu jika ingin mendidik pasukannya.

Peradaban Kecilku dan Pasukanku

Aku dan Suami

Allah telah menuliskan takdir manusia di Lauhul Mahfudz mengenai kehidupan yang akan terjadi pada kehidupan kita, anak-anak, bahkan cucu-cucu kita. Demikian Allah telah menuliskan takdirku untuk bertemu dengan tambatan hati yang senantiasa kudampingi meski baru berusia 4 tahun perjalanan pernikahan kami.

Ia adalah suamiku. Kami bertemu dalam sebuah perjodohan ala Siti Nurbaya zaman now. Kuno, memang. Tapi barangkali dari kekunoan itu kami peroleh berkah dalam proses menjemput jodoh. Hanya seminggu setelah perkenalan tepatnya di akhir bulan Maret 2015, sebulan kemudian ia memberanikan diri untuk melamarku di hadapan kedua orangtuaku dan kami menikah 3 bulan kemudian. Meski kami bertemu dalam waktu singkat, tapi ‘hembusan’ keyakinan kuat atas nama Allah kami ikrarkan cinta pada tanggal 2 Agustus 2015 lalu.

Terkadang kurangkai kalimat cinta untuknya, sejenis gombalan mukiyo ala anak ingusan yang baru kenal pacaran dan arti cinta. Bahkan aku pernah menuliskannya di blog ini : Kepadamu,Suamiku. Meski tak ada komentar apapun dari beliau, karena tipe suami bukan yang romantis dengan romansa kata-kata, tapi aku sangat yakin bahwa rasa cinta beliau terhadap keluarga dibuktikan dengan sikapnya yang penyayang kepada keluarga serta penyabar. Beliau sangat telaten dalam membimbing istrinya dan anaknya. Beliau selalu meniupkan kata-kata penyejuk saat istrinya sedang baper dan cengeng. Beliau yang mau turun tangan dalam membantu ranah domestik rumah tangga, sekedar menjemur pakaian, memandikan anak, bahkan mengajak anak bermain. Rentang usia terpaut 8 tahun tak masalah untuk kami. Seperti pada quotes berikut :

Seorang istri membutuhkan orang yang memahaminya, sebelum ia membutuhkan orang yang memahamkannya.

Materi Institut Ibu Profesional Batch 7
8 years gap but it’s fine

Lelaki yang belum pernah aku kenal sebelumnya, namun kemudian Allah mendekatkan kami meskipun dalam perkenalan dan pernikahan yang singkat. Begitulah jodoh selalu menjadi misteri. Barangkali, lewat suamiku ini, tempat ladang ibadahku. Lewat suamiku ini, tempat Allah menuntunku menuju surga-Nya. Seperti pada hadits dari ‘Abdurrahman bin ‘Auf, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

إِذَا صَلَّتِ الْمَرْأَةُ خَمْسَهَا وَصَامَتْ شَهْرَهَا وَحَفِظَتْ فَرْجَهَا وَأَطَاعَتْ زَوْجَهَا قِيلَ لَهَا ادْخُلِى الْجَنَّةَ مِنْ أَىِّ أَبْوَابِ الْجَنَّةِ شِئْتِ

Jika seorang wanita selalu menjaga shalat lima waktu, juga berpuasa sebulan (di bulan Ramadhan), serta betul-betul menjaga kemaluannya (dari perbuatan zina) dan benar-benar taat pada suaminya, maka dikatakan pada wanita yang memiliki sifat mulia ini, “Masuklah dalam surga melalui pintu mana saja yang engkau suka.” (HR. Ahmad 1: 191 dan Ibnu Hibban 9: 471. Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan bahwa hadits ini shahih)

Aku dan Gadisku

Juni 2016

Gadisku, anak yang kami pinta dan Allah telah menitipkannya dalam rahimku di bulan Juni 2016 lalu. Dia bernama Anjani. Sembilan bulan aku mengandungnya, membawanya bersama segala pikiranku. Betapa bahagianya aku mendapatkan tiket H dari Allah setelah menanti 10 bulan pernikahan. Meskipun dalam perjalanan membesarkannya penuh dengan drama dan lika-liku sebagai ibu baru, tapi aku sangat bersyukur. Gadisku, yang aku lahirkan dengan tarikan nafasku sendiri. Gadisku, anak yang aktif sejak di kandungan, kini tumbuh menjadi anak yang aktif pula serta cerdas. Gadisku, berlarian ke sana kemari, dengan tingkah lucunya yang menggemaskan, meskipun dalam berbicara masih belum terlalu jelas. Bahkan aku tidak tega untuk memukulnya atau mencubitnya. Aku hanya bermain omelan saja, yang sebenarnya entah ia mengerti atau tidak. Gadisku, memiliki tipe kepribadian Feeling Extrovert, di mana membesarkannya harus penuh dengan kata cinta, pujian serta semangat. Gadisku, yang dikenal orang selalu ramah dan tidak takut dengan lingkungan baru. Dia mudah beradaptasi dan bersosialisasi dengan baik. Gadisku, semoga tumbuh menjadi anak hebat sesuai dengan potensi yang Allah berikan kepadanya. Aku bersyukur dikaruniai seorang anak perempuan. Anak perempuan sangat mulia karena mendidik anak perempuan dapat menghalangi api neraka, seperti sabda Rasullullah berikut ini :

“مَنِ ابْتُلِيَ مِنْ هَذِهِ الْبَناَتِ بِشَيْءٍ فَأَحْسَنَ إلَيْهِن كُنَّ لَهُ سِتْراً مِنَ النّاَرِ”

“Barangsiapa yang diuji dengan mendapatkan anak peremuaan kemudian ia berbuat baik kepada mereka (dengan mendidiknya) maka anak perempuan itu akan menjadi penghalang baginya dari sentuhan api neraka.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Aku dan Potensiku

Kasih ibu kepada beta tak terhingga sepanjang masa. Hanya memberi tak harap kembali. Bagai sang surya menyinari dunia.

Lagu Kasih Ibu

Perempuan memiliki kodratnya sendiri. Dalam Islam, perempuan atau wanita memiliki tiga kodrati dari Allah : Bentuk fisik, Fungsi fisik (haid, hamil, melahirkan, menyusui) dan Emosional.

  • Bentuk Fisik

Wanita dianugerahi fisik berbeda dengan pria. Bila pria memiliki sisi maskulin, wanita memiliki sisi lemah lembut, feminin dan gemulai.

  • Fungsi Fisik

Fungsi fisik pada wanita bahwa wanita memiliki potensi yang sangat besar untuk keberlangsungan hidup manusia di muka bumi ini. Wanita memiliki fungsi fisik yang fital dan itulah perjuangan atau jihad bagi wanita jika dilakukan dengan sebaik-baiknya. Jelas potensi fisik ini tidak dimiliki oleh laki-laki dan peran laki-laki tidak bisa menyamai sebagaimana wanita. Fungsi fisik tersebut diantaranya adalah fungsi rahim untuk mengandung, payudara untuk menyusui, dan tentu hormon-hormonal lain yang berfungsi untuk mendukung peran wanita sebagai ibu, istri, bagi suami dan anak-anaknya.

  • Aspek Emosional

Wanita memiliki aspek emosional atau rasa yang lebih sensitif dibandingkan laki-laki. Hal ini menjadi wajar karena tugas seorang wanita yang utama adalah sebagai seorang ibu untuk mendidik anak-anaknya penuh kasih sayang dan cinta. Untuk itu, fitrah ini bukan hanya sebagai kelemahan wanita melainkan potensi kelembutan, kasih sayang, dan kesabaran wanita dalam mendidik anak-anaknya serta mengelola hubungan rumah tangga bersama suami.

Melihat dari fungsi istimewa yang diberikan oleh Allah kepada wanita, maka agar sesuai dengan kodrat yang telah ditetapkan oleh Allah SWT tentu wanita bertugas untuk menjaga kodrat tersebut secara baik dan sesuai aturan agama. Hal ini bisa dilakukan dengan memahami fungsi-fungsi dari apa yang Allah anugerahkan Allah kepadanya. Selain itu wanita juga harus menjaga kodrat itu dengan cara mengkondisikan lingkungan yang kondusif dan sesuai dengan nilai-nilai agama agar dapat terus berjalan kodrat tersebut sesuai dengan perintah agama atau yang telah Allah perintahkan.

Selain fungsi istimewa yang Allah juga berikan kepadaku, aku seperti menemukan potensi dalam diriku ditambah dengan jalan takdir yang Allah gariskan untukku. Terjun di dunia pendidikan dan saya suka menulis. Aku akan gunakan potensi unik yang sudah diberikan Allah untukku ini untuk mendidik anak-anakku kelak. Dan menulis untuk mewariskan ilmu dan amal jariyahku kepada semua yang membaca tulisan ini. Banyak manfaat dari menulis yang aku dapat.

  • Self healing. Self healing adalah proses pemulihan dari gangguan psikologis, trauma, dan lainnya yang disebabkan oleh orang lain atau diri sendiri yang terjadi di masa lalu. Dengan menulis saya bisa menuangkan segala perasaan yang berkecamuk dalam diri tanpa harus merasa takut sehingga membuat hati dan pikiran terasa lebih nyaman.
  • Bebas berekspresi. Menulis dapat membuatku menjadi diri sendiri. Aku bebas berpendapat, tanpa takut dengan pandangan atau pendapat orang lain kepadaku.
  • Berlatih berkarya. Setiap orang memiliki kemampuan sendiri-sendiri dan dari kemampuan tersebut ia menghasilkan sebuah karya, terlebih untuk ibu-ibu, ada yang suka memasak, ada yang suka baking, fotografi. Menulis adalah karyaku. Aku belajar menghasilkan sesuatu dari menulis.
  • Bertemu dengan orang baru. Aku juga bergabung dalam beberapa komunitas menulis. Dari sana aku dapat belajar tentang ilmu menulis lebih dalam dan menambah ilmu serta teman baru yang memiliki hobi yang sama.
  • Mentransfer ilmu literasi kepada anak. Menulis juga merupakan salah satu ilmu literasi selain membaca. Aku juga suka membaca buku. Dengan hobi dan skill yang aku punya, aku bisa menularkan membaca dan menulis juga kepada anakku.

Aku dan Tantangan Zaman Now

Tugas-tugas yang berhubungan dengan keluarga, itulah yang merupakan tugas kemanusiaan yang mendasar. Jika ibu tidak melakukan tugasnya, tidak akan ada generasi berikutnya, atau generasi berikutnya akan menjadi yang paling buruk.

Theodore Roosevelt, presiden Amerika Serikat yang ke-26.

Tantangan demi tantangan selalu dihadapi oleh para ibu dalam mendidik anak-anaknya. Kekerasan pada anak, pelecehan seksual, kenakalan remaja, narkoba, kecanduan gadget, sungguh banyak PR yang harus kita kerjakan selaku orang tua, dimulai dari dalam rumah sebelum melepas anak keluar dari ‘sangkar’ nya menghadapi hingar bingar dunia. Benar apa yang dikatakan oleh banyak orang, bahwa menjadi orang tua tidak ada bangku sekolahnya, bahkan tidak ada gelarnya. Bahwa menjadi orang tua berarti adalah sekolah seumur hidup. Bila zaman dahulu merasa ‘tidak apa-apa’ dalam mendidik anak sesuai dengan keinginan dan nafsu pribadi terhadap anak, berbeda dengan zaman sekarang. Seorang ibu dan orang tua harus mempunyai pengetahuan tentang cara mendidik anak agar ia tetap berada di jalan-Nya, di koridor agama.

Alhamdulillah lingkunganku sangat kental dengan pendidikan agama. Banyak tetangga yang mulai berduyun-duyun berhijab syar’i dan datang kajian. Jadi lingkunganku bisa membawa pengaruh baik untukku dan keluargaku. Tapi meskipun begitu aku tetap mempersiapkan bekal untuk anak-anakku karena aku tau tidak semua lingkungan akan membawa dampak baik. Demikian dengan keluargaku dan keluarga suamiku, tidak ada yang neko-neko. Bahkan ibu dan ibu mertua sangat baik dalam menerimaku, menerima suamiku dan menerima anakku.

Allah sudah memerintahkan secara jelas kepada manusia untuk senantiasa berbuat baik dan berbakti kepada ibu bapaknya. Perintah ini tercantum dalam Alquran surat Al-Isra ayat 23 yang artinya:

“Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan “ah” dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia.”

QS Al Isra’ 23

Mendidik Anak Kisah Lukman Al-Hakim

Dalam al-Qur’an sudah tertera cara mendidik anak serta ilmu apa pertama kali yang harus ditanamkan oleh orangtua. Banyak kisah-kisah para pendahulu kita yang sukses mendidik anak dengan metode Alquran. Sebut saja Lukmanul Hakim. Lalu pelajaran apa saja yang beliau berikan kepada anaknya?

Pertama, persoalan aqidah. Sebagaimana firman Allah,” Wahai anak ku jangan sekali-kali engkau sekutukan Allah” (QS: Al-Lukman:13).

Allah SWT tidak akan mengampuni dosa syirik, kecuali ia bertobat dan meninggalkan perbuatannya. Sesungguhnya hanya Allah sajalah yang berhak untuk disembah (Allahu mustahiqqul ‘ibaadah). Dia lah yang berhaq di mintai pertolongan. Hanya kepada-Nyalah segala urusan diserahkan, takut (khouf), berharap (raja’) hanya layak ditujukan kepada Allah swt, bukan kepada yang lainnya 

Kedua, rasa hormat kepada orangtua. Sebagaimana firman Allah;

وَوَصَّيْنَا الْإِنسَانَ بِوَالِدَيْهِ حَمَلَتْهُ أُمُّهُ وَهْناً عَلَى وَهْنٍ وَفِصَالُهُ فِي عَامَيْنِ أَنِ اشْكُرْ لِي وَلِوَالِدَيْكَ إِلَيَّ الْمَصِيرُ

” Dan kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu bapakya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun, bersyukurlah kepada ku dan ke dua ibu bapak mu, hanya kepada ku lah kembalimu.” (QS: Al-Lukman: 14).

Di dalam riwayat Bukhari, Rasulullah pernah ditanya oleh seorang sahabat:
“Amalan apakah yang dicintai oleh Allah?Beliau menjawab: Shalat pada waktunya, ia bertanya lagi: Kemudian Apa?, Beliau menjawab: berbuat baik kepada orang tua, .Ia bertanya lagi: kemudian apa?, Belau menjawab: Jihad di jalan Allah” (shahih Bukhari V/2227, hadits No.5625)

Ketiga, pendidikan moral bahwa Allah mengawasi tindak tanduk manusia

يَا بُنَيَّ إِنَّهَا إِن تَكُ مِثْقَالَ حَبَّةٍ مِّنْ خَرْدَلٍ فَتَكُن فِي صَخْرَةٍ أَوْ فِي السَّمَاوَاتِ أَوْ فِي الْأَرْضِ يَأْتِ بِهَا اللَّهُ إِنَّ اللَّهَ لَطِيفٌ خَبِي

” Wahai anakku bila ada kebaikan yang kamu kerjakan, kecil (tidak nampak oleh pandangan mata yang zahir), yang kecil itu tersembunyi dipuncak langit, di dasar bumi yang paling dalam atau di tengah-tengah batu hitam sekalipun, Allah pasti akan mengetahuinya dan pasti akan memberikan balasan yang sedail-adilnya” (QS: Al-Lukman: 16). 

Keempat, menegakkan sholat.

Shalat adalah tiang agama, sehingga ia tidak akan tegak tanpa shalat. Maka sebagai seorang yang beriman kita diwajibkan menegakkannya. 

يَا بُنَيَّ أَقِمِ الصَّلَاةَ وَأْمُرْ بِالْمَعْرُوفِ وَانْهَ عَنِ الْمُنكَرِ وَاصْبِرْ عَلَى مَا أَصَابَكَ إِنَّ ذَلِكَ مِنْ عَزْمِ الْأُمُورِ

Wahai anakku dirikanlah shalat dan suruhlah (manusia) mengerjakan yang baik dan cegahlah (mereka) dari perbuatan yang mungkar, dan bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu.Sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal-hal yang diwajibkan oleh Allah” (QS: Al-Lukman: 17). 

Inilah dasar-dasar agama dalam mendidik anak yang harus diaplikasikan oleh setiap orangtua sebelum memberikan berbagai disiplin ilmu lainnya. Mantapkan aqidah, tanamkan rasa hormat kepada orangtua, ajarkan ahklak dan tingkah laku yang baik kepada anak, kemudian berikan tatanan hidup yang sesuai dengan Islam.

Semoga metode pendidikan Lukmanul Hakim dapat menjadi prioritas orangtua zaman now dalam mendidik anak. Insya Allah anak-anak kita akan tumbuh menjadi anak yang taat kepada Allah, patuh kepada orang tua dan jauh dari tingkah laku yang tercela. Aamiin.

Teruslah semangat untukmu ibu, membangun peradaban panjang ini, hingga kelak menjadi pertanggung jawabanmu nanti di hadapan Illahi.

-Anggi-

Sumber :

Internet

https://www.selasar.com/jurnal/38093/Hai-Wanita-Kamulah-Rahim-Peradaban

https://www.selasar.com/jurnal/5759/Jadilah-Sebaik-baik-Ibu-Ibu-Peradaban

https://www.kompasiana.com/imajiku/54f76445a33311d2338b47e4/perempuan-rahim-peradaban

http://partikel-cahayalangit.blogspot.com/2017/08/peradaban-dimulai-dari-rahim-ibu.html

http://media.ihram.asia/2016/01/21/keajaiban-rahim-seorang-ibu-yang-tertulis-dalam-al-quran/

https://www.academia.edu/2007706/AL-QURAN_and_EMBRIOLOGI_Ayat-Ayat_Tentang_Penciptaan_Manusia

http://www.voa-islam.com/read/muslimah/2018/01/15/55521/ibu-pencerah-peradaban/#sthash.OaFDN0N0.wtdt5CEE.dpbs

https://sepdhani.wordpress.com/2014/05/19/bagaimana-al-quran-berbicara-tentang-proses-peciptaan-manusia-ilmu-kandungan/

https://tafsirweb.com

http://khalifahcenter.com/q39.6

https://www.google.co.id/amp/s/dalamislam.com/info-islami/kodrat-wanita-dalam-islam/amp

https://www.hidayatullah.com/kajian/jendela-keluarga/read/2013/09/17/6420/ajarkan-anak-anak-kita-seperti-kisah-lukman-al-hakim.html

http://klulaku.blogspot.com/2009/12/nasehat-luqman-al-hakim-kepada-putranya.html

Dokumen :

Materi Matrikulasi Institut Ibu Profesional Batch 7

Stay at Home Mom, Love Poem Email : anggioctvn@gmail.com

3 Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Lewat ke baris perkakas