NHW#4 – Mendidik Anak Sesuai Fitrah



Mengikuti bab demi bab perkuliahan di Komunitas Ibu Profesional seperti menyadarkan saya akan apa sebenarnya arti hidup ini, di mana setelahnya saya merasa ‘dibangunkan’ kembali dari ‘mati suri’. Hidup tidak sekedar hanya bekerja dan bernapas, seperti sentilan dari Buya Hamka:

Kalau hidup sekadar hidup, babi di hutan juga hidup. Kalau bekerja sekadar bekerja, kera juga bekerja

Buya Hamka

Materi di perkuliahan Ibu Profesional telah disajikan secara runut melalui penugasan (nice homework) dari nice homework 1 hingga nice homework 3. Tibalah di nice homework 4 ini semakin membuka ‘tabir’ benang merah tentunya juga mengandung makna yang sangat dalam.

Jurusan Universitas Kehidupan Sesungguhnya

Merujuk pada kandungan Al Qur’an, Ustadz Adi Hidayat Lc MA mengatakan bahwa visi dan misi hidup seorang muslim ialah menjadi hamba Allah yang tidak hanya bekerja namun juga beribadah. Kesibukan kita sebagai manusia jangan hanya dibatasi oleh perkara dunia namun juga perkara akhirat. Peta kehidupan manusia dapat digambarkan sebagai berikut :

Edited by mindline

Seperti yang telah saya sampaikan di NHW #1 bahwa tidak ada penciptaan Allah yang sia-sia termasuk manusia yang diberi tugas langsung oleh Allah yakni beribadah hanya kepada Allah dan menjadi khalifah di bumi seperti tertera pada QS Adz Dzariyat berikut :

Dan tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia, melainkan supaya mereka menyembah-Ku

QS Adz Dzariyat : 56

Allah Ta’ala berfirman (yang artinya), “Dan (ingatlah) tatkala Rabbmu berkata kepada malaikat , ‘Sesungguhnya Aku hendak menjadikan di bumi seorang khalifah’. Berkata mereka, ‘Apakah Engkau hendak menjadikan padanya orang yang merusak di dalamnya dan menumpahkan darah, padahal kami bertasbih dengan memuji Engkau dan memuliakan Engkau?’. Dia berkata, ‘Sesungguhnya Aku lebih mengetahui apa yang tidak kamu ketahui” (QS. Al Baqarah : 30)

QS Al Baqarah : 30)

Nabi sebagai khalifah yang diutus langsung oleh Allah untuk menjadi pemimpin pada suatu kaum atau manusia seluruhnya juga memiliki misi sebagai penyampai kabar gembira dan peringatan dari Allah, menyebarkan ajaran agama Allah di muka bumi.

Demikian pula dalam peradaban kecil manusia bernama keluarga juga sesungguhnya tak lepas dari visi dan misi yang harus dibangun demi terciptanya keluarga yang visioner, memiliki mimpi untuk membangun masa depan dan dapat menjalankan fungsi pendidikan dalam keluarga dengan baik.

Jurusan Ilmu yang Saya Pilih

Secara spesifik, ilmu syukur tetap saya pilih di jurusan ilmu kehidupan ini, seperti yang telah saya tulis di Nice Homework 1. Mengapa memilih ilmu syukur? Karena dengan bersyukur dapat menambah perasaan bahagia. Tak ada yang patut dipalingkan pemberian nikmat dari Allah, anak yang sehat, suami yang menafkahi keluarga dengan cara yang diberkahi Allah, keluarga utuh. Tak ada yang mampu kita dustakan nikmat Allah bahkan manusia pun tak dapat menghitungnya. Dalam QS Ar-Rahman : “Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan”. Bahkan, kalimat ini diulangi sebanyak 31 kali tanda bahwa begitu luas nikmat Allah di dunia ini sehingga manusia tak mampu menandingi-Nya. Manusia dan makhluk di dunia ini sungguh kecil di hadapan Allah.

Menurut Kamus Arab – Indonesia, kata syukur diambil dari kata syakara, yaskuru, syukran dan tasyakkara yang berarti mensyukuri-Nya, memuji-Nya. Syukur juga berasal dari kata syukuran yang berarti mengingat akan segala nikmat-Nya. Sehingga dapat disimpulkan bahwa syukur menurut istilah adalah bersyukur dan berterima kasih kepada Allah, lega, senang dan menyebut nikmat yang diberikan kepadanya di mana rasa senang, lega itu terwujud pada lisan, hati maupun perbuatan.

Menambah syukur = menambah kebahagiaan.

Dalam sebuah riwayat diceritakan suatu malam Rasulullah Muhammad SAW shalat malam hingga kaki beliau bengkak, isteri beliau Aisyah ra bertanya, kenapa Rasulullah SAW melakukan hal ini, padahal dia adalah kekasih dan utusan Allah, orang yang ma’shum diampunkan Allah dosanya. Rasulullah SAW hanya membalas dengan menyatakan bahwa ia hanya bersyukur kepada Allah. Pada prinsipnya segala bentuk kesyukuran harus ditujukan kepada Allah Swt.

Maka ingatlah kamu kepada-Ku niscaya Aku ingat pula kepadamu, dan bersyukurlah kepada-Ku, dan janganlah kamu mengingkari (nikmat)-Ku.


(QS Al-Baqarah [2]: 152).

Belum Konsisten dengan Checklist Harian

Checklist harian yang saya tulis di Nice Homework 2 kemarin, belum sepenuhnya dapat berjalan sesuai dengan rencana. Tentu sebagai Hamba Nya yang dhaif ini masih banyak harus berjuang lebih keras lagi untuk memompa ‘bahan bakar’ dengan goals yang telah tertulis.

“Hendaklah kalian tekun beramal sesuai dengan tingkat kemampuanmu, karena sesunguhnya Allah tidak akan pernah merasa bosan {menerima amalmu) hingga kalian (sendiri) yang merasa bosan. Sebab, sesungguhnya amal yang paling dicintai Allah adalah yang dilaksanakan dengan terus menerus kendatipun sedikit.”


 (HR. Ahmad).

Bidang dalam Jurusan Ilmu Syukur

Menyadari bahwa manusia diciptakan satu paket dengan tugas serta visi dan misi yang harus dibangun seperti yang juga saya ungkapkan dengan gamblang di Nice Homework 3, maka saya mulai menetapkan bidang, visi dan misi jelas, peran serta milestone yang akan saya tempuh pada jurusan ilmu syukur yang saya pilih.

Karena saya memiliki cita-cita pribadi diluar cita-cita keluarga, maka saya membaginya menjadi dua ranah, yakni ranah keluarga dan ranah produktif bagi diri saya sendiri. Berikut penjabarannya :

  • Ranah Keluarga

Saya memilih bidang Pendidikan Orang Tua Bahagia dalam Jurusan Ilmu Syukur saya. Seperti yang telah saya tuliskan di atas tadi, bahwa rasa syukur yang banyak sama dengan menambah kebahagiaan. Kebahagiaan atau kegembiraan adalah suatu keadaan pikiran atau perasaan yang ditandai dengan kecukupan hingga kesenangan, cinta, kepuasan, kenikmatan, atau kegembiraan yang intens. Bahagia bertambah, menjadi semakin ikhlas saya mendidik anak-anak dan berjuang di dalam peradaban kecil saya. Demikian dalam rasa bahagia, karena bila orang tua bahagia dalam mendidik anak-anaknya maka teciptalah rasa bahagia anak memiliki orang tua yang selalu berbinar-binar dalam mendidiknya, menjadi tempat untuknya pulang.

Tidak ada rute lain untuk membuat anak menjadi bahagia selain orang tua perlu bahagia terlebih dahulu.

Aisya Yuhanida Noor, Psikolog.

Banyak orang sibuk menganalisa bagaimana cara mendidik anak dengan berbagai ilmu parenting, tapi terlupa bagaimana cara mendidik orang tuanya terlebih dahulu. Banyak kisah yang disiarkan di berbagai televisi, barangkali terlihat spele bagi sebagian orang tapi nyatanya sanggup memberi inspirasi. Kisah pedagang kecil sanggup menyekolahkan anaknya hingga kuliah dan lulus sarjana, meskipun hari yang dilalui tidak mudah. See? Dia menjalani dengan bahagia dengan membawa seribu harapan bahwa anaknya mampu mewujudkan cita-citanya mengenyam pendidikan tinggi melebihi orang tuanya. Melihat orang tuanya bahagia dan ikhlas merawat serta mendidiknya, anak pun serta merta merasa bahagia.

Menjadi orangtua jaman sekarang memang tidak mudah, gampang terdistraksi dan mudah terpicu dengan stress. Stress karena pekerjaan di kantor, dan pekerjaan rumah yang tak habis-habis. Sehingga bila lelah timbul, maka anaklah yang kena ‘batu’nya padahal anak tidak mengerti apa-apa tentang permasalahan orangtuanya. Yang ia tau bahwa orangtuanya adalah temannya di rumah. Lihatlah, meskipun anak telah diomeli dengan berbagai macam kata-kata, bahkan ada orangtua yang ringan tangan, tapi anak selalu tersenyum memeluk orangtuanya, tapi orang tua tidak pernah tau bahwa hati anak sebening dan sekristal kaca yang bisa pecah. Bila sering dihujani dengan segala kata buruk bahkan lebih cenderung membenci anak, maka orang tua tinggallah menunggu ‘bom waktu’ dari anak yang bisa meledak sewaktu-waktu. Nauzubillah semoga kita dijauhkan dari orangtua demikian.

Mengutip dari Buku Parenting milik Aisya Yuhanida Noor seorang psikolog, berikut siklus orang tua bahagia dan membahagiakan anak yang dapat digambarkan :

Dapat dilihat dalam bagan bahwa apabila menjadi orangtua bahagia maka masalah pada anak dapat teratasi sedikit demi sedikit karena anak lebih dekat dengan orangtua, lebih ingin berbicara dari hati ke hati dengan orangtua. Dengan bahagia juga tercipta waktu berkualitas untuk anak sehingga juga dapat tercipta waktu berkualitas dengan pasangan.

Visi keluarga saya adalah keluarga bahagia, berakhlak dan bertauhid. Tahun 2019 ini saya memiliki niat untuk melakukan pengembangan diri terhadap diri saya sendiri termasuk dalam keluarga. Di mana saya mulai tergabung dalam satu komunitas yaitu komunitas Ibu Profesional. Allah Maha Baik. Lewat komunitas ini saya juga mulai ikut kelas Tahsin yang diadakan oleh wali kelas regional, Ustadzah Rifi dari Kelas Rumah Dirham yang membuka kelas Tahsin sebanyak 10x pertemuan. Mulai dari situ saya bersemangat untuk lebih mendalami Al-Quran mengenai bacaan, tafsir hingga menghafal. Maka saya memiliki visi untuk membentuk keluarga bertauhid dan generasi Qur’ani. Minimal saya dapat menceritakan kekuasaan Allah kepada anak saya berdasar pada Al-Qur’an dan menegakkan tauhid bahwa Tiada Tuhan selain Allah dan Nabi Muhammad adalah utusan Allah, sembari juga mengajarkan sunnah tuntunan Nabi Muhammad.

Melihat banyak tontonan yang menayangkan anak generasi zaman now yang tidak memiliki akhlak dan adab dalam koridor agama yang baik, maka saya bercita-cita membentuk keluarga dengan akhlak dan adab yang baik. Ilmu tanpa akhlak akan menghancurkan, dan akhlak merupakan ilmu tertinggi dari adab. Akhlak baik menciptakan adab yang baik, bagi diri sendiri maupun orang sekitar.

Misi keluarga saya :

  • Menularkan kebahagiaan pada orang lain
  • Menciptakan generasi Qurani
  • Pengajaran Life skill

Misi keluarga saya selain menularkan kebahagiaan pada orang lain adalah menciptakan generasi Qurani, di mana saya semakin bersemangat untuk mengikut kelas menghafal Al Quran, minimal juz 30. Misi keluarga saya yang lain adalah menularkan ilmu ketauhidan kepada anak melalui buku-buku Islami. Duduk dan bercerita dengan anak dan cucu-cucu kelak tentang kekuasaan Allah mengenai planet, makhluk hidup, sejarah penciptaan manusia adalah misi keluarga saya juga, karena menurut kami wajah dapat berkeriput namun ilmu senantiasa terpaut.

Keluarga saya juga memiliki misi melakukan pengajaran life skill yakni keterampilan hidup seperti bisnis. Sedikit cerita, sebenarnya saya dan suami memiliki latar belakang berbeda, suami seorang karyawan namun memiliki background orang tua pengusaha furniture di Jogja, sedangkan saya dari keluarga karyawan tapi bapak saya juga mampu membuat berbagai macam kreatifitas seperti lemari, meja, pot bunga dari besi, dll. Suami saya memiliki bakat juga dalam mengutak-atik mesin karena memiliki latar belakang pendidikan mesin dan saya suka menulis. Suami saya memiliki cita-cita mendirikan usaha suatu hari dalam bidang perbengkelan dan dapat membuka lapangan kerja, demikian juga saya ingin membuka rumah belajar berdasar pada kecintaan saya pada dunia literasi. Dari ‘persilangan’ itu, kami sepakat untuk mengajarkan anak pada kemampuan life skill sesuai dengan kemampuan anak agar dapat menjadi bekal survive dalam kehidupannya kelak.

Life skill atau kecakapan hidup dapat dipilah menjadi empat jenis 1) kecakapan personal (personal skill) yang mencakup kecakapan mengenai diri sendiri, kecakapan berfikir rasional, dan percaya diri, 2) Kecakapan sosial (social skills) seperti kecakapan melakukan kerjasama, bertenggang rasa dan tanggungjawab sosial. 3) Kecakapan akademik (academic skills) seperti kecakapan dalam melakukan penelitian, percobaan percobaan dengan pendekatan ilmiah. 4) Kecakapan Vokasional (vocational skills) yaitu kecakapan yang berkaitan dengan bidang kejuruan/keterampilan tertentu seperti bidang perbengkelan, jahit menjahit, atau produksi barang tertentu.

Mengajari anak untuk mengembangkan life skill tentunya tak lepas dari fitrah anak yang diberikan langsung dari Allah. Menurut Ustadz Harry, ada 8 fitrah anak yang harus diaktifkan, yaitu :

1. Fitrah keimanan –> peran sebagai penyeru kebenaran
2. Fitrah Fisik dan Indera
3. Fitrah Belajar –> peran sebagai inovator
4. Fitrah Seksualitas –> peran keayahbundaan
5. Fitrah Bahasa
6. Fitrah Perkembangan
7. Fitrah Bakat –> peran sebagai ahli profesional
8. Fitrah individu dan Sosial

Semua fitrah ini harus tumbuh bersamaan secara lengkap. Ketika fitrah anak tumbuh subur, ia akan mampu menerima syariat dan beramal dengan ikhlas. Agar anak dapat beramal dengan ikhlas maka harus ada 3R yakni:
– Relevan : sesuai dengan fitrah
– Relation : adanya cinta yang kiat pada Allah, Rasulullah dan alam lingkungannya
– Reason : adanya alasan kuat untuk melakukannya

Peran keluarga saya adalah happy inspirator, yakni menularkan kebahagiaan dalam mendidik anak, merawat anak dengan cinta, menyambut anak dengan senyuman dan menjalankan aktivitas serta hobi masing-masing dengan bahagia.

  • Ranah Produktif

Bidang literasi saya pilih untuk ilmu pengembangan diri saya. Saya menyukai dunia literasi sejak SMP, meskipun banyak karya saya yang hilang karena saat itu belum ada platform seperti wattpad tapi tak menyurutkan langkah saya untuk terus menggali tentang dunia kepenulisan. Menjadi penulis adalah goal saya, entah akan mengorbitkan sebuah karya dalam bentuk buku, atau apapun, saya ingin menjadi penulis karena dengan menulis saya dapat menuangkan pikiran dan menebarkan kebaikan.

Misi saya mendekatkan anak saya pada dunia literasi terutama dalam ilmu islam dan ikut berkontribusi pada masyarakat, membagi informasi yang dibutuhkan masyarakat salah satunya melalui blog ini. Misi terbesar saya adalah mendirikan pustaka baca atau rumah belajar gratis bagi yang membutuhkan buku untuk belajar. Berangkat dari banyaknya buku saya yang tergeletak begitu saja, saya ingin buku saya bermanfaat juga untuk banyak orang.

Peran yang saya ambil adalah menjadi ibu rumah tangga yang menulis 😀 Saya ingin menjadi ibu rumah tangga yang produktif di luar ranah domestik saya. Rasanya saya tidak bisa hanya ‘diam’ saja karena otak dan pikiran saya selalu ‘berlari ke sana kemari’, rasanya merasa tercekat bila tidak menulis dan jari terasa ‘gatal’ bila tidak menyentuh tuts keyboard 😀

Tahapan Kurikulum untuk Menjalankan Misi

  • Ranah Keluarga

Untuk menjadi orang tua ahli dalam bidang Pendidikan Orang tua Bahagia, maka tahapan ilmu yang akan kami tempuh adalah sebagai berikut :

  1. Ilmu pengembangan diri : mengikuti kajian menghafal al quran, ilmu manajemen emosi, ilmu pengenalan diri, ilmu kelekatan emosi
  2. Ilmu action : sudah hafal Al Quran minimal juz amma, lebih sabar dengan anak, mulai mengajari anak menghafal surat Al Quran minimal surat pendek di usianya menginjak 3 tahun
  3. Ilmu sharing to caring : Membagi tips menjadi ibu bahagia, menebar manfaat menghafal Al Quran melalui tulisan
  4. Ilmu project : Membuka rumah belajar atau pustaka
  • Ranah Produktif

Untuk menjadi pribadi yang mendalami bidang Literasi, maka tahapan ilmu yang saya tempuh adalah :

  1. Ilmu pengembangan diri : mendalami ilmu kepenulisan
  2. ilmu action : mengirim tulisan ke berbagai platform
  3. ilmu big action : riset untuk memulai cerita novel dan mencari tempat untuk pustaka baca
  4. ilmu project : menerbitkan novel dan mulai membuka pustaka baca

Milestone Life

Alhamdulillah, tahun 2019 saya jadikan ‘titik balik’ saya untuk lebih terpacu menjadi pribadi yang lebih baik. Allah Maha Baik. Maka saya tetapkan 2019 di usia 28 tahun ini sebagai titik Km 0 sebagai titik awal saya melangkah bersama para pasukan di peradaban kecil saya.

Memperbarui Checklist

Tugas pertama saya sebelum melangkah adalah memperbarui checklist harian. Saya pernah menuliskannya di Nice Homework 2, tapi menurut saya tidak banyak aktivitas harian yang harus ditambah, hanya saja ada yang harus saya agak sedikit kurangi yaitu menonton drama korea 😀

Lakukan, Lakukan, Lakukan

Just do it! Lakukan apa yang membahagiakanmu dan membahagiakan orang di sekitarmu! Kalau perlu ucapkan di depan cermin setiap hari setiap bercermin, Aku Bahagia, Aku Ibu Bahagia, Aku Istri Bahagia!

Ternyata, hidup tak selalu tentang drama Korea

Anggi Octaviani

Sumber :

https://www.scribd.com/doc/299454875/Pengertian-Syukur-Menurut-Bahasa-Dan-Istilah

https://www.eramuslim.com/oase-iman/syukur-kunci-hidup-bahagia.htm

Mendidik Anak Sesuai Fitrah

Buku :

Happy Book for Happy Parents, Aisya Yuhanida Noor, 2016

Anggi,

Happy Parents

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.