Oops! It appears that you have disabled your Javascript. In order for you to see this page as it is meant to appear, we ask that you please re-enable your Javascript!
Ceritaku

Berbesar Hati Hiatus Kerja

Jujur aku enggak tau mau ngasih judul apa untuk postingan ini. Jadi, ceritanya awal tahun 2019 lalu aku ingin comeback di dunia kerja setelah 4 tahun hiatus karena menikah dan memiliki anak. Awal Januari lalu aku nekat memasukkan lowongan mengajar lagi di dua institusi pendidikan sekolah swasta yang mencari tenaga pengajar jurusan sejarah, satu lagi pengajar SD. Gayung bersambut, aku dipanggil di kedua institusi tersebut untuk melakukan serangkaian tes.

Akhir Januari aku ikut tes di salah satu yayasan yang dulunya adalah milik salah satu perusahaan terbesar di sini. Aku mengikuti tes tertulis dan lulus. Tibalah aku dalam tes micro teaching (tes mengajar) dan wawancara. Aku rasa di situlah letak kegagalanku. Aku dianggap tidak berpengalaman. “Lho, lama enggak kerja terus ngapain?”, salah satu pertanyaan yang seperti menghujam dalam ulu hatiku, nyesekkkk. Percakapan nyata itu seperti dalam drama korea, Romance is a Bonus Book :

“Mereka membuat sarapan dan kemudian makan siang tiba. Jadi mereka membuat makan siang dan sudah waktunya makan malam, mereka membuat makan malam dan mencuci piring dan kembali pagi lagi. Tidak pernah berakhir. Seperti apa pekerjaan rumah itu. Pewawancara mengatakan itu tidak dianggap sebagai pengalaman. Kenapa tidak? Itu mengajariku untuk bersabar, berbakti dan penuh perhatian” – Kang Dan i, Romance is a Bonus Book.

Pertanyaan wawancara dilanjut dengan menanyakan hal-hal yang sentimentil, yakni tentang pekerjaan suami, yang sebenarnya aku sendiri nggak suka ditanya seperti itu. Ngomong-ngomong memangnya setiap wawancara dalam perusahaan atau instansi harus banget yah ngulik sampe ke dalam? Rasanya aku frustasi sendiri untuk menjawab. Endingnya sih, aku enggak diterima, dengan bahasa halus versi personalianya, “mbaknya diterima tapi kami masih mencari kandidat lain”. HAHAHA BILANG AJA KALAU EMANG DITOLAK!

Lanjut di pertengahan Februari, aku dipanggil tes di salah satu SD Islam. Aku suka banget versi tes di sekolah ini. Sekolah ini benar-benar tidak ngulik ranah pribadi. Mereka hanya bertanya tentang keislaman dan kurikulum dunia pendidikan. Tes tulisnya pun hanya sekitar pengetahuan umum. Meskipun akhirnya aku nggak diterima juga hahaha. Barangkali ada kandidat lain yang lebih baik dari aku.

Move On

Yes, move on! Aku mulai menata hati lagi. Aku tidak menganggap ini sebuah keterpurukan. Meskipun aku ibu rumah tangga, tapi aku masih bisa berkarya dari dalam rumah. Banyak cita-cita yang ingin aku capai selain menjadi guru, yang barangkali memang aku belum pantas menjadi seorang guru, yang digugu dan ditiru. Yang aku lakukan untuk bangkit dari kegagalan :

  • Berpikir Positif. Aku selalu berpikir positif, barangkali rezekiku bukan digaji sama yayasan, tapi aku bisa menggaji diriku sendiri dengan karyaku sendiri. Aku mulai mengikuti lomba menulis yang notabene menulis adalah passionku. Anakku juga masih butuh didikan ibunya langsung, apalagi dia masih di masa emasnya 🙂
  • Bergabung komunitas. Aku bergabung dalam dua komunitas di awal tahun 2019 ini, komunitas ibu profesional dan komunitas menulis. Alhamdulillah komunitas tersebut memberi dampak positif untukku, bahwa aku nggak sendiri. Dalam komunitas ibu profesional banyak ibu rumah tangga yang berkarya dari rumah, berdiri di atas kaki sendiri. Hal ini membuatku lebih bersemangat. Mereka saja mampu, pasti aku juga mampu! Komunitas menulis juga banyak membawa dampak positif yakni berkenalan dengan para penulis mulai dari pemula bahkan ada yang sampai tahap menulis skenario yang sudah banyak tayang di televisi swasta. Mereka? Ibu rumah tangga!
  • Tetap berkarya. Aku tetap menjalani apa yang menjadi kesukaanku yaitu menulis, di instagram atau blog. Biarlah semua tulisanku mengalir apa adanya.
  • Berdamai dengan keadaan. Alih-alih menyalahkan yayasan atau sekolah yang tidak menghendaki pelamar yang tidak berpengalaman, aku lebih memilih berdamai saja dengan keputusan-Nya. Lebih baik memiliki ide dan berkarya dari dalam rumah, daripada punya ide nanti dikebiri karena kalah sama senior. Seperti kisah drama korea di Romance is a Bonus Book, di mana hasil kerja Kang Dan-i diakui milik direktur dan bukan karena usaha Kang Dan-i sendiri.

Begitulah, mungkin memang setiap yayasan atau sekolah memiliki standar sendiri untuk memajukan institusinya. Sama dengan aku, kamu, berhak punya standar hidup sendiri untuk menjadi pribadi yang lebih baik dan bermanfaat untuk orang banyak. Sebuah cita-cita kini tak hanya ‘dipandang’ terhormat lalu menerima gaji besar. Menjadi ibu rumah tangga profesional dan bahagia juga merupakan cita-cita mulia. Kamu, aku, kita semua berhak bahagia dengan caranya sendiri 🙂

Selamat berbahagia,

Anggi

Stay at Home Mom, Love Poem Email : anggioctvn@gmail.com

2 Comments

  • Reyne Raea (Rey)

    Peluk mbaaa…
    Semangat mba, saya kok jadi ingat waktu balik bekerja tahun 2015 lalu, dan yes sama.
    Saya balik bekerja setelah 4 tahun jadi IRT.

    Alhamdulillah sih saya gak pakai ditanyain aneh-aneh.
    Meskipun tetep aja ada nada meremehkan seolah saya di rumah cuman tiduran doang.

    Dan ujungnya sih saya diterima, meski gajinya kecil banget dengan alasan saya kelamaan jadi IRT.

    Untungnya bos nya tau kemampuan saya, setelah 3 bulan, gaji naik pesat.

    Tapi setahun kemudian, saya resign lagi hahahah

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Lewat ke baris perkakas