Oops! It appears that you have disabled your Javascript. In order for you to see this page as it is meant to appear, we ask that you please re-enable your Javascript!
Opini

Reuni?? Mau sih, Tapi…

Dua minggu lalu Bapak saya akhirnya ketemu dengan teman lamanya jaman SMA di sosial media dan seperti biasa berakhir dalam group Whatsapp dan setelahnya merencanakan reunian di kota Blitar. Beliau pun semangat berangkat ke Blitar di awal Maret lalu. Sebelumnya kami juga dirempongkan dengan mencari oleh-oleh yang bakal dibawa buat temen-temen reuniannya. Begitu juga dengan cerita ibu saya yang pada akhirnya bersua juga dengan teman-teman SPG-nya (sekolah keguruan era dulu), lalu berakhir pada group Whatsapp berlanjut video call-an. Lalu bagaimana dengan cerita saya?

Sekolah, selayang pandang

Segala ‘kegaduhan’ reunian dalam cerita bapak ibu saya kembali mengingatkan saya pada cerita sekolah saya. Saya besar dan lahir di salah satu kota dengan perusahaan BUMN penghasil pupuk. Saya tinggal di perumahan milik karyawan. Di dalam perumahan kami terdapat sekolah yayasan yang menyelenggarakan pendidikan bagi putra putri karyawan. Namanya juga Yayasan, jadi dari TK sampai SMA tetep lingkungannya itu-itu aja dengan teman yang itu-itu aja. Bosan nggak heheu.

Lingkungan dengan teman yang tidak berubah. Awal sekolah di SD sih biasa aja, namun semua berubah sejak di SMP. Namanya juga anak remaja mencari jati diri, pastilah setiap sekolah punya Genk masing-masing. Maka terciptalah Genk atau kelompok-kelompok kecil yang digandrungi hanya dengan sahabat-sahabat mereka yang saling ‘klik’ dan kompak. Namun hal ini berdampak pada ‘pembullyan’ secara sosial pada teman lainnya. Yha jelas, nggak mau temenan dooong sama yang enggak ‘sepadan’ dengan mereka. Ini berjalan hingga SMA bahkan sampai lulus kuliah dan menikah. Saya ingat sekali Genk-genk ini ramai-ramai masuk di jurusan beken, IPA dong tentunya. Kemudian sisanya ‘terdampar’ secara pasrah di jurusan IPS dan punya genk juga 😀

Terus saya punya genk? Oh jelas TIDAK! Kwkwk. Saya tipe yang nggak suka bergaul sama manusia, eh maksudnya saya nggak terlalu suka dengan berkumpul dengan segala gaya hidupnya. Saya senang berteman dekat, tapi cukup sampai situ aja, nggak usah banyak-banyak. Soalnya ribet! Mungkin karena kepribadian saya yang introvert, jadi keliatannya pendiem, padahal pikiran saya melaju cepat ke mana-mana (Shinkansen kalii). Nah, dampak dari atmosfer ‘genk’ di jaman sekolah itu pada akhirnya membuat saya malas untuk bertemu lagi semacam reunian, entah kecil-kecilan atau akbar sekalipun. Means, atmosfernya dari awal aja udah ‘nggak sehat’. Lagian, yakin tuh isi genk nya nggak saling gibahin? Yakin tuh, isi genknya nggak suka bully juga? 😀

Reuni Kami

Angkatan saya pernah beberapa kali mengadakan reunian, tapi anehnya itu diadakan satu tahun sekali. Saya sih bodo amat yah, cuma aneh aja apa yang mau keliatan perubahannya kalau reuniannya setahun sekali. Dan juga jaman sekarang orang gampang lihat dari sosial media aja. Efeknya nggak perlu nanya macam-macam, seperti ‘kerja di mana sekarang?’. Reunian terakhir saya pernah datang sebelum saya nikah tahun 2015 waktu buka puasa bersama. Saya datang bersama tetangga saya yang dulu SMP dan SMA nya pindah ke Jogja kemudian setelah lulus dan menikah kembali ke kota ini. Dan reuni itu pertama kali dan terakhir saya datang. Sebenarnya sudah bisa saya tebak prediksinya. Semua tetap bergumul dengan genknya sendiri-sendiri. Sampai MC yang teman saya sendiri bilang, “ayo dooong ngumpul semua ke tengah, udah gede semua lho ini…”. 😀 Jadi?? Masih dong seperti itu ‘atmosfer’nya, mau sampai kapanpun!

Saya iri melihat bapak ibu saya yang punya reuni berbeda, teman SD, teman SMP bahkan teman SMA beda semua. Artinya mereka punya teman banyak apalagi kalau sudah usia tua pasti jelas perbedaan fisik berikut mengikutinya tentang nasib. Saya iri pada reunian bapak ibu saya karena nasib dari teman-temannya yang berlika-liku dan berbeda. Ada yang jadi jenderal, ada yang sukses menghantarkan anaknya hingga S2, ada yang single fighter, bahkan hingga nasib tak baik seperti berakhir menjadi tukang ojek saja. Dalam reunian mereka tak peduli apapun latar belakangnya, tapi sekali bersilaturahmi tetep seru seperti layaknya anak sekolah yang dulu pernah main bareng.

Berbeda dengan latar belakang sosial di lingkungan saya yang berada. Yang nggak terlihat berada, yha dijauhin lah! Saya pernah berteman dengan anak seorang supir perusahaan, dia baik. Sayangnya, dijauhin. Entah ke mana teman-teman yang punya sosial berbeda itu kabarnya sekarang. Semoga tidak menjadi mimpi buruk karena pernah berada pada ‘atmosfer’ seperti itu.

Mau ikut reuni kalau…

Saya mau reunian kalau 100 tahun lagiiiiiiih HAHAHAHA. Maksudnya saya mau kalau udah lama banget gitu tahunnya misal 20 tahun lagi pas anak udah kuliah wakakak. Intinya sekarang saya masih mau berdamai dengan keadaan, apalagi dengan tipe-tipe manusia yang alangkah rumitnya dan super ribet. Sungguh, reunian dengan kondisi berada diluar itu bikin si introvert enggak betah. Mending di rumah, baca buku, nulis, atau ngapain kek selain cuap-cuap dan kemudian makan-makan terus lewat gitu aja. Seperti nggak ada yang spesial buat diceritain. Jadi nih ya tiap ketemu teman (teman??) ya itu adalah teman SD, SMP, SMA 😀 Kalau reunian pun reuninya sama SD, SMP, SMA 😀 Yha itupun kalau teringat terundang reunian, kalau enggak ya udah nggak masalah juga 🙂

Kalau kamu gimana nih? Suka ikut reunian gitu nggak?

Anggi

Stay at Home Mom, Love Poem Email : anggioctvn@gmail.com

4 Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Lewat ke baris perkakas