Apa Aliran Skincaremu?

Jadi gimana cebong – kampretnya? Udahan belum? Yuk bahas skinker aja yang menyatukan umat. Sudah beberapa minggu ini saya bergabung di salah satu grup WA komunitas organik dan banyak belajar dari komunitas tersebut. Sepertinya produk natural dan organik sudah mulai menjadi gaya hidup. Saat ini sudah banyak orang yang mulai peduli dengan kesehatan diri termasuk lingkungan.

Dalam tulisan ini saya mau sedikit cerita tentang perjalanan saya dalam pencarian jodoh, iya, jodoh untuk kulit saya. Kulit saya punya tipe yang oily, berjerawat saat pra mens, dan nggak gampang cocok dengan skincare terutama krim dari pabrikan. Beberapa kali saya salah membeli produk krim dan pelembab apalagi yang ada kandungan pemutih, bukan pemutih abal ya, contohnya seperti produk Swedia yang terkenal yang pernah saya pakai namun tidak cocok, O*timals White. Kulit saya langsung terasa gatal, ada sensasi panas dan timbul ‘gradakan’ seperti purging atau mungkin itu breakout. Pernah juga mencoba krim dengan ambassadornya BCL, nggak cocok juga. Krim dari Kimia Farma sama juga hasilnya, panas dan gatal! Kemudian saya mencoba ‘menenangkan’ kulit saya yang ‘gradakan’ dengan menemplok perasan air lemon asli ke wajah saya, perih, bodoh! Iya, dulu saya benar-benar ‘buta’ dengan perawatan karena saat itu era 2012an jaman kuliah semester akhir, belum rame-ramenya blog seperti sekarang sehingga tidak mudah mendapat informasi. Beauty blogger yang saya gandrungi hanya mbak Sekar Arum, pemilik Racun Warna-Warni yang kondang itu (mbak, kamu sungguh panutanque!). Ditambah smartphone tidak secanggih sekarang, ditambah saat itu bukan galau skincare tapi galau jodoh 😀 Akhirnya saya diemin aja gradakan saya beberapa hari, akhirnya mengempis sendiri dan itupun prosesnya lama hampir sebulan lebih.

Suatu hari saya mendapat Giveaway dari salah satu online shop di instagram, seberat 3 kg. Iya, bener 3 kg. Giveaway nya berisi lulur badan organik oat, masker rambut, sugar pot wax, pie susu dhian 20 bungkus, parfum Miracle, jam tangan, headset, tas batik, dress ala Ola Ramlan. Di situ jiwa ke-misquuen-an saya bergetar hebat hingga saya bercucuran air mata. Saya langsung merasa khaya.

 

Berikut rincian giveway kemarin :

Dua gambar di atas adalah sisa-sisa kenangan Giveaway era 2013an haha. Alhamdulillah dan itu pertama kalinya saya dapat giveaway sebanyak ituuuh dan sampai 2019 ini saya belum pernah menang lagi, dasar nasib kwkwk. Nah mulai dari situ saya kenal dengan produk-produk natural, mulai dari waxing, masker rambut gaharu, dan lulur wajah. Saya lumayan cocok dengan produk-produk natural yang mereka kirim. Kulit saya lumayan anteng, calm dan nggak bermasalah sama sekali. Rambut juga lebih halus meskipun baru sekali pakai. Setelah habis semua produknya, saya mulai searching produk natural lain di instagram, dan mulai ramailah produk lulur wajah Natural milik Ci Shiau Hong, meskipun menurut saya saat itu mahal untuk kantong mahasiswa akhir, tapi bener-bener worth it. Saya langsung memborong 2 produk andalan mereka saat itu, masker dan lulur wajahnya. Hasilnya jangan ditanya, muka glowing dan halus. Seterusnya saya terus bereksperimen dengan beberapa produk natural lainnya, Roro Mendut, Velrose Secret, Keraton Jogja, sampai brand lokal kecil-kecil lainnya yang murah-murah banget. Saya amati perkembangan produk natural sampai saat ini terus berkembang sampai saya bener-bener ketinggalan saat mulai punya anak, karena 1 tahun pertama kemarin saya fokus pada anak saya mulai dari melahirkan, Mpasi, sampai anak bisa jalan. Setelahnya saya merasa ‘free’ dan kini mulai memiliki banyak waktu untuk mulai merawat diri lagi. Dan saya mulai dari 0 lagi tentang dunia skincare, mulai belajar lagi apalagi sekarang ada lagi istilah organic skincare yang memiliki perbedaan dengan natural skincare biasa.

Jadi aliran skincaremu apa?

Sama kayak makan, perawatan kulit juga sudah menjadi gaya hidup. Ada yang saklek dengan vegan beauty, ada yang organic beauty, ada yang natural beauty, ada yang pasrah aja lah dengan produk drugstore yang gampang ditemuin di pasaran.

Nah, beberapa waktu lalu ada anggota komunitas nanya, “mbak pake skincarenya apa?”, duh mah saya mah apa atuh, produk saya masih receh banget. Kalau saya pilih yang sesuai hati nurani kayak pilpres, dengan kondisi kulit dan kondisi dompet mamak apalagi kalau lagi ada diskon Shopee ditambah voucher gratis ongkir plus koin receh dari Shopee selalu membuat hati mamak gembira.

Sejak saya pernah mendapat Give away produk natural jaman purba dulu, ditambah dengan kondisi kulit yang agak ‘berantakan’, berminyak tapi agak sensitif juga, saya memutuskan untuk menggunakan produk natural untuk perawatan kulit saya. Apalagi nih ya di Indonesia sudah banyak produsen lokal yang berlomba menciptakan produk natural tanpa bahan kimia berbahaya seperti SLS dan yang pasti cruelty-free dan juga halal serta ramah di kantong.

Produk natural juga pada akhirnya ampuh dan selalu menjadi holy grail untuk kulit saya ketika dalam kondisi break out atau berjerawat. Meskipun tidak menutup kemungkinan saya masih menggunakan beberapa produk pabrikan yang masih menggunakan bahan sintesa. Lha kok gitu mbyak, nggak konsisten dong! Well, sama kayak makan kan, untuk memilih makanan saya tidak menganut aliran tertentu, saya masih makan daging sapi, daging ayam, kadang makan gorengan, martabak, pizza, minum Thai tea, uh enyaaak 😀 yang penting nggak mengkonsumsi berlebihan. Produk pabrikan pun sebisa mungkin saya menghindari produk yang masih ada alkoholnya, SLS, animal tested dan paraben. Jadi, memang harus sedikit kritis dan harus repot untuk selalu membaca komposisi dalam satu produk. Selain itu mencari produk natural di kota saya sangat sulit karena memang tidak ada distributor yang menjual produk natural, jadi harus membeli produk natural tersebut melalui online dan memakan waktu lama.

Goals

Repot ganti skincare buat apa mbyak? Ketika netijen bertanya. 

Setiap orang pasti punya tujuan sendiri dalam hidupnya, eaaa. Selain ingin kulit sehat, tentu saja kalau dalam hal skincare saya ingin lepas dari kosmetik. Kalau bisa sih mata panda memudar, flek memudar, dan bibir kembali cerah. Karena warna bibir saya sudah lumayan menghitam karena kebanyakan ganti-ganti lipstik. Semahal apapun kosmetik yang dipakai, kalau perawatan kulitnya nggak bener jatuhnya sih sama saja kalau menurut saya. Percuma pakai conceal mahal, pigmented kalau aslinya emang mata pandanya tebel banget bakal susah nutupnya. Itu menurut saya yah nggak tau kalau mas Anang.

So, guys sudahkah kamu menentukan pilihan dalam merawat dirimu?

Salam Cantik, 

Anggi

8 Replies to “Apa Aliran Skincaremu?”

  1. Aku belakangan juga berusaha menghindari beberapa ingridients tertentu Mba, misal SLS. Lumayan ngefek ternyata, badan rasanya lebih lembab daripada yg dulu pas makai ingridients nabrak2 😀

    Btw Komunitas organik itu cara gabungnya piye Mba? Aku tertarik juga hehehe

  2. Aku juga mulai konsen ke anti aging malah.. hahahaha.. ya walaupun gak sejerawatan dulu sekarang masih pilih2 skincare karena skincare itu cocok cocokan semacam punya pacar.. wkwkwkwk. Curcoool deh.

    Tapi setelah beberapa kali ganti, aku ternyata cocok pakai yang ada ingredients green tea sama rose. Malah tea tree yang masih belum bener2 cocok.

    1. bener mbak.. 3 kg lho mbak dan udah jarang olshop ngasi segitu. Sedihnya, olshop itu udah jarang promo skincarenya 🙁 padahal aku cocok banget sama masker rambutnya. Senangnya kalo kulit nggak sensitif, gak susah-susah cari produk yg pas mbak hehe

  3. alhamdulilah kulitku berminyak tapi gak sensitif mba jadi masih aman banget pake skinker drugstore. btw udh pernah coba skinker rradiant mba? itu home made juga lho…enakeun

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.