Sugar Wax, Penting Nggak Sih?

Pasti masih inget dongg ya tren bulu keti lebat tahun 1980an, di mana banyak artis film papan atas memperlihatkan bulu keti dengan blak-blakan, sebut saja Eva Arnaz, Lidya Kandau dan Eva Schurman. Bulu keti lebat menjadi standar kecantikan dan keseksian di masa itu. Berbeda dengan era sekaran, para artis kebanyakan melakukan perawatn khusus terutama di bagian keti. Maka bermuncullah salon kecantikan bonafit yang menawarkan waxing atau hair removal treatment menggunakan teknologi penyinaran. 

Keti gondrong, memicu bau badan maka saya memilih untuk melakukan home treatment sendiri aja, karena dompet juga nggak sanggup kalo mau treatment ala ala ertong.

dana mepet 😀

Saya juga udah pakai dua brand sugar waxing yang udah pernah saya review : Cool Sugar Wax dan Ai Wax. Saya merasakan manfaat dari waxing selain mengurangi bau badan, bulu rambut yang tumbuh menjadi lebih halus.

Sebenernya apa toh sugaring itu?

Sugaring merupakan bagian dari waxing namun dengan menggunakan bahan-bahan alami seperti lemon, madu, gula, dan air yang dicampur menjadi pasta, jadi dapat menimbulkan rasa lengket dan bisa dioleskan ke kulit. Pasta dioleskan ke arah pertumbuhan rambut, lalu dilepas dengan kain stripes ke arah yang berlawanan. Prosedur ini juga menghilangkan rambut menurut akarnya. Nah metode ini ternyata sudah dilakukan oleh orang-orang jaman dulu di Asia Selatan dan Timur Tengah yang dikenal dengan nama : halawa. Kalau mau bikin sendiri sih jadi kayak bikin gulali atau karamel hihi tapi efeknya kurang nampol, ini review dari teman saya yang iseng nyoba bikin sugaring homemade sendiri tapi gatot 😀

Kelebihan Sugaring Wax

Dibandingkan dengan waxing konven, sugaring wax memiliki beberapa kelebihan. Berikut penjelasannya dilansir dari idntimes :

Terbuat dari Bahan Alami

Pasta dari sugar wax terbuat dari 100% bahan alami yaitu campuran gula, lemon dan air (terkadang ditambah madu, garam atau essential oil). Hal ini berbeda dengan wax konvensional berbahan resin yang biasanya mengandung berbagai bahan tambahan seperti parfum, pewarna dan pengawet yang dapat menyebabkan iritasi hingga reaksi alergi bagi sebagian orang.

Meminimalisir Resiko Ingrown Hair

Ingrown hair adalah kondisi dimana rambut yang baru tumbuh tidak dapat tumbuh keluar, melainkan terperangkap di dalam kulit. Hal ini biasanya terjadi pasca mencukur terlalu pendek atau pasca melakukan waxing.

Teknik waxing yang dilakukan dengan mencabut rambut berlawanan arah tumbuhnya menyebabkan rambut rawan patah di dalam kulit, yang kemudian memicu tumbuhnya ingrown hair. Namun, sugar wax dilakukan dengan teknik sebaliknya sehingga resiko ingrown hair dapat diminimalisir.

Mengangkat folikel rambut plus sel kulit mati

Sugar wax tidak terlalu menyakitkan jika dibandingkan dengan wax konvensional. Salah satu alasannya adalah karena pasta sugar wax tidak akan merekat terlalu kuat dan menyebabkan sel kulit hidup ikut terangkat, seperti yang dilakukan wax konvensional.

Sugar wax cenderung lebih santai saat menyentuh kulit. Ia hanya akan menempel pada folikel rambut dan sel kulit mati, kemudian mengangkatnya tanpa mengusik sel kulit hidup. Mencabut bulu pun dapat dilakukan tanpa membuat kulit memerah karena ikut terkelupas.

Tidak membuat kulit terbakar

Wax konvensional perlu dipanaskan sebelum diaplikasikan agar nantinya dapat melekat dengan baik. Akibatnya wax yang dilekatkan ke kulit seringkali terlalu panas hingga menyebabkan kulit merasakan sensasi terbakar.

Berbeda dengan wax konvensional, sugar wax tidak akan membakar kulit karena pasta gulanya dapat digunakan tanpa harus dipanaskan terlebih dulu. Selain itu, membersihkan residu sugar wax juga mudah dilakukan karena sifat gula yang mudah larut dalam air, sementara residu wax konvensional yang menempel di kulit perlu dibersihkan dengan pembersih berbahan dasar minyak agar dapat meluruh.

Cara Sugar Wax di Rumah

  • Hindari krim retinoid sebelum waxing
    Retinoid adalah kelompok obat yang struktur kandungannya berhubungan dengan vitamin A. Retinoid merupakan salah satu nutrisi penting bagi tubuh yang umumnya digunakan untuk merawat kesehatan mata, pertumbuhan, kekebalan tubuh (imun), dan reproduksi.  Retinoid pada kecantikan kulit berguna untuk mengatasi jerawat, kerutan, menjaga elastisitas kulit, serta mencerahkan flek hitam (hiperpigmentasi) akibat paparan sinar matahari. Sebaiknya kamu tidak menggunakan produk perawatan atau obat yang mengandung retinol atau retinoid sebelum memulai waxing, agar tidak terjadi pengelupasan kulit bersamaan dengan rambut saat waxing.
  • Bersihkan area kulit dan keringkan
    Sebelum waxing, bersihkan terlebih dahulu area yang akan kamu wax untuk menghilangkan kotoran, sel kulit mati, dan produk perawatan kulit. Setelah itu, keringkan kulit secara menyeluruh.
  • Ikuti petunjuk dalam menyiapkan wax (lilin)
    Tentunya wax yang digunakan orang tidak selalu sama. Disarankan untuk membaca petunjuk dalam menghangatkan wax, yang umumnya terdapat pada kemasan.
  • Mengoleskan wax di area kulit
    Setelah wax telah jadi dalam bentuk kental, maka mulailah mengoleskannya di area kulit yang ingin dikerjakanUsahakan untuk selalu mengoleskan lilin searah pertumbuhan rambut, untuk hasil terbaik.
  • Tempelkan dan lepaskan strip kain atau kertas
    Ketika wax sudah rata di area kulit yang dituju, barulah mulai menempelkan strip kain atau kertas di atas area wax dan diamkan beberapa detik. Setelah itu, kamu bisa menariknya dengan cepat ke arah yang berlawanan dengan arah pertumbuhan rambut.

Perawatan Pasca Waxing

Setelah wax sebaiknya melakukan perawatan setelah waxing :

  • Hindari penggunaan deodoran/bedak/parfum pada area yang diwaxing karena area kulit tersebut masih mengalami proses penyembuhan akibat luka pencabutan rambut, yang membutuhkan pemulihan minimal 4 jam setelah proses waxing.
  • Hindari berendam dan mandi dengan air hangat karena dapat menyebabkan proses peradangan pada kulit pasca waxing.
  • Lakukan proses scrubbing pada area kulit (4 sampai 6 hari sesudah waxing) untuk menghindari pertumbuhan rambut ke dalam pori-pori kulit.
  • Perhatikan selalu tanda dan gejala yang dapat menandakan terjadinya efek samping waxing seperti kemerahan, nyeri/panas/perih, bengkak, bintik hitam yang nyeri, dan gatal yang berlebihan.

Kondisi yang Tidak Cocok untuk Melakukan Waxing

Ada beberapa kondisi kulit yang tergolong rentan mengalami efek samping dari waxing, sehingga tidak direkomendasikan melakukannya:

  • Orang yang sedang menjalani pengobatan retinoid
  • Mengalami iritasi kulit
  • Orang yang mengalami luka pada kulit
  • Memiliki kulit yang terbakar sinar matahari
  • Menderita penyakit kulit kronis, seperti eksim dan psoriasis
  • Menderita kondisi autoimun, seperti penyakit lupus
  • Memiliki kulit sensitif
  • Ibu hamil. Ibu hamil juga hendaknya berhati-hati terhadap waxing. Terlebih lagi bagi ibu hamil yang baru pertama kali melakukan waxing. Sebab kondisi kulit saat hamil bisa berubah. Tubuh akan memproduksi darah dan cairan ekstra untuk mendukung pertumbuhan bayi. Akibatnya, kulit pada ibu hamil mungkin lebih sensitif dari biasanya, dan membuat waxing terasa lebih menyakitkan.

Conclusion

Jadi penting nggak sih sugar wax itu? Nah kalau ini tergantung individu ya. Bagi yang mengedepankan kebersihan diri, pastinya sugaring ini menjadi sangat penting dan menjadi perawatan tiap bulan seperti creambath. Bagi yang ingin mencoba sugaring ini, harap diperhatikan rambu-rambunya terutama kondisi tubuh. Jangan lupa membaca petunjuk sugaring pada kemasan atau kertas petunjuk produk dan jangan lupa melakukan perawatan pasca waxing.

Ada yang udah nyoba sugar wax belum? Share pengalamanmu di komentar ya 🙂

Salam Cantik,

Anggi

Sumber referensi :

https://www.idntimes.com/life/women/friska/alasan-sugar-wax-aman-untuk-menghilangkan-bulu-c1c2/full

https://www.alodokter.com/kulit-terlihat-mulus-berkat-waxing

https://www.alodokter.com/komunitas/topic/waxing-ketiak

3 Replies to “Sugar Wax, Penting Nggak Sih?”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.