Jamu dan Perjalanan Panjangnya sebagai Warisan Budaya Nusantara

Hayo siapa yang suka banget sama jamu? Atau ada yang belum pernah minum jamu? Jamu gendong atau jamu sachet instan sama segarnya ya apalagi kalau penjual jamunya uayuuu duh siapa yang tak tahan untuk melirik hihi. Tapi ngomong-ngomong nih pernah terpikirkan nggak oleh kalian, darimana asal-usul jamu itu berasal? Terus kalau udah turun-temurun kenapa sampai hari ini tidak ada gaung untuk menjadikan jamu yang diresmikan paten oleh UNESCO sebagai warisan Indonesia? Hari Jamu emang ada ya?

Tulisan tentang jamu kali ini adalah untuk menjawab tantangan dari grup komunitas 1 Minggu 1 Cerita. Saya baru bergabung di komunitas 1 Minggu 1 Cerita dua minggu lalu. Jadi, peserta diharuskan memposting tulisan blog minimal 1 Minggu sekali dan menyetor tulisan di form yang telah disediakan. Lalu di tiap bulannya (kalau tidak salah) peserta diberi tema khusus. Nah minggu ini temanya adalah tentang Budaya. Kemarin saya ingin membahas tentang budaya nyekar karena bertepatan dengan bulan Ramadhan, tapi topik itu ternyata sudah ada yang ambil hehe. So saya akhirnya mengangkat tentang jamu sekaligus berhubungan dengan niche blog saya yang mengusung tentang perawatan/skincare natural.

Asal usul jamu itu gimana sih?

Jamu atau djamoe merupakan singkatan dari djampi yang berarti doa atau obat dan oesodo (husada) yang berarti kesehatan. Dengan kata lain djamoe berarti doa atau obat untuk meningkatkan kesehatan. Emang jamu itu darimana sih? Banyak artikel nyebutin kalau jamu itu udah ‘turun temurun’ dari nenek moyang tapi ceritanya gimana? Gini genks, ada beberapa bukti peninggalan sejarah di Indonesia yang menjelaskan darimana jamu itu berasal. Pada relief Candi Borobudur ada lukisan tentang jamu, relief Candi Prambanan, Candi Penataran dan Candi Tegalwangi juga menjelaskan tentang penggunaan jamu pada zaman dahulu. Selain relief, mengenai formulasi jamu ini juga tertulis di daun kelapa atau lontar. Pada zaman kerajaan, pengetahuan tentang formulasi jamu juga telah dibukukan dalam sebuah kitab, contoh pada Bab Kawruh Jampi Jawi oleh Keraton Surakarta.

Nah, sejak zaman penjajahan Belanda pada awal abad ke-17, para dokter berkebangsaan Belanda, Inggris ataupun Jerman tertarik mempelajari jamu, beberapa di antaranya menuliskannya ke dalam buku seperti “Practical Observations on a Number of Javanese Medications” oleh dr. Carl Waitz pada tahun 1829. Isi buku antara lain menjelaskan bahwa obat yang lazim digunakan di Eropa dapat digantikan oleh herbal/tanaman (jamu) Indonesia, misalnya rebusan sirih (Piper bettle) untuk batuk, rebusan kulit kayu manis (Cinnamomum) untuk demam.

Seiring berjalannya waktu penemuan-penemuan mengenai khasiat jamu makin banyak bermunculan. Konsumsi jamu banyak dianjurkan sebagai upaya pencegahan untuk menggantikan obat yang sangat mahal. Penggunaan jamu meningkat tajam saat penjajahan Jepang. Dalam kurun waktu tersebut, terdapat tiga pabrik jamu besar yang berjaya yaitu PT Jamoe Iboe Jaya (1910), PT Nyonya Meneer (1919) dan PT Sido Muncul (1940).

Relief Karmawibangga Candi Borobudur tentang jamu

Jamu di Indonesia Saat Ini

Jamu di Indonesia tak tergerus oleh zaman dan semakin berkembang. Apalagi bagi mereka yang memperhatikan kesehatan dengan helathy life campaign mengusung ‘back to nature’ menjadikan alam sebagai teman. Masih banyak kita temui bude jamu gendong atau jamu tradisional lain di jual di pasar-pasar tradisional. Bahkan ada jamu yang berbentuk serbuk sachet sehingga praktis dan ekonomis. Saat ini banyak juga home produksi jamu dengan dikemas cantik di botol kaca atau plastik, yang biasa disebut jamu kekinian, membuat nilai jual jamu semakin tinggi. 

contoh jamu kekinian

Kalau saya pribadi memang lebih senang mengkonsumsi jamu saat sakit daripada minum obat. Saya lebih sering membeli jamu di pasar tradisional. Varian jamu yang paling saya suka adalah kunyit asam dan perpaduan kunyit asam dengan sirih. Meskipun memiliki cita rasa pahit, tapi khasiat jamu lebih manjur untuk kesehatan dan kebersihan badan. Badan jadi nggak sering bau lagi. Apalagi kalau selesai melahirkan, jamu membantu memulihkan tenaga pasca bersalin dan diyakini melancarkan produksi Asi. Meskipun dalam ilmu kedokteran, minum jamu pasca persalinan masih dalam perdebatan pro dan kontra. Namun pengalaman saya sendiri pasca melahirkan kemarin, badan terasa lebih segar setelah minum jamu, ‘bau’ asi juga segar. Bau badan anak yang minum asi dari ibu yang minum jamu (belibet ngomongnya) diyakini membuat bau anak tidak ‘amis’ susu. Saya membuktikan sendiri kemarin bau anak saya tidak bau ‘amis’ susu karena saya rajin mengkonsumsi jamu. Berterimakasihlah saya pada ibu yang cerewet banget agar saya rajin mengkonsumsi jamu. Saya juga pernah membuat jamu kunyit asam sendiri. Enaknya sih kalau bikin sendiri bisa mengira-ngira manis dan asam sesuai cita rasa sendiri. Berbeda kalau beli jamu di pasar, kadang ada yang pas di lidah ada yang enggak. Ada yang terlalu manis ada juga yang terlalu kental.

Hari Jamu Nasional, ada ya?

Tanggal 2 Oktober sudah ditetapkan sebagai Hari Batik Nasional berawal dari penetapan batik oleh UNESCO tapi ternyata ada Hari Jamu Nasional di Indonesia yang jatuh di tanggal 27 Mei. Hal ini dilatarbelakangi oleh semakin pudarnya eksistensi jamu di negeri sendiri, pada tanggal 27 Mei 2008 dan kurangnya perhatian pemerintah dalam perlindungan hak kekayaan intelektual dan/atau hak paten kepada peneliti-peneliti Indonesia menyebabkan banyak tanaman asli Indonesia dipatenkan di luar negeri seperti xanthorrizol dari Curcuma xanthorriza, buah merah (Pandanus conoideus), andrografolid dari sambiloto (Andrographis panniculata).

Berangkat dari situlah maka Hari kebangkitan jamu nasional Indonesia secara resmi ditetapkan oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pada masa itu, sekaligus meresmikan jamu sebagai kearifan lokal milik Indonesia. Penambahan ayat baru (pasal 48 ayat 1) pada UU no 36 th 2009 tentang pengobatan dan perawatan herbal merupakan salah satu upaya pemerintah dalam pelestarian jamu. Di bidang pendidikan, tahun 2010 diresmikan Program Magister Herbal Indonesia di UI yang bertempat di Departemen Farmasi FMIPA atas prakarsa Rektor UI dengan PT Martina Berto. Program dengan dua peminatan yaitu Herbal Medik dan Estetika Indonesia.

Perjuangan yang Belum Selesai

Perjalanan si Jamu belum usai. Setelah sempat diklaim oleh Malaysia pada 2014 lalu, Jaya Suparna sang Budayawan Indonesia masih memperjuangkan Jamu agar terdaftar di UNESCO untuk diakui sebagai warisan kebudayaan Indonesia.

Dalam artikelnya di RMOL.co, ia melukiskan rasa prihatinnya bahwa jamu tidak memperoleh tempat dalam pelayanan kesehatan nasional Indonesia. Menurutnya, Segenap sudut pelayanan kesehatan nasional Indonesia dimonopoli kebudayaan pelayanan kesehatan Barat mulai dari perawat, paramedis, dokter, apotek, apotek sampai rumah sakit. Meskipun jamu asli Indonesia memiliki keunggulan lebih dari sisi keberagamannya dibandingkan dengan obat-obatan herbal dari Cina, namun rasa kepemilikan dan kebanggaan bangsa ini terhadap jamu tradisional masih sangat rendah. Itulah salah satu hal yang bisa menghambat proses diakuinya jamu sebagai warisan budaya dunia asli Indonesia oleh UNESCO. Ia juga merasa malu dengan bukti bahwa jamu tradisional Indonesia tidak disebut dalam buku milik UNESCO.

Ia juga bercerita, Gaura, sahabatnya warga Indonesia berketurunan Australia, mengirimkan sebuah buku berjudul “Traditional Medicine, Sharing Experiences from the Field” yang diterbitkan oleh UNESCO dan ICHCAP (International Information and Networking Centre for Intangible Cultural Heritage in the Asia-Pacific Region under The Surveillance of UNESCO). Di dalam buku kebudayaan dunia itu termuat informasi tentang keanekaragaman obat tradisional sebagai warisan kebudayaan Korea, India, Bangladesh, Uganda, Kurasao, Vietnam, Suriah, Italia. Namun sayang setriliun sayang jamu sebagai mahakarya kebudayaan obat tradisional Indonesia sama sekali tidak disebut di dalam buku hebat tersebut.

Apa yang Bisa Kita Lakukan

Sebagai warga negara Indonesia, kita harus bangga dengan produk warisan budaya Indonesia. Memang, banyak minuman kekinian yang menyajikan menu modern seperti kopi, Thai Tea dan minuman lainnya. Tapi hal itu tidak menyurutkan langkah kita untuk tetap melestarikan jamu, minuman tradisional tercinta kita.

Hal kecil yang bisa kita lakukan salah satunya adalah dengan mengkonsumsi jamu sebagai habbit. Kita juga  bisa mempelajari pembuatan pengobatan tradisional dengan menggunakan bahan alam yang dapat ditemukan di lingkungan sekitar kita. Apabila kita sedang dilanda penyakit tidak berat, seperti flu, batuk, pilek atau capek-capek, maka baiknya kita tidak langsung mengkonsumsi obat farmasi, tapi alihkan dengan minum jamu tradisional untuk mengatasi sakit tersebut. Kita juga bisa turut mempromosikan hari jamu Indonesia pada tanggal 27 Mei di berbagai sosial media. Kalau enggak mau repot, kita bisa membeli jamu produksi para bakulers jamu yang dijual di pasar atau jamu kekinian yang dijual dengan kemasan cantik dan menjadi pelanggan tetap mereka.

Harapan

Saya sebagai pecinta jamu tradisional berharap, jamu sebagai warisan budaya Indonesia dapat diakui secara internasional. Jamu dapat dicintai dan dinikmati oleh semua kalangan. Tidak ada alasan untuk tidak menyukai jamu, karena terbukti jamu memberi manfaat pada kesehatan kita. Saya juga berharap para pelaku usaha jamu tradisional rumahan di berbagai wilayah Indonesia dapat mengembangkan usahanya untuk membuat Kafe Jamu, dengan jamu sebagai minuman utamanya, hal ini dapat mengangkat ‘derajat’ jamu yang dinilai kuno dan tidak modern.

Salah satu Kafe Jamu di Jakarta

Kalau kamu suka jamu atau enggak nih? Yuk, minum jamu!

Salam Jamu,

Anggi

8 Replies to “Jamu dan Perjalanan Panjangnya sebagai Warisan Budaya Nusantara”

  1. Jamu kekinian nya begitu segerrrr.. saya paling suka jamu kunyit asam , mba. Apalagi menjelang saat haids.
    Sayang sekali ya, jamu kok belum masuk heritage unesco. semoga sebentar lagi bisa

  2. 27 Mei? NOTEDDD
    hehehe.

    Saya gak suka jamu, saking di pikiran jamu itu pahit semua 😀
    Dan juga, dulu tuh saya liat yang jualan jamu, kayaknya jorok gitu, kakak sepupu saya pernah beli kunyit asam buat lancari haid ya.
    Emang sih lancar banget, bukan cuman haidnya, tapi juga mencret hahahahaha

    Waktu habis melahirkan anak pertama, mati2an dipaksa ibu mertua minum jamu, saya ogah.

    Pernah sekali ngalah, minum jamu apa ya buat lancarin ASI, sudahlah baunya bikin mual, rasanya juga pahiiittttt hahaha
    Cuman saya cicip 1 teguk doang.

    tapiii kalau jamu kekinian gitu, kayaknya menarik juga di minum 😀

  3. Tiap pagi ada Mbok Jamu mampir ke rumah. Anakku yang langganan. Hehe…Aku malah males. Engga tahu tuh kok dia suka. Paling kunyit asem aja sih atau daun sirih rebus, airnya diminum kalau aku batuk. Manjur sih…
    Tulisannya bagus lho. Lengkap…

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.