Melangkah, Maju, Percaya Diri

Rintik gerimis beradu. Bergerak liar membasahi hijau surga bumi. Terlempar aku pada desir perjalanan yang telah kulewati kini. Segala nista diri, gelap cerita pernah memupus asa. Hidup dalam kehampaan, tak bertabir mulia.

Aku pikir, celahnya kian hilang. Aku kira, Tuhan enggan melirikku barang sedetik saja. Aku kira, malaikat enggan mengawasi gerak-gerikku. Aku kira, tak ada tempat untukku mengadu pada segala kepongahan dan hiruk pikuk fana ini. Ya, aku salah.

Aku pernah lemah, pada guratan nasib yang tak tertandingi. Aku yang sibuk menenun seikat damai. Aku yang sibuk menenun setangkup rayu, Aku yang sibuk menenun larik kepada mereka. Aku pernah patah. Mungkin juga kalian.

Patah..

Aku pernah patah. Dengan segala sangkaan dan hatiku yang masygul. Tentang wanita berada pada kotak kaca. Tentang wanita yang meringkuk dari dalam jendela. Tentang wanita dan sepasang telinga.

Ia dan dunia yang tak ingin digenggamnya. Tapi gemerlapnya masih saja ada. Ia, berbicara pada dunia yang menghendaki keterasingan diri. Manifestasi cita-cita yang tak henti.

Padahal mereka tak bergaji. Riuhnya hanya ada pada hatinya. Utas senyum keikhlasan batin, mengayomi, menjaga bahtera agar tidak karam di tengah samudera.

Melangkah…

Patah. Seribu patah hati yang bukan soal cinta. Hanya sekelumit kata yang menikam perih semilir. Diri yang sembuh kembali dari abai. Pada akhirnya detik terus berjalan. Diri harus tau kemana kaki kan melangkah. Melangkah tanpa angkuh. Melangkah dengan anggun. Melangkah dengan patut.

Maka, jangan pernah risau apa yang dikatakan oleh orang. Jangan pernah khawatir dengan apa yang dipikirkan oleh orang lain. Sebab, setiap orang memperoleh nasibnya sendiri. Sebab, setiap orang bergelut pada pemikirannya sendiri. Sebab, Allah juga tak membebani manusia melebihi kadar kesanggupan diri.

“Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Ia mendapat pahala (dari kebajikan) yang diusahakannya dan ia mendapat siksa (dari kejahatan) yang dikerjakannya. (Mereka berdoa): “Ya Tuhan kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami tersalah. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau bebankan kepada kami beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang sebelum kami. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang tak sanggup kami memikulnya. Beri ma’aflah kami; ampunilah kami; dan rahmatilah kami. Engkaulah Penolong kami, maka tolonglah kami terhadap kaum yang kafir.”

(QS Al-Baqarah : 286)

Teruslah melangkah selama berada dalam hal kebaikan. Karena orang yang membenci tetaplah membenci tak bisa melihat sebutirpun kebenaran. Teruslah semangat, memercikkan damai pada diri.

Maju…

Melangkahlah maju. Tak berpaling lagi ke belakang. Tak lelahkah diri yang selalu melihat kelamnya cerita lalu? Tak lelahkah diri yang selalu mengingat pilunya celoteh? Majulah. Kepakkan sayap terindahmu mengenal dunia. Gapai harapan dengan titian doa. Rintihan pada shubuhmu lirih.S

Yakin. Pelangi kan membiaskan jingganya. Kicau burung pagi hari. Mengaduk teh hangat kala temaram senja, membangkitkan geloranya yang pernah sirna. Senyum kan terkembang di sana. Percaya, tak ada hal yang sia-sia di dunia ini. Manusia diciptakan dengan seribu akal dan guna.

Percaya Diri

Percaya kepada diri sendiri. Jangan risau pada kegelapan. Memantikkan diri, mencari celah kesempatan. Pengorbanan, janganlah menjadi terbuang. Harapan, janganlah menjadi aus. Bukankah Allah tidak mengubah keadaan suatu kaum, sehingga kaum itu mengubah yang ada pada diri sendiri? Bukankah Allah sesuai prasangka hamba-Nya?

Maka berjalanlah anggun seperti angsa yang mengepakkan sayapnya. Jangan persilakan belati menancapi bilur. Jangan persilakan luka merajut lara. Bangkit. Percaya diri, percaya dengan kekuatan sendiri.

Anggi

(Tulisan ini dibuat untuk memenuhi tugas kedua Bimbingan Menulis Online)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.