Mengingat Perjalanan

Aku menulis ini untuk mengikuti kuiz di salah satu anggota Komunitas Ibu Profesional Regional Bontara sebenernya. Kuiznya kali ini adalah menceritakan tentang perjalanan mengharukan atau menyenangkan saat masa kecil. Tapi barangkali akan terlalu panjang bila dituliskan hanya dengan bentuk chatt whatsapp. Oh iya sebagai tambahan informasi, kuiz bercerita pekan lalu aku menang mendapat hadiah pulsa 25.000, matur nuwun terimakasih sanget. Padahal isi ceritanya sangat receh sekali dan aku hanya berniat untuk menghibur para anggota, ya gimana hidup udah berat Nak kayak memikul nyinyiran netijen wakaka. 

Menceritakan soal perjalanan masa kecil sepertinya semua berkesan, tapi agaknya sangat sulit mengingat secara lengkap kejadiannya. Lumrah toh kapasitas otak dalam mengingat pun bisa sangat terbatas kan. Nah aku mau menceritakan soal perjalanan liburan pertamaku ke Jogja aja deh karena related banget sama sekarang dapat pasangan orang Jogja haha eh doa di mana, loh aku semedi kemarin di gunung Merapi. Eh nggak ding, nggak, takut kualat sama Mak Lampir.

Ketika ke Jogja

Pertama kali aku ke Jogja di usia remaja sekitar 17 tahunan (ini bisa dibilang masa kecil nggak sih? Iya-in aja lah ya masih bocah banget kok itu) dan itu pun mendadak banget. Di bulan Juni 2008 waktu itu omku di Jember (adek dari mama) lagi punya hajat besar-besaran yaitu dia melepas masa lajangnya. Alhamdulillah sis, dapat gadis unyu-unyu yang umurnya nggak jauh beda sama aku, calon tante yang udah jadi tanteku sekarang kelahiran 89 dan eyke 90. Deket dong. Deketlah, pokok omku ini ceritanya kayak nikahin keponakannya karena usianya terpaut jauh. Eh bukan pedofil lho ya wakakak lagian calonnya cantik banget uuh tinggi semampai kayak model gitu lah, lelaki mana yang nggak kepincut. Nah, balik lagi ke cerita, saat itu liburan sekolah yang lumayan panjang. Selesai acara nikahan bingung dong mau ngapain, saat itu Jember belum semaju sekarang, Mall pun paling banter cuma Matahari itupun macam Bontang Plaza.

Malam hari selesai acara, papaku tiba-tiba ngajak kami sekeluarga untuk ke Jogja. Iya, semendadak itu. Jadilah esok paginya booking tiket kereta api jurusan Jember-Surabaya kemudian lanjut Surabaya-Jogja. Syukur alhamdulillah kereta api yang ke Jogja sudah kelas bisnis yaitu kereta api Sancaka. Karena memang sangat mendadak dan saat itu belum ada booking online seperti Traveloka, jadilah kami dapat hotel yang aku bilang sih bukan hotel melainkan hostel, karena bentuknya seperti rumah biasa bedanya lebih besar jadi dipakai untuk tempat penginapan. Hostel tersebut terletak di belakang Malioboro. Meski begitu penginapan tersebut tetaplah agak ramai, karena tau sendiri kan gimana sibuknya aktivitas di Bulan Juni. Selain liburan, banyak orang yang mencari sekolah atau kampus jadi penginapan banyak dipesan untuk memfasilitasi mereka yang ikut ujian di kota setempat.

Ketika tiba di Jogja aku seneng banget dong pastinya. Siapa sih yang nggak tertarik dengan gemerlap kota Jogja yang terkenal kental dengan budaya Jawanya? Wisata pun oke punya. Sampai di Jogja, aku menghubungi teman masa kecilku di Bontang yang lagi ngelanjutin sekolah di As Salam Solo dan karena memang orangtuanya asli Jogja jadi dia liburan di Jogja. Jadilah kami mengajaknya untuk keliling Jogja mulai dari Borobudur sampai Prambanan. Malamnya pun masih lanjut, temanku ngajakin keliling naik sepeda motor sampailah kami di Ambarukmo Plaza.

Era remaja, bahkan sampai sekarang, ada band lokal Jogja yang aku suka banget. Siapa yang nggak kenal Sheila On 7, dengan lagunya yang super romantis apalagi mereka lugu dengan saat itu masih kental dengan medhok Jawanya, Sheila On 7 seperti menempati ruang tersendiri untukku. Aku sampai berkhayal, pingin banget punya pasangan seromantis lagu-lagu Sheila On 7. Qadarullah di Ambarukmo Plaza, aku liat salah satu grup band Sheila On 7, Adam dengan keluarganya lagi menikmati makan malam di salah satu restaurant mall tersebut. Mau minta foto tapi malu karena orang sekitar biasa aja haha takut dikira norak. Jadi aku cuma bisa fotoin dia dari jauh itu pun butuh ngezoom beberapa kali meskipun hasilnya ngeblur juga wakaka tau sendiri lah HP jaman dulu Nokai tipe yang kayak apa.

Well, dua hari di Jogja aku seperti ada rasa nyaman tersendiri. Jogja itu candu, setiap sudutnya selalu dirindu. Sampai akhirnya aku berkhayal lagi pingin punya suami orang Jogja aja biar punya kampung di Jogja. Ett dah memang khayalanku itu panjang, ibarat Pipa Rucika mengalir sampai jauh wakakak.

Pokoknya dari liburan itu rasanya aku jatuh cinta dengan Jogja pertama kali, biarpun menginapnya di kelas Hostel tak masalah karena yang terpenting adalah momen liburan bersama keluarga yang tak kan tergantikan.

Selepas liburan jaman SMA itu, aku kembali lagi ke Jogja di lain kesempatan saat ada KK-PKL jaman kuliah di tahun 2011. Alhamdulillah sedikit melepas rasa rindu dengan Jogja. Dari Jember ke Jogja memakan waktu 12 jam tak membuatku gentar untuk bertemu Jogja lagi.

Ketika Bertemu Jodoh Orang Jogja

Waktu dikenalin sama suami tahun 2015 dan tau bahwa beliau orang Jogja, uh berbinar sekali rasanya hatiku. Rasanya enggak mau nolak dan nggak harus pakai syarat membangun seribu candi haha. Sampai suatu hari pak suami nanya gini, “Oh, jangan-jangan adek mau nikah sama mas karena cuma orang Jogja”, hahaha, iya habis mas mirip Tugu Jogja sih #eh wakaka. Eh tapi iya, suamiku itu punya perawakan tinggi dan kurus seperti ibunya. Bahkan di tempat kerja beliau sampai punya panggilan kesayangan, Gepeng, hahaha, aku auto bayangin deh kata Gepeng itu udah mirip standar papan triplek wakaka, jahat juga yang kasih nama panggilan kayak gitu. Biar aja Gepeng, toh aku kayak meluk Tugu Jogja tiap malam wakaka.

Apa kok panggil-panggil aku??

Romantis kayak lagu Sheila On 7 nggak? Hmm alhamdulillah romantisnya bukan rayuan gombal tapi dengan perlakuan sehari-hari yang mau ikut andil jagain anak, kadang ikut bantuin jemur pakaian, itu aja udah seneng akutu. Meskipun nggak mirip sama vokalis Sheila On 7 si Duta, tapi kalau lagi bantu-bantu di rumah, kegantengan Mas Duta pun lewat dengan kegantengan suamiku hahah. Harusnya kemarin aku berkhayalnya nambah ya, pingin jodoh mirip Mas Duta sekalian gitu kali aja terus diijabah wakaka eh ngelunjak kamu ya.

dilamar orang Jogja auto Putri Keraton akutu hahahaa

Alhamdulillah bersyukur atas nikmat yang Allah berikan sampai hari ini. Dapat suami yang sesuai dengan impian, ceileh. Biarpun aku belum resmi menjadi warga Jogja, tapi kami masih terus menabung mimpi untuk merajut kehidupan kami selanjutnya di sana. Iya nabung mimpi dulu, sudah kubilang kan khayalanku itu kayak Pipa Rucika?

Baiklah segitu dulu cerita yang menurutku amat berkesan bagiku. Oh iya mohon maaf tidak menyertakan foto saat liburan era 2008 karena sudah lama banget dan datanya juga sudah hilang entah ke mana. Walau begitu masih terkenang dalam ingatan sampai sekarang. Pesannya sih jangan berhenti berharap dan berdoa kepada Allah Yang Maha Kuasa, karena Dialah tempat mengadu dan tau yang terbaik untuk hamba Nya.

Walau kini kau t’lah tiada tak kembali

Namun kotamu hadirkan senyummu abadi

Ijinkanlah aku untuk s’lalu pulang lagi

Bila hati mulai sepi tanpa terobati

(Kla Project – Yogyakarta)

Selamat Menabung Mimpi (dan nabung duit juga wakaka)

-Anggi-

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.