Hai Kamu, Ibu Introvert

Tertutup, sedikit teman. Ada bahkan beberapa orang sering bilang kalau aku pendiam haha. Ya memang sih, terlalu banyak hal yang dipikirin sampai akhirnya ingin memulai sebuah perbincangan pun mikir dulu, etis nggak ya, nyakitin nggak ya. Well, baru sadar kalo aku ternyata introvert.

Seperti yang telah kita tahu bahwa ada 3 macam tipe kepribadian manusia, introvert, ekstrovert dan ambivert. Mereka yang termasuk kepribadian introvert cenderung fokus terhadap pikiran, perasaan, dan mood dari dalam diri sendiri dibanding mencari rangsangan dari luar. Mereka yang memiliki kepribadian introvert, lebih senang dengan melakukan segala sesuatu hal sendiri dan dalam kondisi tenang. Pun bila harus berinteraksi dengan orang, bukan dalam jumlah besar dan harus dengan orang yang akrab. Hal ini bukanlah didasari oleh rasa malu atau kuper namun karena energi mental mereka yang bersumber dari diri sendiri. Berinteraksi dengan banyak orang akan membuat orang introvert kehabisan energi.

Aku udah sering banget mengikuti tes kepribadian ala ala mbah google, dan hampir semua tes mengatakan bahwa kepribadianku introvert. Aku memang suka sekali menyendiri di kamar, apalagi sejak remaja, eh bukan berarti nanti bakal kesambet yah hehe. Menurut penelitian, orang introvert punya banyak ide, nah saya mencoba mengeluarkan ide-ideku melalui tulisan, barangkali juga menyuarakan aspirasi atau pendapatku (yang tidak pernah terdengar oleh orang banyak di luar sana) melalui tulisan termasuk dalam blog ini. Tulisan-tulisanku menurut anggota grup komunitas yang pernah mampir, menyenangkan bila dibaca, tapi percayalah, aku hanya banyak ‘berbicara’ dalam tulisan, dan kalau ketemu langsung berbalik 180 derajat. Dalam sebuah perkumpulan kecil pun, aku lebih banyak diam di pojokan. Ngapain hayo, garuk-garuk tembok wakaka. Enggak eh enggak, ya nggak tau ya aku memang lebih suka memperhatikan gerak-gerik manusia aja dan itu menyenangkan bagiku haha. Makanya aku lebih ‘tidak terlihat’ bila dalam sebuah perkumpulan atau dalam berteman. Introvert lebih senang dan lebih banyak mendengarkan, daripada berbicara.

True!

Oh iya introvert cenderung memiliki sedikit teman. Namun meski aku punya sedikit teman, tapi aku punya teman-teman dekat yang berkualitas. Teman-temanku yang nggak suka kepo, menjadi tempat curhat seorang introvert yang rentan depresi, mereka selalu memberi semangat mental dan psikis untukku. Introvert tak gampang curhat. Aku hanya menceritakan berbagai masalahku kepada yang aku percaya saja. Meski temanku sedikit, aku peka loh sama teman yang pura-pura baik, ada maunya dan yang nggak bisa jaga rahasia. Apalagi yang suka kepo dan ember hahah duh, jauhin aja model teman kayak gini sih, nggak cocok sama introvert yang nggak suka dikepoin.

Dalam tulisan ini aku akan menceritakan bagaimana kehidupan seorang introvert ketika menikah apalagi berperan sebagai seorang istri dan seorang ibu. Punya teman satu aja kadang nggak cocok nah bagaimana dengan teman hidup? Gimana kalau sama anak?

Mengerjakan Pekerjaan Rumah dengan Keheningan

Pret lah ini subjudulnya udah kayak puisi wakak. Tapi emang bener, aku selalu nggak bisa ngerjain sesuatu dengan suasana ramai, rasanya rungsing gitu, seperti di telingaku itu terlalu berisik. Waktu masih berdua sama suamipun, aku nggak bisa kalau ngerjain pekerjaan rumah kalau pas suami di rumah. Soalnya kalau suami ribet, aku yang tambah ribet wakaka. Suami punya hobi otomotif, jadi rumah kadang berubah jadi ‘bengkel’ untuk dia. Printilan kendaraannya lebih komplit daripada gincu istrinya. Jadi kalau suami sudah sibuk dengan hobinya, wis mending istri ngalah aja tidur atau main gadget. Cuci piring aja malas rasanya. Ditambah lagi pas sudah ada anak. Yah rata-rata aja sih seperti ibu umumnya, nggak bisa kalau beres-beres rumah pas ada anak. Kalau menjelang sore, aku mesti nunggu suami sama anak keluar rumah dulu, baru bisa bersih-bersih. Itulah kenapa, aku jarang keliatan keluar rumah, kebanyakan suami yang momong ke tetangga haha. Banyak yang bilang, suami saya kok telaten sama anak, yah soalnya dia tau kalau istrinya memang nggak bisa ngerjain pekerjaan rumah kalau suasana rumah masih muyek. Semua pekerjaan rumah harus dilakukan dengan khidmat dan khusyuk wakaka.

Andai Ada Jasa Belanja ke Pasar Online

Hal paling melelahkan bagi introvert adalah saat berada di luar rumah bertemu dengan banyak orang. Rasanya capek banget, meskipun ke pasar cuma 5 menit. Kepalaku pusing. Kalau pun ada, aku lebih pilih belanja bahan pokok online aja deh haha, eh ini emang ibuk yang malas apa gimana seh. Soalnya memang rasanya kayak ngos-ngosan sendiri. Belanja cuma 5 menit, naruh belanjaan langsung cus leyeh-leyehnya sejam wakaka. Bersyukur alhamdulillah sih suami sukanya makanan fresh, ikan atau daging pun harus kondisi prima nggak harus lama di kulkas, jadi istri belanja secukupnya aja untuk paling lama 3 hari di kulkas. Biarlah bolak-balik ke pasar yang penting belanjanya singkat wakaka. Eh berlaku di mall juga?  Ya sama. Ke mall itu pusing, pusing ngabisin duitnya wakak. Paling males kalau di mall itu dikintilin sama mbak SPGnya. “Mau cari apa kakak?”, dih kepo amat batinku hahah melipir deh melipir keluar nggak jadi beli wakaka.

Punya Anak Feeling Extrovert, Tantangan Besar Bagi Introvert

Kalau yang pernah mengikuti tes Stifin, atau tau tentang Stifin, pasti tau karakter tipe Feeling Extrovert (Fe) ini. Nah, qadarullah aku punya anak dengan tipe Fe ini. Moody parah, gampang riang tapi juga gampang ngambek. Asli kalau sudah ngambek bisa nangis sejam, susah diemnya. Dirayu nggak mau. Ini yang ‘kesan’ nya jadi berisik bagi introvert. Pernah saking sebelnya sama tangisan anak yang tiada henti, aku tinggal masuk kamar yah barang 5-10 menit untuk tarik napas lalu hembuskan perlahan biar waras sedikit wakaka. Tapi kalau moodku lagi anjlok juga yah, nada kumat naik 7 oktaf. Herannya, yang paling berhasil nenangin anak adalah suamiku. Beliau alhamdulillah bisa sabar sama anak dan anak bisa dekat dengan papanya. Akhirnya anak ke mana-mana lebih nginthil ke papanya daripada ke mamanya ahahh. Ditambah, anakku perempuan yang dalam ilmu psikologi memang lebih dekat dengan figur ayah. Bayangin yah, buang air aja papanya ditungguin. Kalah deh mamanya hahah. Meski moody, anak tipe Fe butuh tempat curhat. Belakangan, Anjani suka curhat sebelum tidur. Sekedar bilang ‘adek jatuh sakit di sana’, dan sisanya bubbling (karena masih usia 2,5 tahun) yang bicaranya belum terlalu jelas. Introvert lah yang siaga mempersiapkan ‘telinga’ nya saat si Fe mau curhat. Saat-saat seperti ini biasanya saya selipkan nasihat-nasihat ala mama untuk anak.

Hal yang Ibu Introvert bisa lakukan agar senantiasa waras :

  1. No kode sama suami. Awal nikah aku selalu main kode kayak morse pramuka wakak. Akhirnya bete sendiri karena suami nggak ngerti-ngerti. Kuatir kalau-kalau aku kayak gempa berkekuatan 9 skala ritcher tiba-tiba meledak, akhirnya kuakhiri lah kode-kodean itu pelan-pelan. Aku mulai membuka diri sama suami apa yang aku nggak suka, apa yang aku mau. Kalau lagi jengkel pun biasanya lewat chatting whatsapp hihi yang penting uneg-uneg sudah tersampaikan dan lebih plong.
  2. Gantian jaga anak. Yang ini jangan ditanya lagi. Barangkali sehari 70% anakku dipegang papanya wakaka. Jam kerja suami yang fleksibel, bukan 7-7 setiap hari, jadi lebih mudah untukku mengatur jam untuk gantian jaga anak yaitu ketika suami pulang kerja hihi. Bahkan malam hari pun maunya main sama papanya. Mamanya ngapain? Ngeblog muehehe
  3. Me time. Yang ini jangan lupa untuk para ibu sekalian harus punya waktu me time. Sekedar maskeran atau apapun deh yang bikin mood kembali. Kalau aku biasanya maskeran atau sekedar mantau timeline sosial media. Syukur-syukur kalau me time nya bisa nonton drama korea 16 episode wakaka.

Meski aku introvert dan menyendiri adalah sebuah kebutuhan agar tetap waras, tapi aku bukan ibu jahat yah. Aku masih memperhatikan keluarga, anakku nggak pernah aku sia-siakan. Bahkan aku bisa lebih cerewet ke anak soal kemandirian dan kebersihan. Kalau sedang menemani anak bermain di luar, di playhouse misalnya, aku nggak nyentuh gadget sama sekali selama di arena bermain. Aku turut mengajari anak agar sopan kepada yang lebih tua contoh dengan membahasakan kata ‘permisi’ ketika lewat di depan yang lebih tua yang jaman sekarang sudah berkurang sekali sikap ‘kulo nuwun’ seperti itu. Aku juga mengajarinya agar tidak nakal kepada anak lain dan bermain bersama. Aku juga mengajarinya ‘terima kasih’ saat ada yang memberi sesuatu dan ‘maaf’ bila anakku salah. Aku memantau segala gerak-geriknya. Aku berusaha hadir sepenuhnya untuk anakku dan ini sudah komitmenku dan suami sedari awal.

Well, aku mau mengumpulkan para introvert untuk berkumpul di sini. Sharing pengalaman dengan keintovertan kamu di komen yah.

Salam,

Ibu Waras

5 Replies to “Hai Kamu, Ibu Introvert”

  1. Saya juga termasuk introvert, hehehe jadi kalau terlalu lama di luar untuk ketemu orang nggak pernah bisa bertahan lama. Serasa exhausted 😀 tapi ya tetap harus dijalani ~ hihi.

  2. Maak.. Ini aku banget. Model suami kita juga sama bangeeet. Ngemong, lebih supel ke tetangga, lebih jago jagain anak, daaan hobi ngoprek mesin. Mungkin takdir kita sebage emak introvert berjodoh dengan suami semacam itu hehe
    Yang orang kadang gak paham itu bukannya kita ga mau bergaul. Tapi yaitu bagi orang introvert, ditengah banyak orang itu menyita energi. Susah. Bukannya gak mau. Padahal saya ini guru lho. Kebayang kan anehnya hihi. Dikelas sih lancar asal yg disampaikan materi. Tapi kalo sudah ‘ buu cerita cerita tentang bu guru aja dulu’. Disitunya saya lamgsung ngeles agar tidak melempem. ‘Kehidupan bu guru tidak menarik naak ‘😌
    Satu lagi kelemahan saya adalah sulit nyaman di grup WA! Bagi saya itu riuh sekali. Itulah mengapa salah satu alasan belum lama inu saya punya android dan akun WA. Itupun yg membelikan dan membuatkan akun suami saya. Saya bersikeras tak apa tampa hape mahal dan wa. Toh sudah bisa sms dan telpun. Tapi rupanya suami saya mungkin dah bosen istrinya dianggap aneh. Haha
    Eh, maaf kok jadi puanjang curcolnya. ☺ nice story mbak. Make me feel i’m not such a weirdo.

    1. mbak, saya guru juga sempat ngajar dulu tapi sekarang enggak hihi. Iya susah banget yah kalau murid bosan belajar dan kita cerita2, kayaknya butuh skenario dulu mau ceritain apa hahaha eh atau muridnya suruh aja mampir blog banyak cerita bu guru di sana hahaha. Grup WA juga, saya paling team baca aja. Kadang2 juga gak baca kalo terlalu rame, tau2 ada info apa kelewat deh kwkwk

  3. hai mbak, kok ciri-cirinya sama ya ama aku hehehe, jangan-jangan aku juga ibu introvert niy. Fakta mengatakan demikian sepertinya, lebih senang keheningan dan ketenangan. Agak menjadi tantangan ketika LDM seperti saat ini. Berat namun tetap harus dinikmati, disyukuri dan dijalani. salam kenal ya mbak 🙂

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.