Cerita Hidup Nomaden dan Tips Memilih Rumah Sewa

Terhitung selama hampir 4 tahun menikah,aku dan suami sudah 3 kali pindah rumah meski masih satu kota dengan orangtua. Kami memang sudah punya komitmen dari awal pernikahan untuk hidup mandiri, demi mengerti harga sembako yang suka naik kayak rok Blackpink hahah.

Cerita Nomadenku :

Agustus 2015

Kami menikah 2 Agustus 2015. Pasca menikah, kami menempati rumah sewa yang nggak jauh dari rumah orangtua, yah masih satu komplek lah di Perumahan BTN. Rumah yang kami sewa pertama kali rumah baru tipe minimalis dengan 3 kamar, 2 kamar mandi, 1 dapur, ruang tamu dan ruang keluarga. Rumah yang kami tempati merupakan salah satu komplek Cluster yang baru berdiri di daerah itu. Karena termasuk daerah perumahan baru, maka tetangga masih dalam usia produktif dan masih banyak anak kecil. Berbeda dengan daerah rumah orangtua yang lebih banyak orang pensiunnya karena anak-anaknya sudah dewasa dan tidak tinggal di situ lagi.

Aku sebenarnya nyaman tinggal di Cluster ini. Pemilik rumah sewa, kebetulan adalah tetangga orangtuaku. Beliau superrr baik banget. Kalau ada kecacatan sedikit di rumahnya, aku bisa melapor dan segera diperbaiki. Yang kurang menurutku dari rumah dan lingkungan rumah Cluster ini adalah sanitasi lingkungan yang kurang baik. Selokan agak mampet sehingga menimbulkan bau. Daerah dekat rumah yang masih dikelilingi oleh hutan sehingga banyak nyamuk di mana-mana. Buka lemari ada nyamuk, buka pintu belakang ada nyamuk, besar-besar pula. Sayangnya setelah hampir setahun di sana kami harus pindah karena rumah itu akan dijual kepada orang lain. Ditambah kondisiku yang sedang hamil muda yang nggak tahan dengan bau selokan yang airnya mampet, jadi sering mual dan muntah-muntah. Teler euy.

Juli 2016

Beberapa minggu sebelum tenggat waktu sewa rumah Cluster, kami survei ke beberapa rumah di Kota Bontang. Selain itu juga mencari informasi di salah satu grup FB terbesar di Bontang. Akhirnya kami memutuskan untuk menyewa di daerah yang agak dekat dengan lokasi kerja suami. Rumahnya simple juga dengan dua kamar dan 1 kamar mandi, ruang tamu dan dapur. Aku suka dengan rumahnya yang nggak terlalu mepet tetangga jadi bisa dapat angin dan sinar matahari layak.

Ada yang nggak aku suka dari rumah sewa yang kedua ini. Dinding belakang masih triplek, dan kalau kena air hujan makin lama berlubang jadi rawan tikus masuk. Oiya belakang rumah sewa kedua kami ini sawah. Jadi curut sawah suka berkeliaran di dapur. Sedihnya aku baru tau waktu sudah menempati. Waktu survei, aku nggak bisa konsentrasi ngecek karena kondisiku yang masih mual-mual, yang kalau liat orang banyak aja pusing. Karena capek pindahan dan usia kehamilan makin lama makin besar serta melahirkan, kami pun bertahan selama hampir 3 tahun di sana. Itu pun jarang masak dan bolak-balik nginap ke rumah orang tua karena nggak betah hahaha. Buang duit amat. Air PDAM di perumahan itu juga sering mati. Meskipun sudah pakai tandon, tetep aja sering zonk, air mati dan tandon habis. Lari lagi deh ke rumah orangtua buat numpang mandi wakaka.

Pemilik rumah sewa yang rumah ini juga aneh gitu. Awalnya aku senang sih karena ada yang memperhatikan,contoh nih soal rumput yang tinggi harus dibersihkan. Katanya mau dikasih obat untuk nggak bikin rumput halaman cepat tinggi eh nggak dikasih. Aku dapat kabar pula dari teman yang sebelumnya pernah nyewa di rumah itu, memang pemilik rumah sewa itu agak cerewet sekaligus sedikit pelit haha. Buktinya sih dinding triplek sampai hampir hancur bawahnya tetap nggak diganti bertahun-tahun lamanya.

Mei 2019

Setelah mencoba bertahan di rumah sewa sebelumnya selama kurang lebih 3 tahun akhirnya kami merencanakan untuk pindah rumah lagi karena kondisi anak juga sudah memungkinan untuk diboyong ke mana-mana di usianya 2,5 tahun. Akhirnya kami memilih untuk pindah ke lokasi yang sangat dekat dengan tempat kerja suami, hanya 5 menit saja. Selain dekat dengan tempat kerja suami, lokasi rumah sewa ketiga ini strategis karena dekat kota. Mau ke kantor pos deket kantor cabangnya, ke bank ada cabangnya deket, mau ke plaza beli baju pun deket banget, ke pasar besar juga nggak harus mendaki gunung lewati lembah kayak ninja hatori hihi.

Kami memilih rumah yang memang simple dan harga murah sesuai budget. Awalnya sih sungkan karena rumah ini bersebelahan dengan pemilik rumah. Eh ternyata yang punya rumah super baik banget. Istrinya penjual nasi kuning di dekat gang, jadi kami sering dikirimin nasi kuningnya hehehe.

Kami tinggal berdampingan dengan agama lain di sini tapi damai, nggak saling ganggu dan saling menghargai. Rumah kami di kelilingi dua tempat ibadah, masjid dan gereja. Beruntungnya sih jadi enggak saling kepo haha. Sekitar rumah juga banyak anak kecil jadi Anjani lumayanlah bisa dapat teman banyak. Depan rumah kami tinggal dua orang sepuh suami istri, kami memanggilnya “mbah”. Mbahnya baik banget, sering ngasih makanan ke rumah entah jambu biji, pisang goreng, bubur kacang merah, sayur lodeh, dll. Yang kalo kata orang Jawa namanya “renes” hihi. Entah kenapa ya kalo dekat bertetangga dengan orangtua pasti yang muda diperhatikan hehe mungkin bisa jadi teringat anak dan cucunya yang jauh ya.

Sedihnya, baru dua bulan menempati rumah ini suami dikabarkan mutasi kerja ke Jakarta, kami jadi harus menata barang lagi. Rasanya tuh ibarat kayak ditinggal pas lagi sayang-sayangnya eaaa. Bener loh, aku aja udah kerasan dan betah tinggal di sini. Lingkungannya nyaman, sanitasi baik, bebas banjir pula, dekat kota pun uh. Kami harus merelakan dan menjalankan takdir kami barangkali memang rezeki kami ada di tempat lain.

Nah, dari pengalamanku berpindah-pindah rumah sewa, aku mau ngasih tips untuk kalian yang lagi cari rumah sewa terutama pengantin baru ya :

Budget

Sebelum memutuskan untuk menikah sebaiknya dipikir lagi untuk memilih rumah sewa sesuai budget. Jangan sampai tabungan habis untuk pesta saja. Ada banyak tipe rumah sewa seperti rumah petak atau rumah tunggal. Ada yang bayarnya per tahun, per 6 bulan, per 3 bulan dan per bulan tinggal disesuaikan aja seperti yang kamu dan pasangan inginkan.

Lokasi

Lokasi juga harus diperhatikan, minimal dekat dengan pekerjaan pasangan, dekat dengan tempat ibadah seperti masjid. Faktor lain yang diperhatikan juga adalah bebas banjir dan sanitasi yang baik.

Air Lancar

Ini juga wajib dilihat sih. Tiap daerah berbeda-beda kondisi airnya. Beruntung kalau air PDAMnya bersih. Ada pula airnya kurang jernih, udah gitu sering mati pula πŸ™ Kalau aku yang nggak terbiasa isi air tandon, air yang suka mati nggak jelas udah jadi masalah sendiri. Udah sering mati, bayarnya mahal banget haha. Pengalaman di rumah sewa yang kedua, bayar airnya sampai 250 ribu sebulan padahal airnya sering mati di waktu yang tidak tentu.

Keamanan

Ini juga penting banget. Pastikan keamanan terjaga entah ada penjaga seperti satpam atau siskamling warga sekitar atau bahkan CCTV. Kalau keamanan sudah terjaga, tidak ada rasa waswas dan penghuni bisa tidur nyenyak dengan tenang dan nyaman.

Kondisi Rumah

Kondisi Rumah harus dicek ulang apakah butuh banyak perbaikan atau enggak. Dari dinding terbuat dari triplek yang jadi dinding dadakan atau enggak. Pintu yang mudah rusak atau gimana. Kalau perlu dicek cat rumahnya, misal kalau dicat ulang karena apa, banjir atau apa. Biasanya bisa kelihatan kalau rumah itu bekas banjir atau enggak.

Pemilik Rumah Ramah

Ini kalau menurutku sih penting juga. Gimana mau nyewa kalau pemiliknya juga nggak ada rasa “welcome” sama sekali. Setidaknya dari sewa-menyewa itu akan tumbuh tali silaturahmi dan saling mendoakan kebaikan.

Begitulah tips memilih rumah sewa ala Mama Anjani. Yang perlu diingat adalah tidak ada kondisi yang sempurna 100% dalam dunia ini. Apalagi dalam memilih tempat tinggal selalu ada kurang dan lebihnya.

Selamat Mencari Rumah Sewa ya,

Anggi

5 Replies to “Cerita Hidup Nomaden dan Tips Memilih Rumah Sewa”

  1. Ya ampun kok sedih juga ya… Giliran dapet rumah sewa yang enak, eh harus mutasi ke Jakarta dong. Sudah rumah sewa menyenangkan dan toleransi juga perhatian yang luar biasa, juga Anjani dapet temen bermain yang banyak, tiba-tiba harus pindah lagi.
    Sedih deh. πŸ™

  2. Bagus tipsnya mba, dan menurut saya juga kalau mau beli rumah kelak, harus coba sewa dulu di lokasi yang rumahnya kita incar minimal 1 tahun buat tau kondisi lingkungan dan kondisi kondisi lainnya. Biar nggak menyesal saat beli ternyata jauh dari harapan hehehehe. Tapi memang masalah sanitasi juga menurut saya paling penting karena air sudah jadi kebutuhan sehari-hari jadi sebisa mungkin dapat air bersih dan lancar mengalir πŸ˜€ karena sanitasi buruk itu paling susah diperbaiki juga~

  3. Keren nih mama Anjani, mengingatkan saya dulu setelah nikah, hahaha
    Tinggal di kos rumah petak, lalu pindah ngontrak dekat terminal karena paksu kerja di luar kota, lalu balik lagi di rumah mertua karena punya bayi, lalu akhirnya resign dan ikut suami di luar kota.

    Ya begitulah, baca ini jadi ingat hecticnya pindah kontrakan.
    Packing sendiri, sampai di tempat baru, unpacking sendiri.
    huhuhu

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.