Tentang Pesawat Charter PKT Bontang

Dua hari ini (31 Juli-1 Agust) di jagad FB beberapa orang Bontang ramai membahas pesawat charter PKT yg memutuskan untuk off MOU dengan perusahaan BUMN pupuk itu. Banyak yang bertanya ada apa kok sudah nggak melanjutkan kontrak lagi? Aku akan menceritakan tentang pesawat charter yang silih berganti memfasilitasi karyawan PKT di tulisan ini. Catatan, tulisan ini bukan bermaksud ada unsur riya’ yah. Aku hanya menuliskannya sebagai kenangan nanti dan syukur kalau bisa menambah pengetahuan para pembaca semua.

PKT merupakan perusahaan dalam produksi pupuk yang berada di Bontang sebuah kota kecil di Kalimantan Timur. Medan jalan di Kalimantan berkelok bergunung dan bila menuju bandara internasional Balikpapan butuh memakan waktu 5 jam lebih bahkan hingga saat ini. Maka perusahaan PKT mengadakan fasilitas pesawat bagi direksi dan jajarannya serta karyawan beserta keluarga karyawan untuk mempermudah dan mempercepat akses menuju bandara internasional Balikpapan. Nggak gratis ya, keluarga karyawan tetap ada fee dengan pemotongan gaji otomatis dari NIK karyawan. Selebihnya untuk penumpang di luar lingkungan PKT dengan KTP Bontang tetap bisa naik pesawat tersebut namun dengan harga tiket sedikit lebih tinggi dari karyawan PKT. Biasanya fasilitas pesawat ini juga diperuntukkan bagi mereka yang akan dinas ke luar kota termasuk Walikota, TNI atau pegawai aparatur sipil negara. Bahkan para artis atau tamu undangan perusahaan pun bisa menaiki pesawat ini. Bukan hanya PKT saja, perusahaan Badak NGL Bontang pun demikian. Meski pesawat PKT berganti-ganti, namun PT Badak NGL tetap setia memakai pesawat dari Pelita Air.

Dari Deraya Air hingga Nusantara Air

Era 80an Deraya Air Taxi pertama kali beroperasi di Bandara PT. Badak Bontang.

Pesawat jenis CASA C-212-100 Aviocar ini berisi sekitar 16 penumpang. Namun sayang pada tahun 1982 pesawat ini mengalami kerusakan saat akan mendarat di Bontang. Tidak ada korban jiwa dalam kecelakaan ini.

Maskapai kedua yang beroperasi setelah Deraya Air adalah Dash 7 milik Pelita Air Service.

Dash 7

Pelita Air Service berdiri pada tahun 1970 dengan nama Permina Air Service, awalnya Pelita Air difokuskan pada layanan penyewaan pesawat (air charter). Selama beberapa dekade, Pelita Air melayani jasa penerbangan bagi beberapa perusahaan minyak di Indonesia baik perusahaan asing maupun domestik.

PT. PAS berdiri di bawah naungan Pertamina untuk memenuhi kebutuhan transportasi internal perusahaan kemudian dikembangkan menjadi maskapai yang menyediakan layanan penyewaan pesawat bagi perusahaan lain sejenis. Sepanjang 1970 – 1990, Pelita Air menjadi jasa layanan penyewaan pesawat bagi pelanggan tertentu saja.

PT PAS kemudian berdiri sendiri, melepaskan dari manajemen Pertamina. Kini Pelita Air berada di bawah manajemen PT. Pelita Air Service (PAS).  Seperti penerbangan carter pada umumnya, rute penerbangan carter Pelita tidak tetap.

Dua Perusahaan BUMN besar di Bontang pun menjadi salah satu klien dari Pelita Air yaitu PT. Badak NGL dengan tipe ATR 42-500 yang masih beroperasi hingga kini dan PT. Pupuk Kaltim dengan Dash 7 yang sudah tidak beroperasi lagi.

Pada tahun 2013 datanglah maskapai baru milik Nusantara Air Charter menggantikan Dash 7 dengan tipe PK-JKG ATR 42-500. Nusantara Air Charter (NAC) juga merupakan maskapai penerbangan Indonesia yang bergerak di bidang penerbangan charter dan didirikan tahun 2003.

2013 cat lama
2015 cat baru. Pic from instagram.

Ditinggal Saat Sayang-Sayangnya

Aku lahir dan besar sebagai anak karyawan PKT. Dengan adanya fasilitas pesawat yang diberikan PKT ini, kami sekeluarga merasakan kemudahan transportasi menuju kota Balikpapan dan sebaliknya. Meski harus rela antri nomor seat sebulan sebelumnya karena seat selalu penuh dengan orang dinas keluar kota dan juga cuti. Belum lagi kalau direksi dan jajarannya datang ke Bontang, penerbangan bisa ditunda dan akhirnya ngalah juga naik darat selama 5 jam. Saat pulang kuliah dari Jawa pun jangan harap bisa langsung dapat seat pesawat. Seringnya sih dapat nomor cadangan yang artinya nggak bakalan dapat seat. Penerbangan ke Bontang hanya ada dua kali, jam 10 pagi dan jam 2 siang.

Namun per tanggal 1 Agustus 2019 kemarin, PKT memutuskan untuk off MOU dengan PT. NAC. Sebenarnya desas desus habis masa kontrak ini sudah terdengar tahun 2018 lalu tapi masa kontrak pesawat diperpanjang per tiga bulan hingga akhirnya berakhir bulan Agustus ini. Kemungkinan besar selain memang masa kontrak habis, harga sewa dengan pemasukan tidak imbang. Sejak bandara APT Pranoto Samarinda dibuka untuk umum, penumpang PT. NAC menuju Balikpapan mulai berkurang. Penumpang kebanyakan hanya karyawan yang dinas dan direksi serta tamu perusahaan saja yang naik pesawat tersebut. And we say goodbye…

Takdir pada akhirnya juga mempertemukanku dengan salah satu kru pesawat yang menjadi pendamping hidupku. Kami menikah tahun 2015 di Bontang. Dengan berakhirnya MOU PT. NAC dengan PKT maka tandanya kami harus pamit juga dari kota Bontang. Aku sudah berusaha untuk melamar kerja agar tetap di Bontang, namun barangkali takdir tak menggariskannya.

Beruntung anakku Anjani sempat naik di pesawat ini saat usianya 1 tahun dan cuti ke Jawa. Itupun hampir susah naik karena “sikut-sikutan” dengan karyawan PKT yang berangkat dinas. Alhamdulillah bisa berangkat meskipun awalnya mau nangis karena hampir gagal berangkat sedangkan tiket pesawat ke Jawa pun sudah dipesan.

mejeng dulu dong!

Itulah cerita tentang pesawat charter yang mengisi perjalanan kami di kota kecil ini. Meskipun fasilitas pesawat tidak ada (entah sementara atau selamanya), masih ada armada dari PKT yang melayani rute menuju Bandara APT Pranoto Samarinda melalui jalan darat.

bye pesawat !

Terimakasih PKT sudah mempercayakan PT. NAC dan mempertemukan kami. Goodbye PT. NAC jayalah selalu di udara.

Sumber :

https://aviation.stackexchange.com/questions/66831/what-is-this-light-passenger-prop-airplane-which-crash-landed-in-east-kalimantan

https://id.m.wikipedia.org/wiki/Pelita_Air_Service

https://m.planespotters.net/airline/Nusantara-Air-Charter

Anggi

3 Replies to “Tentang Pesawat Charter PKT Bontang”

  1. waaaaaah… udah ga ada lagi ya. Aku pernah naik pesawatnya tahun lalu, karena ada kerjasama dengan PKT. sayang sekali. Lumayan padahal, dari pada via Darat dari BPN. Eh tapi sekarang Samarinda udah ada bandara, jadi ada alternatif lain lah, meski tetap lumayan jalan daratnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.