Akhirnya Hijrah ke Jogja

Sebulan absen ngeblog karena rempong pindahan yang nggak kelar-kelar, akhirnya bisa sejenak meluangkan waktu untuk membagi ceritaku di sini.

Nah, setelah perusahaan suami memutuskan untuk tidak melanjutkan MOU lagi dengan salah satu perusahaan BUMN di kota Bontang, maka aku dan suami memutuskan untuk sekalian pindah aja ke kampung halaman suami, Jogja. Alasan kami pindah salah satunya bisa dekat dengan ibu kami yang tinggal sendiri dan kami memiliki rencana untuk membuka usaha sampingan di Jogja. Alasan kedua adalah jarak. Biar suami bisa dekat nengokin istri dan anaknya. Jadi, pesawat suami saat ini masih stay di Bandara Halim. Nah daripada jauh kalau mau nengokin anak ke Bontang, mending nengokin ke Jogja aja. Irit ongkos juga haha. Jadi gimana cerita kepindahan kami kemarin?

Mengirim Pakaian dan Tools Suami

Hal pertama yang kami lakukan adalah mengirim pakaian dan perkakas mesin suami. Sebenarnya pakaian kami nggak terlalu penting sih, karena yang paling penting itu seragam kerja suami dan pakaian anak. Pakaian anak yang kami kirim pun pakaian mulai dari bayi sampai usia setahun haha ada bedong, gurita, popok dan baju bayi. Kenapa nggak disumbangkan aja? Nah, pertimbangan jaga-jaga siapa tau nanti hamil lagi kan irit nggak usah repot beli baju bayi lagi wakak. Baju bayi juga banyak dikasih dari mbah Anjani, masih bagus pula jadi ya udah disimpan aja. Toh baju bayi itu biasanya harganya mahal-mahal. Jadi sayang kan kalau dibuang. Kenapa tools suami juga dikirim? Karena peralatan mesin motor suami juga mahal-mahal hahaha dan nyarinya di Bontang itu susah. Jadi ya sudah ikut dikirim aja.

Paket yang kami kirim terkumpul 6 koli atau 6 dus dengan total berat semuanya hampir 100 kg. Nah kami memilih jasa cargo dari PT KGP atas rekomendasi beberapa teman. Kami memilih untuk proses cepat saja melalui pesawat, dengan pertimbangan waktu yang lebih cepat. Terbukti dalam 3 hari saja paket sudah sampai di Jogja. Oh iya biaya pengiriman semuanya sekitar 3,7 juta, dengan estimasi biaya 41 ribu/kg di kilogram pertama, 36 ribu/kg di kilogram selanjutnya ditambah tambahan biaya karung dll 120 ribu.

Menjual Barang-barang Rumah Tangga

Setelah mengirim barang lewat cargo, kami menjual barang-barang rumah tangga kami seperti kulkas, lemari, kasur, mesin cuci, kipas angin, magic com. Beruntung ibu kontrakan baik banget jadi beliau yang gencar mempromosikan barang-barang kami ke tetangga haha terimakasih ibu kontrakan. Alhamdulillah laku semua. Eh nggak jauh promosiinnya, ternyata tetangga itu banyak yang butuh malah jadi rebutan. Barang rumah tangga kami jual emang murah buanget karena waktunya mepet, hanya seminggu sebelum tanggal keberangkatan kami ke Jawa. Sampai ibu kontrakan ikut nggumun, “mbak, murah banget toh jualnya kan sayang belinya mahal” hahaha ya udahlah Bu daripada nggak terjual. Hasil penjualan barang kami alhamdulillah terkumpul untuk ongkos pulang termasuk bagasi pesawat wakak

Cabut Berkas

Kelar ngurusin barang-barang, kami memutuskan untuk cabut berkas KTP kami dari Bontang ke Jogja. Ya, kami sudah optimis (kepedean) akan tinggal lebih lama di Kota Gudeg itu, karena tinggal di Jogja adalah impian kami bersama.

Tapi kami belum cabut berkas surat motor, karena waktunya mepet dan kami belum terlalu butuh motor di Jogja. Untuk transportasi di Jogja kami bisa pinjam motor punya kakak ipar yang kebetulan masih single dan tinggal dengan mertua Haha. Urusan cabut berkas motor kami titipkan ke orang kepercayaan kami dan kami masih nabung lagi untuk biaya cabut berkas dan biaya kirimnya hihi.

Tips untuk kamu yang rencana pindah ke luar kota :

Waktu tidak mepet

Pastikan soal waktu tidak terlalu mepet untuk urus berkas atau ngurusin barang bawaan. Kalaupun ada biaya lebih, kamu bisa sewa truk untuk mengangkut barang rumah tangga. Nah kebetulan kalau kami memang malas untuk bawa barang ke Jawa. Beberapa barang pun masih kami tinggal di Bontang seperti televisi dan beberapa perkakas mesin suami. Barang-barang itupun kami titipkan ke orangtua yang tahun depan pun akan pensiun dan pindah juga ke Jawa.

Memilih Kardus atau Packaging Aman untuk Barang

Hal pertama yang pasti dicari saat pindahan rumah adalah kardus untuk mengemasi barang ya kan. Mulai tuh cari kardus ke toko-toko yang menyediakan jual beli kardus kalau bisa sih yang mau gratisan haha. Kardus yang bagus untuk packing adalah kardus rokok seperti Gudang Garam atau Sampoerna. Kami kemarin menggunakan kardus dari Sampoerna dan kami beli langsung di toko khusus grosir makanan dan minuman dengan harga 10.000 per buah dan kami membeli 10 kardus.

Mencatat Daftar Barang yang Akan Dibawa

Catat barang yang akan dibawa. Kardus yang berisi barang-barang jangan lupa diberi nama isi dari kardus tersebut atau bisa juga dengan penomoran. Kalau mau cepat tinggal prin nama barangnya kemudian ditempel di kardus, tujuannya biar nggak bingung waktu mau buka kardusnya, nggak repot dibuka semua.

Prioritaskan Barang Penting di Tas Khusus

Hal penting lainnya adalah menyelamatkan dokumen penting atau barang penting lain seperti perhiasan. Kalau perlu memang sediakan tas khusus untuk barang-barang penting ini dan tolong jangan dimasukin di bagasi. Big No. Kecuali kalau bagasinya dipacking warp. Tapi pengalaman kami kemarin, kami membawa tas ransel khusus dokumen penting ini. Agak repot emang sih hihi.

Memilih Cargo Terpercaya

Pilih cargo terpercaya yang bukan hanya soal murahnya harga tapi lebih pada keamanan barang sehingga kita bisa tenang. Kalau ada uang lebih pilih menggunakan pesawat saja karena meminimalisir terjadinya barang hilang atau kebakaran pada kapal laut. Meskipun kalau menggunakan pesawat nggak menutup kemungkinan ada musibah sih, tapi kalau pesawat, barang nggak akan pindah ke mana-mana terlebih lagi bila kota tujuan nggak punya pelabuhan yang mengharuskan barang transit di pelabuhan kota lain lebih lama.

Menjual atau Melelang Barang yang Tidak Dibawa

Keliatannya sih di rumah kayak sepi barang, tapi pas beres-beres duuuh jadi banyak bangeeeet hahaha. Itu juga kami rasakan. Akhirnya kami memutuskan untuk menjual barang kami. Pakaian yang masih layak pakai juga kami sumbangkan.

Stop Membeli Bahan Makanan Seminggu Sebelum Pindah

Mendekati hari H pindahan, sebaiknya jangan beli bahan makanan terlalu banyak. Isi kulkas secukupnya aja. Toh nggak mau kan kalau makanan terbuang sia-sia? Makan bisa beli aja atau melipir ke rumah orangtua hihi..

Pertimbangkan Masalah Administrasi Kependudukan

Biar nggak jadi penduduk liar, sebaiknya pertimbangkan juga masalah kependudukan ini apalagi bila lokasi pindah lumayan jauh dari kota asal. Kami pun memutuskan untuk mengurus berkas kependudukan dengan pertimbangan lokasi kota asal dan kota tujuan yang lumayan bikin berat ongkos karena harus melewati lautan hehe. Lumayan juga toh kalau ada promo tempat wisata yang harus menunjukkan KTP setempat wakaka.

Demikian cerita yang bisa aku bagi tentang hijrahku ke tempat baru. Doakan semoga kami betah di tempat baru ini ya 🙂

Anggi

3 Replies to “Akhirnya Hijrah ke Jogja”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.