Tongue Tie Anjani

Seperti yang sudah saya ceritakan di judul sebelumnya, kalo BB anak saya naiknya irit dari awal lahir. Awalnya saya nggak curiga karena bidan ngomong, gpp Bu yang penting BB naik. Akhirnya di bulan 4 setelah DPT 2, BB Anjani turun ke hijau muda. Banyak temen bilang wajar karena bayi sudah banyak tingkahnya, ada juga yang bilang Asiku nggak bergizi. Ada seorang teman juga cerita kalo anaknya ada lip tie dan tongue tie. Setelah menimbang, akhirnya aku dan suami berangkat konsul ke dsa yang paling kondang di Bontang, Dr. Made karena saking penasarannya. Dan bener aja, Anjani diagnosa tongue tie dan harus frenotomi. Nggak parah sih, tapi ada. Dan kata dokter itu salah satu faktor BB Anjani naiknya irit, dan kalo nggak difrenotomi, efeknya nanti bisa cadel kalo nggak segera ditindak. Duh, nggak mau dong anakku nanti cadel dan ngurangi kepercayaan dirinya kalo udah besar nanti.

Tentang Tongue Tie

Bahasan tentang tongue tie bisa disearching di google ya. Saya ambil intinya saja. Tongue tie (lidah terikat) juga dikenal dengan ankyloglossia adalah istilah utk menggambarkan kondisi ketika bayi memiliki bagian kulit yg terikat antara sisi bawah lidah dan dasar mulut. Jika lingual frenulum (bagian kulit yang menghubungkan lidah dan dasar mulut) terikat bisa membatasi gerak lidah. Bila tidak segera diatasi, tidak hanya proses menyusui terganggu, namun proses belajar makan saat mulai belajar makan Mpasi dan proses bicara juga terganggu (cadel). 

Tanda-tanda Tongue Tie 

Gejala umum pada bayi TT :

  • Kesulitan melakukan pelekatan pada areola
  • Mengeluarkan bunyi saat menyusu
  • Menyusu dgn waktu lama hingga 2 jam
  • Angin berlebih bahkan sampai muntah
  • Bayi berulang kali terhenti saat menyusu
  • BB bayi mengalami penyusutan

Sedangkan bagi ibu mengalami gejala sbb :

  • Nyeri pada puting saat bayi menyusu
  • Bila parah bisa menyebabkan areola rusak dan masitis (bengkak payudara)
  • Persediaan asi bisa berkurang

Tongue Tie Anjani

Sebenernya ada beberapa gejala yang menunjukkan bahwa Anjani ada TT selain BB turun. Beberapa diantaranya adalah puting saya nyeri saat pertama kali menyusui dan payudara saya bengkak, ngepompa sampe nyeri semua puting. Kalo kata temen temen yang menyusui sih itu biasa nanti bakal sembuh sendiri. Yes, masuk minggu kedua sudah nggak ada drama puting nyeri. Saya juga selalu mengecek posisi Anjani tiap menyusu, sudah bener atau belum, areola sudah masuk semua apa belum. Tapi lihat akhirnya sih BB anjani naiknya irit. Selanjutnya Anjani selalu menyusu lebih dari 2 jam. Padahal standar menyusui 10-15 menit dan bayi kenyang bisa langsung tidur. Anjani juga nyusunya suka berhenti berhenti dan gampang tertidur. Ditambah lagi tipe Anjani ini kalo tidur nggak bisa denger suara dikit, langsung bangun. Jadi kalo jam tidur siang nggak pernah tidur nyenyak, mungkin nggak dapet efek kenyang waktu nyusu kali ya. 

Prosedur Frenotomy Anjani

Setelah Dr. Made memutuskan utk frenotomy, akhirnya kami diberikan surat pengantar utk dibawa ke RS Yabis dan akan dilakukan tindakan langsung di Poli Anak.

Esok paginya kami ke RS untuk cek darah Anjani. Kemudian menunggu hasilnya sekitar 10 menit. Setelah hasil keluar, kami menunggu di Poli Anak.

Prosedur pembelahan TT menggunakan gunting yang telah disterilkan agar sisi bawah lidah tidak terlalu menempel dgn dasar mulut sehingga lidah dapat bergerak leluasa. Frenotomy berlangsung cepat tidak lebih dari satu menit, dan umumnya tidak terjadi pendarahan besar. Hal ini disebabkan tidak adanya pembuluh darah atau ujung saraf pada lingual frenulum. Biasanya bayi dapat langsung menyusu setelah prosedur dilakukan. Frenotomy dapat dilakukan dgn atau tanpa pembiusan dan bisa dilakukan di RS atau ruang praktik dokter. Kalo menurut artikel, insisi dalam frenotomy sama halnya dengan ditindik telinga pada bayi, bahkan lebih ringan.

Menurut ilmu kedokteran, ada 4 tipe TT :

Tipe 1. Frenulum menempel diujung lidah

Tipe 2. Frenulum berada di 2-4 mm di belakang ujung lidah

Tipe 3. Frenulum terikat di tengah lidah dan biasanya kencang dan kurang elastis.

Tipe 4. Frenulum terikat dipangkal lidah namun tebal dan elastis.

TT Anjani termasuk dalam tipe 3, dan bisa dilihat saat menangis.

Hanya dengan gunting kecil yang disterilkan, Dr. Made menggunting frenulum, dibantu asisten dokter dan 3 perawat yang memegang badan Anjani. Tidak lebih dari 1 menit pembedahan selesai. Setelahnya, Anjani langsung disusukan ke saya dengan darah masih berlumuran di bawah lidahnya. Kata Dokter Asi dapat menghentikan pendarahannya. Benar saja, aku susui hingga sampai rumah, darah Anjani berhenti total dan segera saya beri obat. Proses frenotomy Anjani nggak ada dokumentasinya ? karena bapak emaknya tegang semua. Paksu disuruh fotoin ma videoin malah nggak dipencet tombol rekamnya ?? 

Pasca Frenotomy Anjani

Alhamdulillah Anjani lebih pintar nyusu pasca insisi. Areola masuk full dan dia jadi sering melet meletin lidahnya, mungkin dia adaptasi, entah lidahnya jadi lebih enteng kali ya ? Tidurnya juga lebih nyaman dan lama dibanding biasanya.

Oiya berikut rincian biaya di RS Yabis Bontang bagi yang pendaftaran jalur umum : 

1. Cek lab 110rb

2. Poli Anak 125rb

3. Frenotomy 725rb

Tongue Tie Anjani tipe 3
Anjani ambil darah ?
Pasca insisi, melet terusss ?
Ruang poli anak Rs Yabis Bontang
Dr. Made, dokter favorit para ibu. Beliau Pro Asi dan sabar. Obatnya manjuuur.

Alhamdulillah, good job my baby girl. Sehat terus sampai nanti ya. Terimakasih pak dokter dan sejawat Rs Yabis Bontang ?

Sumber :

http://www.ibupedia.com/artikel/featured/tonguetie-pengaruhnya-pada-menyusui-dan-perkembangan-bicara-anak
http://papapz.com/2014/06/09/mengenal-tounge-tied-pada-bayi-dan-cara-penanganannya/
http://www.ibupedia.com/artikel/featured/bayi-sulit-menyusu-janganjangan-karena-tounge-tie
http://www.wishingbaby.com/operasi-tongue-tie-tali-lidah-pendek-pada-bayi/
http://www.alodokter.com/tongue-tie-ankyloglossia
http://m.detik.com/health/read/2016/02/09/130020/3137573/775/infografis-4-tipe-tongue-tie-pada-bayi

Hal yang Terlupakan dalam MengASIhi

Ma​sih inget banget beberapa waktu lalu saat Anjani vaksin DPT 2, BB Anjani turun. Masih di hijau sih, hanya saja turun. Awalnya saya biasa saja, karena beberapa bulan BB Anjani memang naiknya irit. 

Grafik KMS Anjani

Tapi tiba tiba si bidan bilang, makan yang banyak Bu, Asinya nggak bergizi. Allahu Akbar, rasa hati terpothel pothel. Perasaan makan sudah banyak, nggak milih makanan. Jadi kemarin2 makanku nggak bergizi?? Seketika merutuki yang bilang gitu, heee emangnya aku terlihat seperti yang nggak bisa beli makan bergizi sekedar tempe aja?? Cerita ke teman yang kuliah di pergizian, jawabnya pun sama. Dia bilang kalo konsul ke dokter pun pasti yang diinterogasi tuh ibunya. Aku cerita makan apa aja, eeh malah dibilang menuku menu diet. Padahal nggak ada cita-cita diet sama sekali. Lha wong perut sudah njendil ke mana-mana.

Aku sudah jaga asupan makan. Baca di berbagai artikel, banyakin sayur, apalagi sayur yang pahit dan menu sehat lainnya. Aku menghargai temanku yang memberi saran untuk makan makanan kalori tinggi, seperti ayam, ikan bakar, roti dll . Tapi tetep aku kepikiran, emang bisa ya Asi nggak bergizi? Dan aku menemukan sebuah artikel di instagram.

(Daaaaan gara-gara aku share artikel ini, aku dibilang baper dan nelen mentah2 informasi ? padahal aku sendiri juga lagi nyari info banyak ?)

Oke, langsung doooong malamnya aku konsul ke dokter anak untuk check up BB Anjani sekalian nanya. Alhamdulillah dokter nggak interogasiin macam-macam yang kayak temenku bilang. Dan beliau bilang, nggak ada yang namanya asi nggak bergizi. Itu sudah otomatis dari badan ibu. Luar biasa sekali karunia Tuhan ya, Bu.  BB anak nggak naik pun banyak faktor lain selain Asi. Ternyata anakku ada tongue tie sedikit di tengah-tengah. Nggak panjang, tapi ada dan harus frenotomy. (Next aku bakal cerita tentang frenotomy Anjani di judul lain).

Yang mau saya tuliskan di sini adalah ada hal yang penting yang menurut saya patut digarisbawahi yaitu Asi itu rezeki dari Yang Maha Kuasa melalui malaikat Mikail. Sebanyak apa asupan makanan yang ibu telan, kalo dapatnya segitu ya segitu aja. Mengenai kualitas Asi, toh sudah banyak artikel, penelitian, kalo Asi itu tetap bergizi sekalipun makanan ibu dikit atau banyak bahkan dianggap nggak bergizi sekalipun, karena apa, asi itu buatan Allah, sedangkan susu formula buatan manusia. Siapa yang meragukan kuasa Sang Pencipta???

Aku tidak meragukan kualitas Asi, juga tidak fanatik dengan Asi. Aku bukan pendukung sepenuhnya sufor, tapi kalo butuh banget kenapa enggak? Memang, slogan dan propaganda Asi sudah dimana-mana, Asi adalah terbaik bagi bayi. Tapi nggak seharusnya juga ngejudge yang nggak bisa ngasih asi penuh ke anaknya dengan pandangan sinis, apalagi sampe bilang bayi sufor itu nggak cerdas. Padahal cerdas atau tidak bukan hanya dari asupan Asi saja, tapi dari habit nya, atau faktor lain. 

Aku pernah jadi salah satu ‘korban’ propaganda asi. Saat aku baru melahirkan, asiku memang susah keluar ternyata di putingku ada sumbatan (baca di sini). Aku kekeuh dengan idealismeku untuk lulus Asi 100% dan merasa berdosa ngasih sufor meskipun hanya beberapa CC, padahal anakku dehidrasi saat itu. Hingga sedikit bersitegang dengan orangtua. Dehidrasi anakku tertolong selain dari sufor juga donor asi. Dan tentang asi bergizi atau tidak, Wakil Ketua AIMI mengatakan, 

bagaimanapun Air Susu Ibu (ASI) adalah asupan paling bergizi bagi anak. “Dalam modul pelatihan konselor menyusui 40 jam WHO/UNICEF, juga dijelaskan bahwa ibu yang kurang gizi sekalipun ASInya tetap baik untuk anaknya,”

Aku mengikuti beberapa milis atau akun yang pro Asi banget, dan alhamdulillah lumayan terbantu dengan itu. Mulai dari proses supply and demand, Pijat payudara, pijat oksitosin hingga mengkonsumsi teh pelancar asi. 

Yang ingin aku tuliskan poinnya di sini adalah :

1. Jangan pernah merasa berdosa memberi anak sufor di awal kehidupannya, dalam kondisi tertentu si ibu belum mampu memberi Asinya. Toh sufor sudah banyak melewati penelitian ilmiah, bahkan bertahun-tahun sudah menolong banyak bayi (termasuk bayiku). Mana yang lebih penting : anak sehat atau naikin gengsi hanya ingin memberi Asi eksklusif sampe rela bayi dehidrasi? Kalo bayi sampe meninggal hanya karena ibu naikin gengsinya gimana?

2. Beberapa ibu berlomba memberikan Asix dan melabeli dengan lulus S1, S2 atau S3 hingga membuat yang tak lulus sarjana Asix jadi minder. Asix ini untuk siapa? Kebanggaan ibu atau memang untuk bayi?

3. Banyak ibu berlomba untuk pumping stok Asip, rela beli pumping mahal. Pumping mahal atau murah, hasil Asi ya segitu aja tetep sama. Ini pengalamanku sendiri. Padahal seperti yang aku bilang diatas, sekeras apapun usaha ibu, kalo malaikat Mikail ngasihnya segitu ya sudah. Yang penting ibu happy makan makanan sehat. Ibu happy, bayi happy. 

4. Jangan ngejudge para ibu yang tidak bisa memberi Asix, dan serta merta ngomong Asinya tidak bergizi, endesbre. Lihatlah kondisi psikis ibu. Ibu itu sudah cukup lelah dengan banyaknya kerjaan rumah tangga. PR seorang ibu itu buuaanyaaak. Jangan menambah dengan berbagai kalimat yang bikin mental ibu down. Atau belajarlah jadi ibu dulu.

5. Jangan mentang-mentang sudah sarjana ahli kesehatan/bidan/ahli gizi lalu dengan nada menghina yang konsultasi “Sesembak/seseibu baperan”, ittaqillah.. Hati-hati dengan kata-kata. Nggak semua ibu di dunia ini sempurna. Ada banyak hal yang kadang bisa bikin drop ibu. Karena ibu hanyalah ibu, yang menginginkan terbaik untuk anaknya. Apalagi kalo ada yang konsultasi, memberi saran lalu memaksa saran itu digunakan. Plis, orang konsultasi hanya mencari info, kemudian menimang, lalu memutuskan. Kalo kecewa karena sarannya nggak dipake berarti dirinya nggak ikhlas. Pamrih, mungkin butuh bayaran! ? Belajar koreksi diri sisss.

6. Jangan karena berbeda ibu Asix Vs ibu sufor rasanya seperti ngajak perang dunia 3, dimusuhi, dianggap nista, menganggap anak Asix lebih hebat dan lebih cerdas. Terus yang punya bayi sufor merasa bersalah, berdosa, nggak berguna jadi ibu. Yes, itu realita ibu ibu jaman sekarang.

7. Poin penting di sini adalah, yang dibutuhkan seorang ibu hanyalah kekuatan mental. Ibu hanya butuh kata, Semangat. Rasa semangat dalam mengasuh bayi dan anak-anak. Punya anak itu harusnya bahagia, bukan jadi kayak beban mental karena satu omongan menyakitkan. 

Semangat! Yang penting ibu happy ngebesarin anak. Anak itu anugerah dari Allah. Masak dikasih anugerah terus jadi beban hidup?? Banyak loooh yang masih berusaha ingin punya anak diluar sana. Kalo kata Bensu di instagram nya : Jalani, Nikmati dan Syukuri!

Btw ini nulis setengah curhat ya. Iya soalnya ini realita jaman sekarang. Para ibu seperti terpecah dua kubu, putus silaturahmi hanya karena satu omongan, ujungnya nyinyir ke sana kemari. ??

Be Wise. Belajar dan terus belajar. Jangan lupa libatkan Allah dalam aktivitas kita. Mintalah pertolongan Nya.

Anggi,

Seorang ibu.

Drama Postpartum

Menurut penelitian, 80% ibu melahirkan mengalami depresi atau depresi parah yang lebih dikenal baby blues syndrome. Kalo inget drama pasca melahirkan kemarin rasanya jadi trauma sendiri. Kemungkinan kemarin itu belum nyampe baby blues nya sih, tapi bagi saya itu sudah depresi banget ? 
Drama dimulai ketika selang 2 hari keluar dari rumah sakit. Anjani nggak ada pipis dan pup seharian! Berarti kan nggak ada Asi yang masuk. Panik! Kucoba telaah pelekatan dia dengan payudaraku, nihil, dia pinter nyedotnya. Kedua orangtua dan suamiku ikut bingung. Dan menyarankan untuk ngasi Sufor sementara. Dan aku tetep pada pemikiran idealisku, No Sufor. Telingaku rasanya panas denger kata Sufor. Sufor agaknya seperti racun. Aku masih berusaha nyari sebab kenapa Asiku nggak keluar saat itu, padahal payudaraku kenceng banget dan Anjani reweeeeel seharian. Rasanya marah, jengkel, nangis! Apalagi ortu suka ngomong, “dikasih pisang aja”, “Asimu jelek”, “Put*ngmu kali tuh”, haduuuuh jengkelnya. 

Siangnya kuputuskan donor Asi melalui sahabatku Anita yang alhamdulillah anaknya cewek. Masalah belom sampai disitu. Tetep ortu nyaranin Sufor dulu, haduuh telinga gatel rasanya, meskipun sufor hanya utk sementara tapi aku kekeuh nggak mau. Aku panggil temenku lainnya utk ngejelasin ke ibuku jangan sampe kemasukan sufor meskipun sekali. Tapi tanggapan beliau seperti nggak suka, apalagi dianggap kami ini memang belum berpengalaman punya anak. Kuputuskan malam itu ke dsa, sekalian curhat ke dokternya ttg laktasi, dari masalah bentuk Put*ing, dll. Anakku dikasi vitamin tetes aja. 

Sepulangnya dari RS, aku donorkan Asi lagi anakku ke sahabatku. Bayangkan anakku udah 6 jam belum minum lagi dari Asi pertama jam 2 siang, lalu menuju malam jam 8 baru dapet Asi lagi. Tangisku pecah! Alhamdulillah anita nyabarin aku, kalo habis melahirkan memang begitu, diapun begitu tiba2 nangis sendiri, punya perasaan takut nggak bisa ngerawat anaknya dengan baik. Dodolnya, aku nggak bawa botol Asi untuk naruh Asi dia jaga-jaga kalo malem Anjani nangis minta nyusu. Duh! Dan terpaksa banget, ini terrrrrpaksa sekali Anjani minum Sufor jam 2 pagi hiks ??? sedihnya Ya Allah…..rasanya nggak percaya diri banget nggak bisa ngasih Asi. Pikiran grambyang ke mana2. Iri banget sama yang bisa ngasih Asi ke anaknya. Pikiran grambyang akhirnya curhatnya ke mana mana. Sampe nge line beberapa temen. Pusing sendiri deh jadinya. Ada yang bilang, temanku di Surabaya, nggi dokter nya pro asi tapi kok ngasih vitamin ya. Haiiisss galau lagi maaaak. Dalam pikiranku kalo pro Asi juga nggak kemasukan lain-lain kecuali Asi. Ada juga yang bilang kalo dsa di bontang ini kalo ngasi obat pasti dosis tinggi. Akhirnya dapet wejangan dari salah satu temen, sekaliber dokter spesialis pasti ngasihnya sesuai kebutuhan pasien, sudah diperhitungkan. Alhamdulillah agak plong.

Aku inget ada temen ngasih tau ada praktek Bidan yang bisa dipanggil utk perawatan nifas. Kebetulan banget bisa konsul sambil treatment, langsung aku whatsapp mbak bidannya, Biwil Treatment namanya. Dan siangnya beliau mau datang. 

Pagi harinya sambil menunggu mbak Bidan dateng, aku masih rempong ngumek put*ngku. Ternyata eh ternyata ndilalah di put*ngku ini ada kotoran kayak semacam bolot yang nutupin lubang keluar Asinya Masya Allah… ? Lhadalaaaaah…padahal jaman hamil tua itu sudah rajin kubersihkan, lha kok ada. Kubersihkan put*ng dan kucoba pompa karena Pd sudah kencang banget, alhamdulillah ngucur sedikit demi sedikit. 

Bidan Biwill dateng, alhamdulillah dijelasin dengan penuh khidmat bagaimana laktasi, proses pelekatan, posisi menyusui bayi, sampe pemijatan Pd. Akhirnya aku berhasil menyusui dengan baik dan Anjani langsung kususui lagi.

Rasanya kesel, jengkel, mau marah aja karena masalahnya cuma ada bolot di put*ngku ? Itu aja sampe ngorbanin anak kena Sufor, kesel sama orangtua sendiri, sampe suami ikutan stress. Duh, kalo dibilang iiih drama banget deh,, mungkin sesembak belum pernah ngerasain namanya habis melahirkan. Badan sudah lelah setelah melahirkan, ditambah harus begadang jaga bayi, jahitan belum kering, belum lagi nutup kuping dari kata-kata “dulu lhoooo kamu dikasi makan pisang” dan blablabla lainnya. Kalo menurutku wajar semua ibu yang baru melahirkan, entah anaknya sudah 4 atau lebih pasti ada depresi nya meskipun nggak sampe tahap baby blues akut (amit-amit jangan sampe).

Dari blog ini saya mau meminta maaf utk temen-temen yang jadi ‘korban’ curcolan saya yang nggak kenal waktu saat itu. Terimakasih utk semua advice nya. Saran untuk yang akan melahirkan, siapin mental aja, karena semua orang punya tingkat depresi dan pengalaman berbeda-beda. Banyakin doa, dan jangan kebanyakan curhat nanti salah salah jadi nggak punya prinsip.

Anggi,

seorang ibu 

Arti Sebuah Nama…

Anjani Ravania Shanum Izzati. Nama ini udah kurangkai sejak hamil 5 bulan, nyari nya lewat google aja, sebagian lagi nemu di Kamus nama bayi peninggalan adek bungsu ku ?. Awalnya sih mau pake nama panggilan dari singkatan nama dia, A.r.sh.i, biar kekinian ? tapi kalo manggilnya jadi ‘Shi…shii’ jadi samaan sama keponakan, jadi nggak jadi deh. Ya kan biasa dong nggak mau sama. Cukup manggil Anjani aja ?

​Nama Anjani sendiri pemberian dari nenek nya, yang emang suka banget sama unsur Jawa, nggak ngilangin asal muasal nya ? Anjani dalam bahasa Jawa artinya ketekunan, dalam kbbi artinya perempuan yg ramah. Dan nama Anjani ini sering banget dikira ngefans sama film india ? . Duh, kalo ada nama korea yang agak ke indonesia an mau deh ngasih nama agak korea hahaa soalnya anaknya sendiri punya mata sipit ? 

Ravania diambil dari bahasa Sanskerta, artinya cerah. Shanum dan Izzati diambil dari bahasa Arab, berarti diberkahi Allah dan kemuliaan.

.

Doa nya semoga menjadi perempuan yang tekun dalam mencari ilmu, memiliki masa depan cerah mjd pelita bagi insan, mjd wanita mulia dan selalu diberkahi Allah. Aaamiin.

Anggi,

Seorang ibu

Pengalaman Melahirkan Pertamaku

27 Januari 2017

Rasanya masih nggak percaya dapat amanah luar biasa dari Allah. Perjuangan menjaga janin agar senantiasa sehat, sering takut kalo kurang gizi. Menikmati gerakan cintanya selama 9 bulan, hingga ia memberi sinyal secara alamiah kapan ia akan hadir ke dunia. 

.

Udah nawaitu dari awal pingin banget ngerasain persalinan normal, ingin merasakan nikmatnya rasa sakit yg banyak dielukan. Segala hal dilakukan, mulai senam hamil, jalan kaki tiap pagi dan latihan pernapasan.

.

Tanda persalinan datang teratur beberapa hari, dimulai dari banyaknya keputihan yg awalnya kuatir itu ketuban, muncul flek dan lendir, dan puncaknya mengalami KPD (ketuban pecah dini). Akhirnya terpaksa diinduksi. 

.

Kontraksi datang beraturan. Puncaknya jam 1 malam sudah pembukaan 1 menjelang 2. Kontraksi datang semakin hebat, disitulah nikmatnya. Ketika rasa sakit datang, aku merasa disinilah aku berjuang, hanya aku,anakku dan pertolongan Allah. Pembukaan terasa cepat, adzan subuh sudah pembukaan 6, beberapa menit kemudian sudah pembukaan lengkap. .

Lahirlah anakku Anjani, dengan fitrahnya sendiri. Keberadaan suami menyaksikan langsung proses persalinan normal, memangku badanku di pangkuannya membuatku merasa semakin dilindungi dan dicintai. Kami menangis bersama, melihat putri kami, mendengar tangisan pertama putri kami. Haru, bahagia, bersyukur dan semakin bersyukur.

.

Terimakasih kpd Allah atas nikmat luar biasa ini, dukungan moril dari orang tua yg ikut cemas dan mendoakan dari rumah, dokter obgyn, para bidan RSIB Yabis Bontang yg udah ngebantu proses persalinan, mengarahkan intruksi dengan lembut dan sabar. Terimakasih utk suami khususnya yg udah ngejagain selama hamil, cerewet soal makanan dan bener2 berani melihat langsung persalinan anak pertama kita. Proud of you, Pa! Anjani bangga sama kamu! .

Melahirkan apapun jalannya, normal atau SC, dimanapun tempat lahirannya, tetep perjuangan. Salut untuk para ibu! ?

Anggi,

seorang ibu

Menghitung Hari


Hari ini si janin aktif banget di dalam perut, terasa banget dari awal bangun tidur sampai ngetik caption ini. Kalo kata yg udah pengalaman sih si janin lagi ‘nyari jalan’ ? Entah ini sudah masuk minggu ke berapa. HPL nya sih akhir januari, terakhir kontrol 2 minggu lalu sih mundur lagi jadi awal februari. Dan belum kontrol lagi, rasa bosan aja gitu udah nggak sabar pingin lahirin aja. Jalan pagi dilakoni tiap pagi kalo cuaca bersahabat, sambil sugesti ke janin biar lekas keluar ?

.

Juga nih dapet larangan dari keluarga jawa,, nggak boleh pake emas biar si janin cepet keluar. Mitos atau fakta ya?

.

Untuk mencari tahu, aku inget tentang alasan ilmiah mengenai larangan laki-laki memakai emas. Dan aku pun memperoleh jawaban yang bisa membenarkan pernyataan diatas.

.

Di dalam tubuh wanita zat emas bisa saja masuk dan kemudian mengalir bersama darah. Namun zat emas tidak akan mempunyai dampak buruk pada tubuh wanita tersebut. Hal itu dikarenakan zat emas tersebut akan dibuang bersama dengan darah haid /menstruasi. Sedangkan pada saat hamil, wanita tentunya tidak mengalami proses menstruasi, sehingga zat-zat emas yang terserap tubuh tidak dapat dibuang. Zat asing yang masuk kedalam tubuh tersebut kemungkinan akan mengganggu kesehatan tubuh kita.

.

So, aku ikutin larangan tsb, menghindari penggunaan emas sebagai salah satu pencegahan agar tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan terutama pada kesehatan  janin, karena menurut penelitian zat tersebut juga dapat masuk ke aliran darah. Nggak ada salahnya kan nurut sama yg udah berpengalaman? Bismillah ☺☺

Galau nya Hamil Anak Pertama

Baby A ?

Hamil pertama ini kadang kadang bikin saya was was. Was was kalo gizi buat jabang bayi nggak tercukupi. Apa pasal. Sejak hamil ini saya lebih sering makan diluar atau delivery order, yang otomatis makanan itu itu aja, nggak tahu bersih apa enggak. Pokoknya perut kenyang itu aja. Karena hawa dirumah kalo makan sendirian itu nggak enak, dalam artian saya dan suami beda selera. Misal, nyambal tahu tempe aja beliau nggak doyan. Jadi lama lama saya keikut malas sarapan lha wong nyambel kan enak kalo ada temennya toh, berasa makannya hehe.

Hamil pertama ini sungguh rasanya saya manja sekali kalo soal perdapuran. Alhasil di trimester tiga masuk 35 minggu ini BB saya turun 2 kilo, dari 64kg ke 62kg. Saya jarang makan nasi. Makan sedikit udah begah banget, kayak heart burned. Tapi alhamdulillah BB janin naik, udah nyampe 2,4 kg bila tidak salah taksir usg. Kata dokter sih nggak apa apa, sudah masuk BB minimal bayi siap untuk lahir. Tapi kembali lagi ke saya, rasanya saya merasa bersalah nggak ngasih asupan bergizi tinggi. Padahal pun saya sudah konsumsi susu hamil dan makan buah-buahan. Mungkin faktor heart burned tadi ya, kalo udah kenyang, lalu cepat lapar, jadi malas makan lagi. Kudu dipaksa. Suami sempat ngomel karena aku susah makan. Dan beliau pasti komentar, masak sudah masuk 9 bulan perutmu kecil gitu aja ? Lalu saya balas, ‘lah ini hamil manusia bukan samson’. Saya kuatir kalo jabang bayi terlalu besar beratnya nanti susah keluarnya. Minum suplemen dari dokter pun enggak. Saya ganti sama sari kurma, madu, susu. Saya bukan tipe orang yang ‘lurus’. Lagipula saya nggak doyan suplemen berbentuk kapsul, kenyil kenyil gitu ?

Balik lagi saya kadang kadang mbrebes mili, sambil elus elus perut. ‘Maafin mama belum bisa ngasih terbaik’ ? dan dia gelenjot manja. Semoga dia baik baik aja, sehat terus sampai lahir ke dunia. Itu saja doa saya. Btw itu foto Usg pertama kali dia menampakkan wajahnya, seperti lagi bobo nyenyak banget ☺ Mirip siapa ya hehehe.. Kalo saya perkirakan sih mirip bapaknya, dari gaya tidur dan bentuk bibir. Semoga kalo baby A lahir, saya bisa kasih asupan terbaik untuknya, terutama dari ASI. Ah, mama kangen kamu Nak, ingin segera bertemu.

Anggi

Baby ‘A’

Alhamdulillah nggak terasa banget udah di penghujung tahun 2016, dan di bulan akhir kehamilanku yang sudah masuk 36 week, yeay ☺ Rasanya baru kemarin ngerasain mabuk, muntah, nyium bau dikit nggak bisa, dan intake makanan berkurang. Ah, bulan bulan berlalu begitu cepatnya. Sekarang sudah masuk masa nya kaki bengkak, napas gampang ngos ngosan, duduk salah, tidur salah karena yang di dalam sudah besar, sudah bisa ‘protes’ dan gerakan nya muakin kenceng hihi. Tiap pagi mulai kurajinin senam hamil dan squat biar si bayi cepat masuk panggul. Yah meskipun godaan malas tetep ada, misal nih ya dikit dikit bawaan pingin rebahan, mungkin efek cepet capek ya.

Selain persiapan fisik, nama calon anak juga udah aku siapin bahkan jauh hari, sekitar bulan 5 kehamilan. Semangat banget ya hehe. Nama ‘A’ di atas adalah nama pemberian dari mbah nya bayi. Beliau menyarankan nama itu karena jarang ditemui dan sudah jarang orang pake, semacam unik lah. Kemudian aku rangkai nama itu jadi 4 kata, campur bahasa Jawa – Sanskerta dan Arab. Nyari nama nya pun cukup dari hasil googling. Sempat download aplikasi nama bayi dan cari dari buku, tapi kurang sreg di hati. Dan nama Arshi itu adalah singkatan dari huruf depan masing-masing nama nya ? bisa jadi panggilan atau enggak. Yang jelas nama Arshi tetep mengandung arti. Menurut bahasa Arab, bahwa Arshi atau Arsy itu berarti seorang yang tinggal di surga atau singgasana. Berharap anakku nanti jadi penolong orang tua nya di surga, aamiin. Agak mirip nama artis ya. Tapi jujur aku suka banget nama Arshi, jauh sebelum anak artis itu lahir, karena makna nya ☺☺

Kutunggu kelahiranmu di dunia, Nak !

Anggi

Pengalaman Trimester Pertama

Alhamdulillah akhirnya lolos ujian Trimester Pertama yang dilewati penuh dengan drama 😀 Usia kandunganku saat ini sudah mencapai 12 minggu. Kali ini aku bakalan sharing aja tentang pengalamanku di trimester pertama ini. Semoga bisa bermanfaat ya readers.

Seperti di tulisan sebelumnya, setelah muncul garis dua di tespack, aku dan suami langsung cek usg di RS Amalia Bontang dan diberi resep vitamin folavit untuk penguat kandungan. Aku berharap banget nggak bakalan ada drama di kehamilan pertamaku ini. Aku tetep makan banyak, bahkan sempet loh belanja ikan dan meletetin di rumah gegara lupa minta bersihkan di pasar. Tapi terkadang harapan hanyalah harapan ya. Akhirnya aku merasakan gejala mual dan muntah setelah kehamilanku masuk di usia 6 minggu dan di bulan Ramadhan. Awalnya aku pingin ikut puasa, karena kata dr. Badi kalo kuat ya monggo. Tapi akhirnya nggak kuat juga. 2 jam pasca sahur, asam lambung mulai meningkat 2 kali lipat dan muntahlah. Akhirnya dengan terpaksa aku ‘buka puasa’di jam 7 pagi. Kata suami ya udah nggak apa apa, daripada janin nya nggak berkembang. Kasihan nggak ada asupan gizi. Iya juga sih, pikirku, kan kita yang minta keturunan, udah dikasih ya harus jaga amanah. Dan aku niatin untuk ramadhan tahun ini aku bayar fidyah aja. 

Week 6-7

Aku mulai download aplikasi buku hamil untuk lebih tau perkembangan janin dan mulai searching google tentang alasan kenapa terjadi mual muntah saat hamil, asupan makanan apa yang bagus untuk ibu hamil, dan akhirnya terdampar di salah satu thread diskusi tentang kehamilan BO atau blighted ovum. Wah aku jadi syok. Apalagi di janin 4 minggu kemarin masih terlihat setitik hitam tanda kantung rahim nya dan panjang masih sekitar 1,08cm. Gejala kehamilan BO pun hampir sama dengan gejala kehamilan normal seperti terlambat haid, muntah, pusing serta sembelit. Kehamilan BO pun bisa berujung pada pendarahan dan terancam keguguran apabila janin tidak berkembang. Glek! Aku panik berat, apalagi asupan gizi berkurang saat hamil. Nafsu makan berkurang, jarang minum susu dan vitamin Folavit juga jarang diminum. Duh, bismillah deh janinku selamat. Akhirnya aku menguatkan diri dan hati nunggu sampe beberapa minggu berikutnya untuk kembali usg.

Week 9

Mual dan muntahku rasanya udah nggak bisa ditolerir. Nggak sampe infus sih, tapi tiap mau makan itu rasanya perut udah penuh duluan. Nyium bau makanan nggak bisa. Nyium aroma apapun udah nggak bisa. Rasanya indera penciuman memang dua kali lebih hebat dari biasanya. Rasanya aroma apapun jatuhnya nggak enak. Alhasil udah stop deh yang namanya jalan keluar, lha gimana, kena aroma di penjual buah aja nggak bisa. Yang paling bertahan cuma bau minyak angin. Badan juga makin lama makin nggak enak. Kayak masuk angin. Awalnya cuek dan enak aja kerokan kayak biasa, eh malah dimarahin sama temanku yang udah pengalaman. Akhirnya aku cuma olesin aja pake minyak kayu putih, dan fresh care. 

Udah nyerah dengan keadaan, aku minta antar ke bidan dekat perumahan. Bidan rini. Setelah timbang, hasilnya BB ku turun sekilo sejak gejala muntah, dari 53 ke 52. Pulangnya aku diberi obat mencegah mual dan vitamin mineral. Nggak lupa usg. Sayangnya, usg di bidan rini usg 2D. Kata bidannya udah ada detak jantung. Tapi yang kulihat gelap aja, nggak kelihatan apapun 😀 Pikiranku melayang. Aku cuma fokus ke gimana caranya biar gak mual dan bisa makan dengan nyaman agar gizi janin tercukupi.

Esoknya aku getol banget minumin obat mual nya. Udah kayak ketagihan. Belum satu minggu udah habis obatnya, padahal isi 10 tablet. Vitamin juga baru diminum sebiji.

Week 10

Minggu ke 10 ini aku udah dilarang sama mama untuk konsumsi obat mual, takut nagih. Oiya, anw, sejak hamil minggu ke 6 aku memutuskan untuk pulang ke orang tua, biar ada yang masakin dan merhatiin pola makanku. Karena aku udah nggak bisa kelamaan di dapur, bisa muntah. Alhamdulillah mama juga nggak keberatan, beliau malah seneng karena ada teman ngobrol 😀 aaah manja sekali hamilku ini..

Di minggu kehamilan ini aku meraba hal apa yang bikin aku muntah payah dan apa yang bikin janinku seneng. Hasil analisaku, janin ini mau nya pagi bangun tidur udah isi makanan, apa aja pokok makanan padat kayak roti plus susu, atau kue kue. Makan pun juga nggak boleh terlalu kenyang. Minum pun nggak terlalu penuh satu gelas, minimal setengah gelas tapi sering. Setelah makan atau minum harus duduk tegak, nggak bisa dipake tiduran. Tidur juga udah miring aja, nggak bisa tengkurap hiks. Dan rajin ngajakin ngomong si janin, meskipun mungkin belum denger ya, tapi seenggak nya bisa sugesti ke otak. Jadi, tiap hari aku sering elusin perut. Mau mandi dibisikin, mau makan juga, pokok apa ajalah. Alhamdulillah ada hasilnya sih, muntah mulai agak jarang.

Week 11, day 5 

Aku memutuskan untuk cek usg lagi ke dokter, karena penasaran, dan kehamilan BO masih menghantuiku. Meskipun nggak terjadi pendarahan apa-apa, yaah namanya aja parno. 

Cek usg kemarin pindah dokter, di dr. Khoirul, RSIB Yabis karena lokasi dekat rumah dan katanya sih dokter nya lebih enak kalo ngejelasin. Yah namanya aja cari second opinion lah ya.. 😀 *alasan, bilang aja dokternya cakep*

Aku dapet urutan no 29, karena pendaftaran nya telat pas pasca magrib, tapi alhamdulillah nya bisa masuk ruangan dokter lebih cepat. Dan, hasil usg udah keliatan wujud bayiku secara jelas. Alhamdulillah….air mata juga menetes. Rasanya haru biru setelah tau jawaban atas keparnoanku. Jantung nya udah kedip-kedip. Sayangnya, waktu direkam suara jantung, yang keluar malah suara gemeresek kayak radio. Mungkin belum terlalu kedengaran ya, karena masih kecil banget, masih 4 cm. Dokter nggak ngasih resep obat apapun, termasuk untuk mual. Kata beliau, itu sudah biasa jangan diambil pusing hehe 😀 iya dok, iya.. 

BBku mulai naik 2 kilo, ke 54 kg. Mungkin efek lebaran kemarin ya, kan banyak makanan banget dirumah, rasanya sampe nggak kontrol. Ada es krim, sate ayam, rendang, buah-buahan, belum lagi dapat buras dan coto makassar dari temen 😀 makasih ya udah inget bumil 😀

Dan sekarang mulai kontrol asupan lagi, minimal rajin minum air putih ya. Efeknya bagus banget, jadi sering buang air kecil, dan warnanya putih bening, nggak kuning. Muntah dan mual juga masih berasa, meskipun udah agak berkurang. Yang penting menghindari penyebab yang bikin muntah aja. 🙂

Ini dia penampakan si ‘utun’ ku 11 week.

Assalamualaikum 🙂 me, 11 week

Perkiraan perkembangan utun 11 week
Perkiraan utun 12 week 🙂

Sekali lagi, postingan ku ini cuma ingin membagi ceritaku ya. Bukan maksud berlebihan, kelewat senang, atau ada yang beranggapan nggak menghargai yang belum diberi kesempatan? Aku hanya membagi informasi tentang pengalamanku, sambil saling mendoakan 🙂 Next aku bakalan posting tips kehamilan ala aku ya 🙂 See you ^^

Anggi,

-menulis itu menolak lupa-

Alhamdulillah Tiket H

Saya ini tipe orang yang nggak bisa nyimpan kabar bahagia. Mau nya kalo ada kabar bagus itu rasanya seluruh dunia harus tau. Bukan, bukan pamer. Biar banyak aja yang ngedoain. Daripada disuudzonin macam-macam, sama aja toh ngebantu orang berpikiran buruk ke saya. Meskipun nggak menutup kemungkinan ngabarin bahagia pun ada aja yang sirik atau senewen. Yah, itu urusan dia lah ya.. Yang penting saya niat nya bukan mau pamer. Cuma mau didoain, itu aja. Toh saya ngasih kabar nya juga nggak neko-neko (menurut saya). Saya bukan tipe yang pamer kalo dibelikan sesuatu sama suami terus update sosmed, bukan tipe yang pamer kemesraan sama suami. Kalo hal begitu jelas aslinya bukan termasuk bahagia ya… itu sih norak bin emak-emak cari perhatian.

Nah jadi gini kabar bahagia nya. Alhamdulillah bulan ini saya diberikan titipan luar biasa dari Allah mendapat tiket H, setelah menunggu 10 bulan dari pernikahan saya. Alhamdulillah segala usaha yang pernah saya coba sampe bosen pun berbuah manis. Mulai dari program hamil, dll. Jadi ceritanya saya sudah telat M. Hpht saya 26 April. Saya tunggu bulan Mei, kok M saya nggak muncul. Ya sudah. Memang kadang M saya ini suka mundur. Mundur sehari atau dua hari. Saya tunggu lah tiga hari lagi M saya, sambil merangsang M datang, saya minum jamu yang beli di pasar dekat rumah. Iya, saya beli sebotol aqua tanggung seharga 12 ribu jamu kunir asam. Selanjutnya seperti biasa, saya senam Zumba, jalan malam sama suami sampe tengah malam, dan yaah seperti nggak ada yang aneh terjadi di tubuh saya.

Nah, 5 hari kemudian setelah drama minum jamu itu, M nggak kunjung datang. Curiga. Siang ba’da dhuhur saya ambil Tespack sisa beberapa bulan lalu, merk Onemed. Masih sisa 3 biji kalo nggak salah. Dang! Muncul garis dua! Tubuh saya merinding nggak karuan. Antara percaya nggak percaya. Di kamar mandi gemetar sendiri. Maklum sendirian di rumah. Lalu saya kabari suami saya lewat BBM. Beliau cuma jawab, itu apa ya sudah berdoa aja. Hiks, nggak puas sama jawabannya. Guling-guling kasur lah saya. Saya belum mengabari ibu saya, karena takut kecewa seperti beberapa bulan lalu. Toh baru Tespack satu biji. Sisa dua biji saya eman-eman untuk tes lagi besok pagi waktu bangun tidur. Karena waktu akurat nya kan saat bangun tidur Hcg nya masih tinggi. Akhirnya saya bagi lah berita kebahagiaan di antara kegalauan saya ke teman SD saya yang juga sudah mendapat tiket H di 5 bulan lalu, Iyuz namanya. Saya Line dia, curhat tentang drama siang ini. Dia seneng karena akhirnya saya positif dan dia mulai berbagi pengalaman pertama hamil nya yang hampir mirip sama saya, nggak sadar sama sinyal tubuh sendiri!

Besok pagi nya saya coba tes pack lagi waktu bangun tidur. Garis dua lagi. Lalu saya coba mengabari ibu saya, biar didoain kali aja beneran hamil. Beliau seneng, sampe mberebes mili :’) saya juga. Lalu saya memutuskan untuk pergi cek ke dokter kandungan malam itu, setelah berselisih dengan suami yang mau nya ke dokter kandungan tanggal 26 Juni aja. Kelamaan, bang, kelamaan. Saya memutuskan untuk cek usg ke dr. Badi, dokter di salah satu rumah sakit Bontang yang bekerjasama dengan asuransi Jasindo kantor suami saya. Kalo kata si Iyuz teman SD saya, saya ke sana cuma karena dokter nya ganteng kwkwkw. Eh tapi iya sih, dokternya ganteng hahaha dasar wanita. Yaa kali aja nanti anakku ketularan. Ketularan jadi dokter.

Saya dapet urutan nomer 20, dan baru panggilan jam 10 malam. Ngantuk bos. Setelah melakukan pendaftaran dan mengisi kartu berobat serta timbang, masuklah saya ke ruangan dokter. Sedihnya, saya baru tau kalo cek usg harus minum banyak dulu, dan sampai rasa kebelet pipis baru dokternya bisa gampang deteksi rahim nya. Lha, saya malah buang air waktu mau berangkat hiks. Rahim saya kemarin agak ditekan. Beruntung kantung rahim saya terlihat, nggak sampai usg transvaginal yang saya anggap menyeramkan itu. Usia kehamilan saya sudah 4 minggu ternyata, dengan panjang 1,08 cm. Saya diberi resep vitamin Folavit untuk penguat rahim. Lalu saya kabari ibu saya yang menanti di rumah. Selamat, sudah mau jadi Mbah 😀

Lalu esok hari nya saya mulai kabari sahabat saya yang menetap di Surabaya dan sahabat saya yang lagi umroh serta tetangga dekat saya. Minta doa. Saya kabari keluarga di Jember dan Bantul. Minta doa. Saya mulai posting ke instagram. Minta doa. Saya mulai posting di facebook. Minta doa. Dan saya dan calon anak saya masih sama-sama berjuang sampai hari ini. Saya berjuang memenuhi kebutuhan gizi calon anak saya agar tercukupi. Makan sedikit-sedikit tapi sering. Saya mulai browsing makanan sehat lain yang mengandung asam folat, mulai rajin minum air putih dan nggak senam zumba lagi. Saya juga mencari doa dan wirid khusus ibu hamil, agar selalu diberi kemudahan sampai persalinan. Iya, saya jihad. Alhamdulillah nya sampai hari ini saya belum merasakan mual dan teler yang berat. Mungkin kondisi tiap orang beda-beda ya. Saya harap saya dan calon anak saya sehat, nggak sampe teler. Kalo bisa ‘ngebo’ kata orang Jawa 😀

Doakan ya, karena doa adalah kalimat terindah daripada sebuah kata ‘Selamat’:)

13385892_1738947066382193_791948109_n

-Anggi-

[5 Juni 2016]